September 17, 2019

Cerita Malam Minggu Kemarin

Dava, Kevin, Nindy, & Saya

Kali ini, aku ingin bercerita sedikit. Momen malam minggu kemarin. Ya. Sederhana saja kenapa aku ingin menuliskannya. Jadi begini awal ceritanya sobat.

Sabtu 14 September 2019 adalah hari yang sudah ku siapkan jauh-jauh hari untuk bertemu dengan sahabatku semasa kuliah. Sudah lama aku tidak berjumpa mereka. Kami meet-up di Kokas saat makan siang hingga menjelang sore hari. Aku memang sudah punya lis acara setiap akhir pekan. Maka, untuk sekadar bertemu sahabat ataupun keluarga di Jakarta harus diagenda dari jauh-jauh hari. 

Menjelang maghrib, pulang dari Kokas, saya naik ojol menuju Halte Kuningan Barat. Melanjut naik Transjakarta, lalu turun di Jembatan Dua. Dari halte, saya berjalan menuju ke masjid di depan Taman Kalijodo untuk sholat sebentar. Saya melihat ada bus tingkat rute ke Monas di seberang. Ide mendadak muncul tiba-tiba. 

Sampai di rumah kakakku. Mereka semua sedang bersantai di ruangan bawah. Lalu aku salim, karena sudah hampir sebulan lebih tidak mampir kesini, dan ponakanku pun ikutan salim. Perutku pun lapar. Akhirnya aku mengajak ponakanku Dava untuk jalan keluar. Rencana awal kita mau ke Monas naik bis tingkat. Keluar dari rumah, ada Kevin (teman Dava) di depan rumah. Kakakku menawarkan Kevin untuk ikut ke Monas. Dia langsung masuk ke rumahnya dan mengganti bajunya yang sebelumnya berantakan. Ia baru saja pulang setelah menginap di rumah teman sekolahnya di Cengkareng.

Kami berjalan ke halte di depan Taman Kalijodo. Sudah tidak ada bus di halte. Kami menunggu-nunggu bus yang tak kunjung datang. Sampai pun adzan isya berkumandang. Kami sholat lebih dahulu. Selesainya kembali ke halte. Bus tingkat pun tidak nampak sama sekali. Mungkin sudah bukan jam operasionalnya. 

Saya menawarkan dua anak itu untuk ke Mall Season City saja. Mereka pun menurut. Kami pergi naik G****ar. Hanya sekitar 10 menit saja karena memang dekat jaraknya. Sampai disana, saya mengajak keponakan tertua, Nindy (Kakaknya Dava) untuk menyusul. Dia pulang bekerja pun langsung menyusul. 

Saya bersama dua bocil ini berkeliling mall. Ke lantai atas melihat-lihat ada kuliner apa saja disana. Lalu dua bocil ini mengajak main time-zone. Tapi saya mengajak mereka makan karena saya merasa lapar. 

Setelah bertemu Nindy, kami pun makan di So***ia. Dava dan Kevin menikmati momen malam minggu itu. Ini pun kali pertama saya menghabiskan malam minggu bersama mereka di luar. 

Saat memesan makanan, Dava memilih makanan yang pernah ia makan dulu bareng Nindy. Sedangkan Kevin ikut saja apa pilihan Dava. Mereka memang karib. Pernah dulu, saya ingat sekali saat Kevin selalu membuntut kemana saja Dava main. Mungkin sejak itu pula lah mereka akrab. Dimana ada Dava, disitu ada Kevin. Dava pernah mengeluh karena Kevin selalu ada di sampingnya. 

Saya informasikan fisik dua bocah ini. Dava berbadan gempal, sedang Kevin badannya kurus. Dava berkulit gelap, Kevin berkulit terang. Seperti kopi dan susu ketika mereka duduk bersampingan. Mereka, teman juga tetangga karib. 

Mereka ibarat kakak beradik lah. Pas naik eskalator, Kevin memprotes Dava untuk tidak melihat ke bawah nanti bisa jatoh (sisi luar). Dava tak mau kalah memprotes tingkah laku Kevin. Jadi kakinya dinaikkan ke atas kursi. Dava memprotes, "kakinya gak sopan. emangnya di warteg". Lalu saat saya membayar pesanan di meja kasir. Tahu-tahu mereka membuntuti saya dari belakang. Ada-ada saja dua bocah ini. Memenuhi area kasir saja pikirku. Apalagi Kevin celamitan memegang mesin EDC, mungkin dia penasaran.

Ketika makanan datang, Kevin bilang, "nasinya kok dikit". 
Dava langsung menimpali,"itu mah banyak, karena dicetak aja". 

Iya jadi nasinya berbentuk gitu kan ya. Lalu kami pun berdoa masing-masing. Kevin membaca doa paling kencang. Lalu ketika makan, mereka menyantap makanan dengan segera. Saya pun memperhatikan dua bocil yang ada di hadapan saya.

"Hari ini menyenangkan!", seru Kevin sambil tersenyum. 
Kami semua bertanya heran, "emang kenapa?". 
"Iya, soalnya malam ini makan gratis!", jawabnya. 

Sesederhana itu alasanku menuliskan kisah malam minggu kemarin. Tak lain karena ucapan Kevin yang sedikit indah terdengar.

Singkat cerita, orang tua Kevin itu sudah berpisah. Dia tinggal bareng kakek-neneknya yang juga sekarang sudah berpisah. Sesekali ibunya pulang ke rumah untuk melihatnya. Katanya sih ngekos kerja entah dimana. Sekarang, ayah baru (pacar ibunya) berlaku baik ke Kevin. Suka mengasih uang jajan. Hidup Kevin di masa kecilnya mungkin agak keras, tanpa adanya dukungan kasih sayang kedua orang tua. 

Hal yang lumrah memang. Sebab aku pun punya ponakan yang mengalami kisah yang sama. Teriris hati si empati melihat kenyataan anak-anak broken-home. Sebab saya sangat benci sekali perceraian, ujungnya yang jadi korban adalah anak-anak yang masa depannya masih panjang. Terlepas apa masalah orang tua setelah menikah mengikat janji untuk bersama sampai selamanya, nyatanya, rapuhnya pernikahan siapa yang menyangka. 

Ini pula alasan saya masih berserah dan juga masih mencari orang yang benar-benar tepat untuk mengisi hari-hari saya sampai akhir nanti. Bukan seperti membeli kacang, tidak main-main, apalagi serampangan. Asal cocok, nyambung, nyaman lalu menikah. Tidak hanya itu. Tapi ada hal lain yang harus disamakan, visi, misi, tujuan, dan cita-cita kehidupan yang sama-sama ingin diraih. Saling mendukung, saling memahami, saling menjaga, saling mengalah, saling mengisi satu sama lain. Tidak ada yang benar-benar sempurna memang. Tapi setidaknya kriteria itu harus tetap ada. Sama seperti filosofi Jawa; bobot, bibit, bebet. 

Selesai makan, kami mampir sebentar di P***a**t untuk kakak-dan iparku di rumah, Lalu saya memesan G**b lagi. Bertemu dengan driver berkaki palsu. Ia bercerita kakinya diamputasi karena ditabrak lari tahun 90-an saat tinggal di Sumatera. Sekarang si bapak tinggal di Serpong. Namun ia jarang pulang. Tidur di sekitaran Taman Grogol. Ngegrab sampai larut malam. Begitu terus sampai malam lagi, katanya.

Di sepanjang jalan, kami banyak mengobrol. 
"sudah punya anak berapa mas?", tanyanya. 
"hm belum pak, ini keponakan saya yang di belakang". 
Si bapak terheran, "loh sudah umur berapa mas". 
"25 pak".
"segera lah mas. kan sudah pas waktunya. sudah ada calon? jangan lama-lama mas. nunggu apa lagi?", katanya.
"iya pak segera, insyaa allah".
"tahun ini mas?", masih belum puas dengan jawaban.
"belom pak, doakan saja".

Saya pun terdiam. Sudah hampir sampai juga. Teralihkan dengan pembicaraan lain. Di akhir, si bapak menawarkan pengisian uang elektronik. "Saya baru aja transfer dari mobile banking, terus tidak pegang uang tunai". Si bapak tetap menawarkan, bayarnya ditransfer saja. Saya pun mengiyakan. Menyelesaikan transaksi dan menunjukkan bukti transfer. Ia memakai kacamata plusnya untuk melihat bukti transaksi di gawai saya. 

Sampailah kami di jalan dekat gang tempat tinggal kakakku. Kami turun, lalu berjalan menyusuri gang. Sampai depan rumah. Kevin melongos langsung masuk ke rumahnya. Kami pun masuk ke rumah Dava. Usai pula cerita tentang malam minggu kemarin. Saya hanya ingin mengenang momen lewat tulisan ini. Sebab otak saya tak lagi mampu mengingat memori jangka panjang. Sekian dan terima kasih. 

Semoga banyak pelajaran yang bisa diambil. Kisah rahasia tidak lama lagi akan terbuka satu per satu.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Instagram