Translate

Oktober 09, 2019

Akhir Pekan, Yuk Jelajah ke Sukabumi (Bagian I)

Situ Gunung sat diguyur hujan gerimis
Halo kawan-kawan semua. Kali ini saya ingin berbagi cerita mengapa saya pergi berlibur ke Sukabumi? Alasannya tidak lain, dekat dengan Jakarta yang tidak menyita waktu banyak. Pun Sukabumi mempunyai banyak destinasi yang patut dikunjungi. Sebenarnya saya tertarik dengan Kampung Tradisional Ciptagelar sejak lama, selain ke Geopark Ciletuh dan Situ Gunung.

Inilah jadwal yang saya buat sebelum berangkat. Jadi kami sudah menyewa motor di kota dan penginapan selama dua hari disana. Oh ya, saya pergi bersama teman kantor saya, Mades.

Sabtu, 13 April
Kegiatan
04.30 - 05.00
OTW ke St. Tanjung Barat
05.32 - 06.30
OTW ke St. Bogor by KRL
07.50 - 10.00
OTW ke St. Sukabumi
10.30 - 11.30
Keliling Kota (Kulineran)
11.30 - 12.30
OTW Ke Situgunung
12.30 - 17.00
Jembatan Gantung, Curug Sawer, Danau Situgunung
17.00 - 19.30
OTW Ke Penginapan Mahessa Indah
Minggu, 15 April
Kegiatan
05.00 - 06.49
Bangun, siap2 jalan ke Ciptagelar
07.00 - 09.00
Kampung Adat Ciptagelar
09.00 - 10.30
OTW Ke Geyser Cisolok
10.30 - 11.30
Geyser Cisolok
11.30 - 13.00
OTW Curug Cimarinjung
13.00 - 14.00
Curug Cimarinjung
14.00 - 15.45
OTW Curung Awang
15.45 - 16.45
Curug Awang
16.45 - 17. 30
OTW Puncak Darma
17.00 - 18.00
Sunset Puncak Darma
18.30 - 21.00
OTW Vermisse Guest House
05.15 - 07.18
Pulang Ke St. Bogor

Kami berangkat dari mess kantor selepas subuh. Sekitar jam setengah enam pagi. Dari St. Tanjung Barat dilanjut naik KRL ke St. Bogor. Sampai di Bogor sudah hampir pukul delapan. Ada kereta ekonomi sedang bersiap-siap di salah satu peron.

Saya menanyakan ke petugas. Tak dinyana, Stasiun Paledang itu ada di seberang stasiun pemberhentian KRL. Jadi dua stasiun ini beda lokasi. Deg-degan dong. Terburu-buru kami langsung lari keluar stasiun, naik JPO dan turun lagi menuju kesana. Di atas JPO, saya melihat kereta sudah melintasi perlintasan sebidang dari Stasiun Bogor. Saya memacu lari lebih cepat lagi.

Ngos-ngosan betul. Untung masih beruntung, sistem tiketnya mengalami gangguan sehingga antrean di pintu masuk masih disesaki penumpang. Setelah lima menit, kami sudah berada di atas kereta yang juga langsung berangkat terlambat pukul 8 pagi.

Pemandangan di sekitaran cukup menarik. Rumah-rumah di atas perbukitan. Aliran sungai dan  gunung-gunung. Bentang alam persawahan yang tampak dari jendela kereta. Jarak selama dua jam, tibalah kami di Stasiun Sukabumi. Perjalanan yang cukup singkat sekali bukan. Ehm tunggu kawan. Beginilah cerita destinasi yang ada di Sukabumi kami mulai.

1. Jembatan Gantung Situ Gunung
Potret jembatan terpajang di Asia Tenggara 
Jarak tempuh dari stasiun sejauh 15 kilometer menuju ke utara. Dengan mengendarai motor yang sudah kami sewa dan berbekal aplikasi penunjuk arah. Nah jadi gini kawan, gak enaknya pakai Gmaps itu kadang alternatif jalan yang dipilih gak selamanya benar juga. Sama seperti yang kami alami, penunjuk arahnya malah melewati jalan pedesaan berkontur naik turun. Sebagian jalanan rusak, justru memperlama waktu tempuh. Sudah hampir satu jam, kami belum juga sampai. Mades masih fokus menarik gas motor. Tersisa sekian kilometer, hujan menyambut kedatangan kami. Hujan membasahi bumi sangat deras. Kami berhenti di bengkel seberang Kantor Desa Gede Pangrango. Menunggu hujan reda.

Jembatan Gantung Situ Gunung merupakan jembatan gantung terpanjang di Asia Tenggara. Berada di dalam kawasan TN Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Sukabumi, Jawa Barat. Jembatan ini membentang sepanjang 243 meter, dengan lebar 1,8 meter, sedang ketinggiannya mencapai 161 meter. Sebagai informasi pula, jembatan ini dibangun hanya dalam waktu empat bulan saja loh. Dilakukan penduduk lokal dan tim ahli dari Bandung. Tanpa menggunakan alat berat konstruksi alias dibuat secara manual.

Sampainya kami disana, kabut tebal melingkupi ruang atas kawasan tersebut. Memasuki Taman Nasional, pengunjung harus membayar tiket sebesar Rp18.500 saat akhir pekan. Kemudian untuk melewati jembatan gantung, kita harus membeli tiket lagi seharga Rp50.000. Sebenarnya pengunjung bisa melalui jalur darat untuk menuju ke Curu Sawer tanpa melewati jembatan gantung.

Dengan harga tersebut, kita mendapat jajanan tradisional seperti pisang, singkong rebus, dan minuman hangat, yang bisa dinikmati di area teater. Sembari menonton pertunjukkan seni tradisional yang dipentaskan. Saat kami kesana, orang memakai topeng menari-nari diiringi alat musik nuansa Sunda. Lalu pengunjung ada pula yang ikut menari di atas panggung.

Untuk melewati jembatan gantung, kita akan diberikan safety harness. Tiket masuk akan dicek terlebih dahulu. Menginjakkan kaki di atasnya, otomatis goyangan jembatan lumayan terasa. Bertapak kayu pada dasarnya, lalu pagar pembatas terbuat dari kawat hampir setinggi 1,5 meter pada sisi kanan kirinya, dengan kawat baja yang mengait ke sling baja sebagai batang penggantung.

Sangat tinggi sekali jika melihat ke bawah. Dasarnya pun tidak terlihat. Sebab dedaunan menutup rapat. Ya betul, pohon-pohon hijau tropis sangat lebat tumbuh subur. Sisa kabut di antara perbukitan masih nampak seputih awan. Sangat alami sekali pemandangannya. Serba hijau, ah alam memang selalu mempesona.

2. Curug Sawer
Pesona Curug Sawer yang menjadi sorotan pengunjung TNGGP
Tidak jauh dari lokasi jembatan, kami menyusuri jalan tanah setapak. Sebagian ada yang berbatu. Melewati area perkemahan/glamping. Menyebrangi jembatan bambu. Turun terus sampai ke bawah. Memutari area warung. Berjalan terus sampai ke ujung. Pepohonan masih banyak ditemui di sekitaran. Jarak menuju curug dari pintu masuk sejauh 1,7 kilometer, namun terpangkas 500 meter karena melewati jembatan. Kurang lebih membutuhkan waktu hampir 15 menit dari jembatan.

Sampailah kami di aliran sungai di mana Curug Sawer berada. Memiliki ketinggian 35 meter dengan elevasi 1025 mdpl. Aliran airnya kecil pada hulunya, jatuh deras membuyar ke bawah. Genangan air di bawahnya berwarna coklat sebab sehabis hujan. Batu-batu besar mengumpul di sebelah kiri. Ya, ada jembatan kecil di dekat curug ini. Sebagian pengunjung menikmati curug ini dari titik tersebut.

3. Situ Gunung
Situ Gunung dikelilingi pepohonan yang tumbuh subur di TNGGP
Untuk sampai ke danau ini, kita bisa menuju ke lokasi parkiran yang berjarak 600 meter dari pintu gerbang. Dari tempat parkir, kita bisa berjalan kaki melewati jalan beton sejauh 500 meter. Jalanan menurun. Danaunya ada di bawah sana.

Sampai di bawah, awan pekat dibumbui kabut yang tampak di atas pepohonan membuat suasana menjadi syahdu sekali. Hanya tersisa sedikit pengunjung yang ada disana. Kami berhenti di pelataran danau. Berdamai dengan ekosistemnya.

Ada perahu bambu, perahu bebek, jembatan apung menuju ke daratan di tengah danau. Saya berjalan melewati jembatan apung melihat sekitaran. Sekumpulan pohon cemara menyapa dengan daunnya. Rintik hujan menyambut saya juga juga saudaranya disana. Tetesannya membentuk pola yang dramatis saat mereka bertemu di antara permukaan air. Jelasnya, kabut pun tidak kalah menunjukkan eksistensinya kepada kami. Entah darimana, mereka keluar di antara pohon-pohon menguap ke udara. Ah Tuhan, damai sekali.

Lalu hujan perlahan mengguyur deras. Saya dan Mades semakin larut berada disana. Kalian tahu kawan, ada seorang bapak di atas bambu apungnya menebar jala. Oh ya kawan, jadi danau ini sendiri cukup luas. Di kelilingi perbukitan dengan pohon-pohon entah apa saja.

tunggu dulu ya kawan, bersambung ke cerita selanjutnya.....

September 17, 2019

Apa Yg Dicari

Terlahir aku bernafas
Tumbuh aku berjalan
Berkembang aku berlari
Seperti bulan dan matahari

Mencari-cari arti
Di bayang kelabu jiwaku
Hentakkan gelora nestapa
Kemana dunia kan membawa

Semua fana dan distorsi
Menyerang membabi buta
Gelap relung batinku
Rabun mata hatiku
Sakit sudah ragaku

Tentang apa yang dicari
Makna kisah yang panjang
Bergelut dengan waktu
Menyesal kan sia-sia

Apa yang dicari
Sakit menggerogoti
Hampir seluruh tubuhku
Rapuh seakan mati


Ditulis 9 September 2019. Di atas pembaringan menuju dini hari saat mata, otak, hati dan tangan belum mau beristirahat dari gemerlapnya dunia ini. 

Cerita Malam Minggu Kemarin

Dava, Kevin, Nindy, & Saya

Kali ini, aku ingin bercerita sedikit. Momen malam minggu kemarin. Ya. Sederhana saja kenapa aku ingin menuliskannya. Jadi begini awal ceritanya sobat.

Sabtu 14 September 2019 adalah hari yang sudah ku siapkan jauh-jauh hari untuk bertemu dengan sahabatku semasa kuliah. Sudah lama aku tidak berjumpa mereka. Kami meet-up di Kokas saat makan siang hingga menjelang sore hari. Aku memang sudah punya lis acara setiap akhir pekan. Maka, untuk sekadar bertemu sahabat ataupun keluarga di Jakarta harus diagenda dari jauh-jauh hari. 

Menjelang maghrib, pulang dari Kokas, saya naik ojol menuju Halte Kuningan Barat. Melanjut naik Transjakarta, lalu turun di Jembatan Dua. Dari halte, saya berjalan menuju ke masjid di depan Taman Kalijodo untuk sholat sebentar. Saya melihat ada bus tingkat rute ke Monas di seberang. Ide mendadak muncul tiba-tiba. 

Sampai di rumah kakakku. Mereka semua sedang bersantai di ruangan bawah. Lalu aku salim, karena sudah hampir sebulan lebih tidak mampir kesini, dan ponakanku pun ikutan salim. Perutku pun lapar. Akhirnya aku mengajak ponakanku Dava untuk jalan keluar. Rencana awal kita mau ke Monas naik bis tingkat. Keluar dari rumah, ada Kevin (teman Dava) di depan rumah. Kakakku menawarkan Kevin untuk ikut ke Monas. Dia langsung masuk ke rumahnya dan mengganti bajunya yang sebelumnya berantakan. Ia baru saja pulang setelah menginap di rumah teman sekolahnya di Cengkareng.

Kami berjalan ke halte di depan Taman Kalijodo. Sudah tidak ada bus di halte. Kami menunggu-nunggu bus yang tak kunjung datang. Sampai pun adzan isya berkumandang. Kami sholat lebih dahulu. Selesainya kembali ke halte. Bus tingkat pun tidak nampak sama sekali. Mungkin sudah bukan jam operasionalnya. 

Saya menawarkan dua anak itu untuk ke Mall Season City saja. Mereka pun menurut. Kami pergi naik G****ar. Hanya sekitar 10 menit saja karena memang dekat jaraknya. Sampai disana, saya mengajak keponakan tertua, Nindy (Kakaknya Dava) untuk menyusul. Dia pulang bekerja pun langsung menyusul. 

Saya bersama dua bocil ini berkeliling mall. Ke lantai atas melihat-lihat ada kuliner apa saja disana. Lalu dua bocil ini mengajak main time-zone. Tapi saya mengajak mereka makan karena saya merasa lapar. 

Setelah bertemu Nindy, kami pun makan di So***ia. Dava dan Kevin menikmati momen malam minggu itu. Ini pun kali pertama saya menghabiskan malam minggu bersama mereka di luar. 

Saat memesan makanan, Dava memilih makanan yang pernah ia makan dulu bareng Nindy. Sedangkan Kevin ikut saja apa pilihan Dava. Mereka memang karib. Pernah dulu, saya ingat sekali saat Kevin selalu membuntut kemana saja Dava main. Mungkin sejak itu pula lah mereka akrab. Dimana ada Dava, disitu ada Kevin. Dava pernah mengeluh karena Kevin selalu ada di sampingnya. 

Saya informasikan fisik dua bocah ini. Dava berbadan gempal, sedang Kevin badannya kurus. Dava berkulit gelap, Kevin berkulit terang. Seperti kopi dan susu ketika mereka duduk bersampingan. Mereka, teman juga tetangga karib. 

Mereka ibarat kakak beradik lah. Pas naik eskalator, Kevin memprotes Dava untuk tidak melihat ke bawah nanti bisa jatoh (sisi luar). Dava tak mau kalah memprotes tingkah laku Kevin. Jadi kakinya dinaikkan ke atas kursi. Dava memprotes, "kakinya gak sopan. emangnya di warteg". Lalu saat saya membayar pesanan di meja kasir. Tahu-tahu mereka membuntuti saya dari belakang. Ada-ada saja dua bocah ini. Memenuhi area kasir saja pikirku. Apalagi Kevin celamitan memegang mesin EDC, mungkin dia penasaran.

Ketika makanan datang, Kevin bilang, "nasinya kok dikit". 
Dava langsung menimpali,"itu mah banyak, karena dicetak aja". 

Iya jadi nasinya berbentuk gitu kan ya. Lalu kami pun berdoa masing-masing. Kevin membaca doa paling kencang. Lalu ketika makan, mereka menyantap makanan dengan segera. Saya pun memperhatikan dua bocil yang ada di hadapan saya.

"Hari ini menyenangkan!", seru Kevin sambil tersenyum. 
Kami semua bertanya heran, "emang kenapa?". 
"Iya, soalnya malam ini makan gratis!", jawabnya. 

Sesederhana itu alasanku menuliskan kisah malam minggu kemarin. Tak lain karena ucapan Kevin yang sedikit indah terdengar.

Singkat cerita, orang tua Kevin itu sudah berpisah. Dia tinggal bareng kakek-neneknya yang juga sekarang sudah berpisah. Sesekali ibunya pulang ke rumah untuk melihatnya. Katanya sih ngekos kerja entah dimana. Sekarang, ayah baru (pacar ibunya) berlaku baik ke Kevin. Suka mengasih uang jajan. Hidup Kevin di masa kecilnya mungkin agak keras, tanpa adanya dukungan kasih sayang kedua orang tua. 

Hal yang lumrah memang. Sebab aku pun punya ponakan yang mengalami kisah yang sama. Teriris hati si empati melihat kenyataan anak-anak broken-home. Sebab saya sangat benci sekali perceraian, ujungnya yang jadi korban adalah anak-anak yang masa depannya masih panjang. Terlepas apa masalah orang tua setelah menikah mengikat janji untuk bersama sampai selamanya, nyatanya, rapuhnya pernikahan siapa yang menyangka. 

Ini pula alasan saya masih berserah dan juga masih mencari orang yang benar-benar tepat untuk mengisi hari-hari saya sampai akhir nanti. Bukan seperti membeli kacang, tidak main-main, apalagi serampangan. Asal cocok, nyambung, nyaman lalu menikah. Tidak hanya itu. Tapi ada hal lain yang harus disamakan, visi, misi, tujuan, dan cita-cita kehidupan yang sama-sama ingin diraih. Saling mendukung, saling memahami, saling menjaga, saling mengalah, saling mengisi satu sama lain. Tidak ada yang benar-benar sempurna memang. Tapi setidaknya kriteria itu harus tetap ada. Sama seperti filosofi Jawa; bobot, bibit, bebet. 

Selesai makan, kami mampir sebentar di P***a**t untuk kakak-dan iparku di rumah, Lalu saya memesan G**b lagi. Bertemu dengan driver berkaki palsu. Ia bercerita kakinya diamputasi karena ditabrak lari tahun 90-an saat tinggal di Sumatera. Sekarang si bapak tinggal di Serpong. Namun ia jarang pulang. Tidur di sekitaran Taman Grogol. Ngegrab sampai larut malam. Begitu terus sampai malam lagi, katanya.

Di sepanjang jalan, kami banyak mengobrol. 
"sudah punya anak berapa mas?", tanyanya. 
"hm belum pak, ini keponakan saya yang di belakang". 
Si bapak terheran, "loh sudah umur berapa mas". 
"25 pak".
"segera lah mas. kan sudah pas waktunya. sudah ada calon? jangan lama-lama mas. nunggu apa lagi?", katanya.
"iya pak segera, insyaa allah".
"tahun ini mas?", masih belum puas dengan jawaban.
"belom pak, doakan saja".

Saya pun terdiam. Sudah hampir sampai juga. Teralihkan dengan pembicaraan lain. Di akhir, si bapak menawarkan pengisian uang elektronik. "Saya baru aja transfer dari mobile banking, terus tidak pegang uang tunai". Si bapak tetap menawarkan, bayarnya ditransfer saja. Saya pun mengiyakan. Menyelesaikan transaksi dan menunjukkan bukti transfer. Ia memakai kacamata plusnya untuk melihat bukti transaksi di gawai saya. 

Sampailah kami di jalan dekat gang tempat tinggal kakakku. Kami turun, lalu berjalan menyusuri gang. Sampai depan rumah. Kevin melongos langsung masuk ke rumahnya. Kami pun masuk ke rumah Dava. Usai pula cerita tentang malam minggu kemarin. Saya hanya ingin mengenang momen lewat tulisan ini. Sebab otak saya tak lagi mampu mengingat memori jangka panjang. Sekian dan terima kasih. 

Semoga banyak pelajaran yang bisa diambil. Kisah rahasia tidak lama lagi akan terbuka satu per satu.

September 08, 2019

Daftar Destinasi Pilihan di Banten Lama

Perjalanan dilanjut dengan KA Lokal menuju Stasiun Serang. Hanya butuh satu jam saja untuk sampai di Serang Kota. Sampai disana, kami berjalan menuju pusat kota Alun-alun sembari mencari penyewaan motor di jalan. Sebab rencananya kami hendak menuju ke pantai. Tak dinyana, setelah bertanya ke orang sekitar, jawabannya selalu sama, tidak ada sewa motor disana. Hal ini karena masih rawannya pencurian sepeda motor sehingga matinya usaha ini disana.

Kami pergi berlibur tanpa itinerary, hanya mengikuti alur saja. Berjalan menyusuri jalanan Kota Serang. Suasana pusat kotanya cukup ramai. Banyak warung pinggir jalan berjejeran. Kami pun makan sejenak, pecel lele. Setelahnya, kami masih menyusuri jalanan sampai akhirnya memutuskan menginap di Hotel Surya. Saya lupa harganya, kalau tidak salah 200k semalam.

Setelah istirahat merebahkan diri di hotel. Barulah kami menyusun lis wisata apa saja yang akan dikujungi besok. Inilah daftar destinasi Kota Serang yang kami kunjungi:

1. Museum Negeri Banten

Fosil Badak Ujung Kulon
Lokasi museum ini berdekatan dengan Alun-alun Serang. Bangunan museum ini dulunya adalah bekas gedung Karesidenan Banten. Sempat difungsikan sebagai kantor gubernur. Hingga akhirnya dijadikan museum. Apa yang menarik dari gedung ini adalah pilar-pilar megah bercat putih.
Gedung museum tampak depan dengan pilar megah
Museum ini menyimpan sejarah dan kebudayaan Banten di masa lalu hingga sekarang. Banyak diorama yang dipajang diantaranya cula badak, rempah-rempah, keris, uang kertas dan koin, suku Baduy, fosil badak, keramik dan ubin, arca Ganesha, dan film tentang Badak Ujung Kulon. Terdapat ruang untuk anak-anak berisi puzzle badak, peta Banten, dan sarana edukasi lainnya.

Kami pun sempat mengelilingi sekitaran museum, bekas rumah dinas Gubernur Atut ada di belakang museum ini. Sangat megah sekali.  Di sekitarannya nampak sepi sekali seperti tidak berpenghuni.

Berlanjut ke daerah utara. Kami pun memesan transportasi daring. Akhirnya ketemu dan ngobrol banyak soal wisata di Serang. Si Aghi rupanya suka jalan juga. Dia menawarkan untuk menemani kami berkeliling di wilayah utara. Ya kami mau lah, secara transportasi disana itu susah banget. Jadilah dia yang akhirnya menemani perjalanan kami sampai menjelang sore. Makasih ya Ghi (hitsnya Pandeglang dia) sudah ngajak keliling-keliling area destinasi Banten Lama.

2. Keraton Kaibon

Beberapa pintu gerbang yang masih kokoh berdiri tegak
Reruntuhan Istana Kaibon ini yang tertinggal hanya batu bata merah dan beberapa pilar bangunan tembok bercat putih. Terletak di Kampung Kroya, Desa Kasunyatan, Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Keraton ini dulunya merupakan bekas kediaman Raja Kesultanan Banten Sultan  Syafiudin (1809-1813). Setelah Kesultanan Banten jatuh ke tangan Belanda, keraton dijadikan pusat pemerintahan Bupati Banten. Lalu pada 1832, keraton ini dibongkar sehingga menyisakan pondasi, tembok dan pintu gerbang seperti yang ada sekarang.
Sisa reruntuhan Keraton Kaibon masih menyisakan jejak yang menarik dikunjungi
 Saya memikirkan jika Keraton ini dibangun ulang pastiinya akan indah sekali dan menambah nilai sejarah yang ada di Banten Lama. Sebab, reruntuhan yang ada menggambarkan puing-puing sisa kekejaman kolonial di masa lalu saat Banten bertekut lutut di tangan VOC.

3. Pecak Bandeng

Pecak Bandeng ini sambelnya nikmat banget
Makanan khas Serang ini memiliki citarasa yang unik akan sambelnya. Ikan bandeng dilumuri oleh sambal bawang aroma jeruk nipis. Kami makan siang di warung Pecak Bandeng Sawahluhur yang tidak jauh jaraknya dari Banten Lama. Untuk lebih lengkap mengenai Pecak Bandeng, silahkan klik disini.

4. Masjid Agung Banten

Under-construction
Berdekatan dengan Istana Surosowan (sayangnya ini diskip, sepertinya reruntuhan juga). Saat kami kesana, masjid ini sedang masa renovasi dan dipasang instalasi payung seperti yang ada di Masjid Nabawi. Banyak pengunjung datang ke tempat ini untuk berziarah. Banyak pula pedagang berjualan di depan jalanan masjid ini, seperti kembang, replika menara, barang kebutuhan, dan tentunya oleh-oleh.

Masjid tua ini memiliki menara putih yang indah. Terdapat dua balkon menara. Sayang sekali, lapangan masjid ini ditutup sehingga kami tidak bisa mengeskplorasi bagian halamannya. Terdapat area makam di sebelah masjid ini. Terdapat pula areal makam Sultan Banten. Di sisi timur, terdapat bekas tempat wudhu seperti bak kecil.

Ada view menarik lain, beberapa pengunjung mengambil air yang ada di bak dengan wadah botol untuk dibawa pulang. Lalu para peziarah memasuki kompleks pemakaman untuk berdoa silih berganti. Dua orang bapak berdiri di depan agak ke samping pintu makam sambil memegang kardus sebagai tempat kotak sumbangan. Sembari memandu peziarah bergiliran masuk. Orang-orang antre di area itu. Ramai sekali.

Ornamen masjid sendiri memiliki atap limas menumpuk lima bagian semakin ke atas semakin kecil. Kalau saya proyeksikan, ini merupakan simbol rukun islam yang jumlahnya ada lima. Memiliki banyak tiang penyangga. Terdapat pintu lorong kecil selain pintu utama. Ada satu mimbar kayu berukuran kecil. Beberapa lampu gantung dan dua jam kayu menempel pada kayu penyangga.
Interior Masjid Agung Banten
Di sekitaran masjid ini, banyak bangunan tua berjajar. Nah kalau sekarang, masjid ini sudah rampung direnovasi. Pasti berkunjung ke pelatarannya sudah nyaman sekali. Dengan nuansa baru payung pada sebagian sisi halamannya.

5. Benteng Speelwijk

Dari masjid, kami berjalan menyusuri jalan setapak ke utara lagi. Melewati rumah penduduk dan rel kereta api. Menuju ke Benteng Spielwijk yang dibangun tahun 1585 di atas tanah reruntuhan tembok Kota Banten Lama.  Jadi paska kalahnya Kesultanan Banten, Belanda membangun benteng ini sebagai simbol kekuasaan mereka.
Kondisi terkini Benteng Speelwijk
Bentuk benteng ini tidak beraturan. Lebih ke persegi dengan bastion pada setiap sudutnya. Yang tersisa sekarang adalah tembok tinggi menjulang bekas pertahanan koloni. Terdapat dua pintu setengah bundar arah utara, satu pintu di sisi barat. Banyak ruangan bawah tanah sebelah kiri di bawah area pengintai utara. Selain itu, yang masih teridentifikasi diantaranya 4 bastion, jendela meriam, ruang jaga, gudang logistik dan ruang penyimpanan senjata.
Dinding benteng masih kokoh, meski sebagian sudah usang
Lokasi benteng ini terletak di Kampung Pamarican, berjarak 600 meter sebelah barat laut Keraton Surosowan. Struktur benteng pertahanan ini masih nampak kokoh sekali. Ketebalan dindingnya nampak dari struktur bata merah yang dilapisi lagi dengan bebatuan keras. Dari bastion utara view mengarah ke pantai. Kini pada area dalam benteng ini ditumbuhi rerumputan liar yang menjadi lokasi padang ternak warga sekitar. Seperti terabaikan, bahkan tidak terawat sama sekali saksi sejarah ini.

6. Kerkhoff

Persis di sebelah selatan Benteng Speelwijk, deretan makam orang-orang Eropa ditemukan di area ini. Bentuk makamnya bermacam ukuran. Ada yang datar hingga membentuk bangunan ke atas. Sekitar 50 makam orang-orang Belanda, Perancis dan Inggris dimakamkan disana.
Area makam orang Belanda
Nah, di ujung tanah makam, ada bangunan seperti pos jaga yang usang namun klasik sekali. Atapnya rusak, hanya sedikit saja gentengnya yang masih tersisa alias bagian rangkanya nampak tua. Jendela merah melompong. Batu merah menyembul meruak-ruak dilekang waktu. Ada pohon rindang tumbuh subur di sampingnya.

7. Vihara Avalokitesvara Banten

Tidak jauh dari benteng, sebelah baratnya persis seberang sungai kecil yang mengarah ke laut. Saya pikir, dulunya pedagang Cina masuk berdagang hingga bermukim di area ini dari kanal kecil yang mengarah ke Banten Lama. Beberapa sumber menyebut kalau vihara tertua di Banten ini dibangun sejak abad ke 16.
Pada pintu masuk vihara, terdapat dua naga hijau pada atapnya seperti memperebutkan matahari. Pada sisi kanan dan kiri, ruangan dengan dupa dan lilin menyala. Sedang bagian kanannya, menara kecil untuk membakar dupa. Lalu memasuki Altar Kwan Im Pho Sat dengan banyak patung dewa-dewa pada setiap ruangnya. Ada empat tiang penyangga ornamen naga.
Pelataran vihara saat akhir pekan
Memiliki luas sekitar 10 hektar. Vihara ini merupakan bangunan cagar budaya Provinsi Banten. Sempat terbakar pada 2009, lalu dipugar sesuai bentukan aslinya pada 2012. Di area belakang vihara ini, lorong mengarah ke bangunan lain yang sepertinya juga tempat ibadah serta fasilitas bangunan vihara.

Lantas warna kemerahan dengan polesan kuning menjadi ciri khas vihara yang memiliki nama lain Klenteng Tri Darma. Sebutan ini memiliki makna kalau vihara ini diperuntukkan tiga umat kepercayaan sekaligus diantaranya Kong Hu Cu, Buddha dan Taoisme.

8. Dermaga Karang Antu

Wisata Bahari Karang Antu
Spot terkahir kami adalah menaiki perahu motor. Berlayar sekitar 30 menit di Teluk Banten. Tiket seharga Rp12.000 mengantarkan kami menikmati udara sore dari atas perahu. Air lautnya berwarna kecoklatan. Matahari hampir jatuh di ufuk barat. Wisata bahari ini cukup sederhana memang. Hampir sama dengan yang ada di Sunda Kelapa. Perahu kecil hilir mudik. Banyak sekali pengunjung yang datang ke dermaga ini. Ada yang memancing, duduk di pinggiran dermaga, atau sekadar menikmati waktu bersama keluarga di akhir pekan.
Saya berfoto bareng Aghi dan Agus
Berakhir sudah lliburan singkat kami di Rangkasbitung dan Banten. Saatnya pulang, kembali ke ibukota. Kami berpisah dengan Aghi di Stasiun Serang. Pulang jalan-jalan, kami mendapatkan tidak hanya cerita dan pengalaman, tapi juga teman baru. Bersyukurnya!

Sekian ulasan perjalanan saya di Banten. Oh ya, saya kasih foto jadwal kereta lokal Rangkasbitung - Merak. Semoga berguna dan masih relevan ya!
Jadwal ka lokal Rangkas - Merak