Translate

Desember 17, 2018

Pecak Bandeng Khas Banten, Rasanya Nikmat Menggigit Lidah

Pecak Bandeng dan Udang Bakar
Berkunjung ke Kota Serang Banten, ada kuliner khas yang rekomen untuk dicicipi disana karena rasa kelezatannya. Pecak Bandeng namanya. Kunjungan ketika mengeksplorasi wisata Banten Lama, saya sempatkan mencoba kudapan Rumah Makan Pecak Bandeng yang berada di Jalan Raya Pontang Km 10 Sawah Luhur.

Mampir ke saung makan ini, tidak lain setelah mendapat informasi dari Aghi yang baru saja kami temui beberapa puluh menit yang lalu di halaman Museum Banten. Teman baru kami ini, akhirnya menemani perjalanan kami di Banten Lama hingga menjelang sore hari.

Aghi rupanya suka jalan sama seperti kami. Bedanya dia sudah melanglang ke destinasi luar negeri. Sedang Aku dan Agus masih terlalu cinta sama Indonesia. Klasik terdengar. Ya, itu alasanku saat ditantang Aghi untuk ke luar negeri. Alasan besarnya adalah keterbatasan waktu dan dana. Di mobil, kami banyak berbagi cerita perjalanan. Sampai sepakat, Aghi mau mengantarkan kami ke beberapa titik wisata yang bisa dikunjungi.

Perjalanan ke Banten bisa dibilang tanpa perencanaan yang matang. Bahkan semalam, kami hampir menggelandang sebab tidak mendapatkan motor sewaan sehingga merubah itinerary yang sudah saya buat sebelumnya. Kenapa berkunjung Banten adalah selain jaraknya yang dekat dengan Jakarta, saya mempunyai misi untuk menuntaskan enam kunjungan ke ibukota provinsi yang ada di Tanah Jawa. Jakarta, Jogja, Surabaya, Bandung, Semarang dan terakhir Banten tercapai juga. Ya walaupun dulu ketika tinggal di Sumatera, saya sering melintasi kota ini dengan kendaraan bus lintas provinsi lintas pulau. Faktanya, misi eksplorasi ini turut memenuhi rasa penasaran saya akan jejak rekam sejarah dan momen besar bangsa ini lima abad silam.

Setelah berkeliling cukup lama di Istana Kaibon, kami hendak menuju ke destinasi berikutnya yaitu Masjid Agung. Jalanan mulai tersendat ketika melewati jembatan bercat warna-warni. Bermacam jenis kendaraan mengarah ke masjid. Hingga akhirnya, Aghi memutarbalik laju mobilnya. Berbelok ke kiri menuju ke utara lalu sedikit ke timur. Melewati areal tanah rawa yang kering dan lapang. Banyak tambak ikan berjejeran di sisi jalanan yang kami lalui. Kondisi jalanan cukup lengang. Sangat berbeda jauh dengan kondisi jalanan ketika 10 menit yang lalu. Pun tidak jauh jaraknya. Hanya enam sekian kilometer saja.

Saung pengunjung berada di sebelah utara
Plang bercat biru dengan gambar ikan terbang ke atas permukaan menjadi tanda rumah makan yang kami tuju. Sisi kanan adalah rumah sekaligus dapur pemilik warung makan, sementara lokasi saung untuk pengunjung terdapat di sebrang kirinya. Saung gubuk dengan bilik tempat makan bernuansa lesehan tertata cukup lapang. Tepat membelakangi tambak dengan genangan air berwarna kuning kecoklatan. Tumbuh sebaris tanaman bakau di tenganya. Jauh di depan sana, ada beberapa gubuk kecil. Kontras berdiri diantara luasnya dataran yang dipenuhi rerumputan kering. Seketika menjadi titik fokus indera penglihatanku.

Rumah-rumah kecil diantara dataran yang mengering
Setibanya disana, saya, Agus dan Aghi langsung memesan Pecak Bandeng, udang bakar, kang kumis (kangkung), dan es tawar di kertas menu yang disediakan. Saya menyaksikan di meja pengunjung yang lebih dulu datang, sajian ikan di tengah-tengah mereka. Tentu menambah rasa penasaran saya dengan kuliner khas yang satu ini.

Suasana rumah makan semakin ramai. Orang datang silih berganti. Bukan hanya karena waktunya makan siang. Namun ternyata tempat makan ini sudah begitu terkenal. Aghi sebagai guide kami menjelaskan kalau rumah makan ini memang pionir Pecak Bandeng khas Banten. Orang jauh (pengunjung) sering datang untuk langsung menikmati Pecak langsung di tempat ini. Menawarkan suasana yang berbeda meski bukan di pinggir pantai, melainkan di area lahan rawa yang sudah mengering.

Barisan pohon bakau di belakang saung
Tidak lama, makanan kami datang. Sebakul nasi. Tiga porsi ikan bandeng tersaji di atas piring tembikar beralaskan daun pisang dengan sambal pecak di atasnya. Sepiring sayur lalapan, seperti kol, mentimun, kemangi, dan entah daun apa namanya untuk yang satunya. Tiga mangkuk sayur asem dan tumis kangkung. Setusuk udang bakar dengan sambal ijo. Sangat menggoda sekali. Tapi hal pertama yang saya lakukan adalah memotret makanan. Hehehe. Sindrom generasi milenial seringnya mendahulukan jepretan kenangan, baik untuk tujuan yang penting maupun yang tidak bernilai sama sekali. Ya cukup lima menit saja kok.

Aghi dan Agus menikmati dalam diam, saking nikmatnya apa laper nih.
Barulah kami menyantap makanan yang tersaji. Sesaat kemudian hening. Hanya tangan, mulut, lidah, gigi dan tenggorokan yang bekerja. Mencerna rezeki makanan yang ada di hadapan kami. Saya memperhatikan sambalnya terlebih dahulu. Pecak yang saya amati adalah kombinasi cabai, bawang merah, terasi dan jeruk nipis. Bumbu dapur itu digiling dengan tekstur kasar. Sedikit berair sehingga membasahi ikan.

Saya mulai mencicipi ikannya. Durinya cukup banyak terasa. Saya berhati-hati makan daging ikannya sebab tulang durinya kecil dan halus. Lain dengan ikan bandeng presto (duri lunak), santapan ini berupa ikan bandeng segar, dimana proses masaknya dibakar lalu dilumuri sambal pecak. Rasanya menggigit di lidah. Pedasnya membuat nagih dan nikmat.

Sebagai penikmat menu ikan dan rasa pedas, tentu saya doyan menghabiskan kuliner Pecak Bandeng. Agus dan Aghi juga lahap menikmatinya sampai menyisakan piring yang kosong. Saya tidak ketinggalan. Menyusul mereka. Memakan udang, kangkung, ikan. Lalu mencicipi sayur asem. Hanya tersisa lalapan saja yang belum dimakan. Saya sangat menikmati ikan bandeng bahkan sampai ke bagian kepala dan ekor. Alhamdulillah, kenyang. Terasa nikmat sekali.

Sebagai informasi, harga makanan yang kami pesan pun begitu terjangkau. Sesuai dengan kantong teman pejalan. Makan bertiga dengan porsi sedang merogoh kocek sebesar 119k saja. Per orang hanya 40k kalau dirata-rata. Sangat rekomen sekali bukan. 

Sekian ulasan saya berbagi tentang kuliner khas Pecak Bandeng. Tentu kalian harus merasakannya sendiri ya. Kalau berkunjung ke Banten, bisa banget untuk mampir ke warung makan yang terletak di Sawah Luhur. Rasakan sensasi kenikmatan Pecak Bandeng, satu kuliner jawara khas Banten.