Juni 11, 2018

Pengalaman Menjadi Relawan Rona Nusantara


Dokumentasi Rumah Zakat 
Sebuah cerita harus dituliskan, sebuah cerita ada yang layak untuk dibagikan, dan bila perlu sebuah cerita penting untuk didengarkan. Sebagai bukti manusia pernah berproses dan mencetak memori. Cerita ini memang sudah setahun lalu tertimbun usang di dalam memori perangkat lunak abad 21, lantas sudah setahun ceritanya berlalu, sayang sayang kalau hanya menjadi kenangan pribadi beserta orang-orang yang terlibat di dalamnya. Inilah ceritaku ketika pernah menjadi volunteer Rumah Zakat di bulan Ramadhan 1438 H. Rindu rasanya kala itu.

Kereta Serayu berangkat pukul 21.00 dari Stasiun Pasar Senen menuju Purwakarta. Dalam perjalanan selama satu setengah jam, akhirnya aku tiba di Stasiun Purwakarta lalu melanjutkan naik ojek menuju meeting point di Taman Makam Pahlawan yang jaraknya tidak jauh dari stasiun.

Bapak ojek yang mengantarakanku sempat bingung ketika aku meminta diturunkan di depan makam. Mungkin beliau heran dengan apa yang akan aku lakukan disana. Akhirnya aku berhenti di depan warung tidak jauh dari makam. Tidak lama kemudian bertemu dengan Mas Taufik, Kak Vita dan Kak Suci yang sudah lebih dahulu berkumpul di perempatan dekat situ. Akhirnya kami berkumpul menunggu rombongan dari Bandung yang sudah hampir tiba. Selagi menunggu, kami ngobrol ngalor-ngidul tentang kegiatan sosial yang pernah dilakukan masing-masing. Ternyata mereka mempunyai pengalaman hebat. Ada yang sering mengikuti kegiatan sosial sejenis, ada yang habis pulang dari Papua, dan obrolan entah sampai kemana saja.

Tidak lama, truk TNI yang mengangkut rombongan utama lewat. Kami pun meneriaki mereka. Lalu ikut bergabung untuk menuju desa yang akan kami tuju. Di truk itu, aku berkenalan dengan Bang Ari, panitia dari Rumah Zakat. Kami berbincang mengenai organisasi ini yang sudah established mempunyai cabang hampir di penjuru Indonesia, tentang kegiatan rutin dan banyak hal lainnya.

Selepas jalan raya, kami sampai di tempat entah daerah apa namanya. Jelasnya, kami berada di pemukiman penduduk dengan tower SUTET berdiri. Setelah briefing sejenak, kami berjalan kaki selama 10 menit, lalu melanjutkan dengan menaiki mobil double cabin dengan bolak-balik dua kali penjemputan. Di atas mobil itu, kami tergoncang ke kanan dan kiri dalam keadaan gelap. Mobil melewati jalanan tanah yang becek, licin, dan berkelok. Di pinggiran jalan, hanya pohon-pohon yang membatasi. Sekitar 15 menit, kami sampai di titik terakhir akses yang dapat dijangkau kendaraan. Lalu masih berjalan lagi, terdengar arahan dari panitia.

Melewati jalanan gundukan sawah, seperti diantara tanah yang lapang. Tidak jauh, ada aliran sungai dengan jembatan kayu dan bambu yang berukuran hampir satu meter lebarnya. Kemudian melalui areal persawahan. Berjalan jauh ke depan. Aku merasa semangat untuk segera sampai. Kontur jalan sedikit menanjak, lalu melewati jembatan kayu yang kecil. Semakin menanjak, tibalah kami di rumah Abah Karim.

Kami disambut oleh keluarga beliau dengan sajian kue dan bajigur. Sejenis minuman hangat dengan citarasa manis gula aren berwarna kecoklatan. Tidak terasa, berjalan sekitar satu jam dalam keteduhan malam membuat rasa gerah. Ku lirik jamku, sudah pukul satu lewat.

Di depan rumah abah, aku sama sekali tidak melihat tanda-tanda pemukiman disana dikarenakan tidak adanya lampu-lampu yang menerangi. Sorotan senter dan flash kamera hanya membuat sedikit pencahayaan. Ternyata rumah-rumah warga jaraknya ke arah belakang dan jarang-jarang.

Peserta laki-laki berjumlah enam orang. Mereka adalah Mas Taufik, Mas Chandra, Mas Zain, Ashari, Fajar dan Rizki. Kami beristirahat di satu rumah panggung sederhana yang terbuat dari bambu. Tanpa penerangan listrik. Tidak ada kamar mandi. Tidak ada televisi apalagi kipas angin. Rumah itu terdiri dari ruangan yang tersambung satu sama lain. Sangat sederhana.

Aku langsung memakai sleeping bag yang ku bawa. Udara disana tidaklah dingin. Justru aku merasakan panas berada di dalam kantong tidur  itu. Hanya saja untuk menghindari nyamuk-nyamuk ciptaan Tuhan. Tepat di bawah kami tidur adalah kandang ayam yang sesekali suaranya terdengar jelas entah itu dengkuran atau apapun.

Pukul setengah empat kami sahur bersama lalu sholat subuh berjamaah. Fajar tiba, aku melanjutkan rebahan di teras luar. Matahari pun mulai merona di ufuk timur. Aku bangun, menuju ke sawah lalu memotret momen itu. Pagi yang sepi. Tidak ada suara bising kendaraan. Tidak ada suara ibu-ibu yang berkumpul ketika tukang sayur lewat. Yang ada hanya kicauan burung, udara segar, dan rasa ketenangan. Beginilah kehidupan orang-orang desa, hidup dalam kesederhanaan namun mereka merasakan hidup yang tentram dan damai.

Kegiatan Rona Nusantara

Aktivitas hari pertama yang kami lakukan terbagi dalam dua kelompok. Tim ikhwan menjemput dan membawa material bangunan untuk mendirikan MCK dari titik terakhir akses kendaraan. Sementara tim akhwat membungkus bingkisan sekolah, parsel lebaran warga dan hadiah untuk kegiatan anak-anak.

Tim ikhwan semakin akrab satu sama lain. Kayu, pipa paralon, dinding dan atap asbes adalah sebagian material yang akan kami angkut. Satu bawaan dipikul oleh dua orang. Pertama membawa kayu. Baru lima menit berjalan, balok kayu itu menusuk pundak-pundak kami. Bergantian aku menumpuhkan kayu ke pundak satunya untuk melepaskan rasa pegal. Kapan lagi aku bisa berbuat seperti ini. Menjadi kuli angkut yang menggunakan kekuatan fisik untuk mengangkat dan memikul material. Sungguh perkejaan yang sangat sulit. Satu pelajaran yang aku dapatkan untuk terus mensyukuri apa yang aku miliki sekarang, yaitu tentang pekerjaan.

Ada satu hal yang membuat kami terheran, beberapa orang warga termasuk Abah yang ikut membantu kami. Mereka dengan gampangnya membawa material-material itu seorang diri. Pada angkutan yang kedua, aku membawa tumpukan pipa paralon yang lebih ringan kuantitasnya. Ketika membawa ini aku merasa lebih nyaman kerena bentuknya yang bulat sehingga tidak membuat rasa sakit di pundak. Selepas itu, kami beristirahat sejenak. Merasakan lelah setelah berjalan membawa sebagian material-material itu. Sungguh lemah sekali diri ini sebagai mahluk ciptaan Tuhan. Alhamdulillah Tuhan memudahkan urusan kami hari itu, meskipun dalam kondisi berpuasa.

Menjelang tengah hari, tim akhwat memulai aktivitas mendongeng dan mewarnai kepada anak-anak di dalam masjid. Sementara itu, kami menunggu material lainnya seperti pasir dan semen yang belum sampai sehingga mengulur waktu pembangunan MCK. Duduk santai di sisi masjid sambil mendengarkan cerita dongeng yang dibawakan. Kisahnya berisikan tentang keserakahan seorang anak ketika melahap makanan. Pesan yang disampaikan kepada anak-anak antara lain untuk menjaga kesehatan dengan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, tidak makan secara berlebihan, dan senantiasa selalu bersyukur atas nikmat Allah swt.

Menjelang sore, kami menjemput bahan-bahan makanan yang dibeli panitia dari pusat kota. Sayur mayur, daging ayam, tepung, minyak, kurma, buah-buahan dan sebagainya. Selagi ibu-ibu memasak, kami membantu menyiapkan makanan yang sudah siap disajikan ke dalam kotak nasi untuk santapan kami berbuka bersama warga. Bahan-bahan mentah tadi berubah menjadi ayam semur, tumis buncis dan wortel, sambal dan es buah.

Kumandang azan maghrib terdengar. Kami berada di tengah-tengah keramaian warga yang mengelilingi. Hadir pula perangkat desa datang menghadiri acara itu. Selepas meminum es buah yang menyegarkan tenggorokan dan memakan kurma, kami bergegas sholat maghrib berjama’ah. Kemudian makan besar bersama-sama.

Sehabis sholat isya dan tarawih, barulah kami masuk ke acara bioskop desa. Sebelumnya terdapat sambutan dari pihak perangkat desa, warga, dan juga panitia. Film yang diputar malam itu adalah Sopo Jarwo, kartun asli anak bangsa yang bercerita tentang kehidupan Adit sebagai pemeran utama. Kartun ini mempunyai unsur cerita yang menarik. Anak-anak sangat serius menatap lcd monitor. Dalam kegiatan ini, diselingi pula pembagian hadiah untuk anak-anak yang berani menjawab pertanyaan dari panitia.

Minggu Pagi di Karapyak

Pendirian MCK yang dimulai kemarin sore sudah menampakkan pondasinya. Pagi itu, kami ikut membantu sedikit hingga menambah progress berdirinya tiang-tiang kayu yang akan menopang bangunan itu. Dikomando oleh seorang bapak tua, dari rambutnya yang memutih, beliau tampak berpengalaman dalam bidang bangunan. Bapak-bapak lainnya ikut membantu bekerja sama mendirikan fasilitas yang akan menambah kualitas kehidupan mereka kelak.

Peserta Relawan Rona Nusantara berkumpul di dekat tanah yang agak lapang. Tidak lama lagi kami akan meninggalkan desa ini. Acara pembagian parsel lebaran dan bantuan Al-Qur’an untuk ibu-ibu pengajian sudah diberikan. Kami mengabadikan momen bersama. Keterbatasan waktu membuat kami tidak mengikuti proses pembangunan MCK sampai selesai. Tidak lama, kami berkemas barang bawaan dan berpamitan kepada para warga. Berterimakasih atas ramah-tamah telah menjamu kami dengan penuh suka cita.

Kehidupan Sederhana di Kampung Karapyak

Mereka pasti senang ketika hujan tiba, karena pasokan air akan melimpah. Begitu juga mereka pasti senang ketika matahari cerah, karena panel surya akan bisa menyala di saat malam hari.

Kami bercerita kepada seorang warga sekitar. Pemukiman di Kampung Karapyak dimulai 1998. Mereka hijrah dari Cianjur, lalu menggarap pertanian yang ada di lokasi sekarang. Banyak pabrik-pabrik di sekitar. Ada industri bahan baku tekstil, kapas dan mineral tambang. Ternyata pula, lahan pertanian yang ada milik perusahaan, aset ternak juga milik perusahaan, dimana mereka sebagai penggarap menganut sistem bagi hasil.

Letak kampung ini seperti di tanah antah-berantah. Dalam kacamataku, masyarakatnya seperti hidup terisolir, jauh dari akses dan fasilitas yang memadai. Aku merasa iba mereka jauh dari pusat ekonomi, dari akses kesehatan yang layak, dan dari fasilitas yang menunjang kehidupan yang semestinya. Aku bersimpati dengan anak-anak yang harus menuju sekolah berjalan kaki sejauh entah berapa kilometer. Berangkat selepas subuh untuk mendapatkan akses pendidikan. Melewati jalanan sepi milik perusahaan, yang tanahnya di saat musim hujan akan sangat becek sekali. Perjuangan mereka insya allah akan berhasil.

Disana aku tidak mandi, hanya membasuh muka dengan air sumur yang menurutku juga keruh. Aku menimba air menggunakan ember untuk berwudhu. Sekali menggunakan kakus/wc terbuka untuk buang air. Aku bersama teman-teman pergi ke sungai, berharap mendapatkan air yang jernih lagi bersih. Nyatanya air sungai sedang kering. Tampak keruh berwarna kecoklatan mengalir tenang. Rupanya kontur tanah disana memang berwana merah sehingga memproyeksikan warna air terlihat keruh.

Aku sempat berjalan mengitari sekitaran lingkungan mereka. Ada lahan sawah yang cukup lapang untuk mereka bertani. Ada tanaman singkong dan banyak semak belukar. Ada pula lahan dengan kandang domba dan kerbau. Di dekat lahan itu, ada area lapang yang kosong. Luas berantakan seperti bekas dikeruk alat berat. Benar, ada alat berat berada di kejauahan.

Disana ikatan masyarakatnya masih guyub. Hidup rukun, saling gotong-royong, dan mengutamakan kebersamaan. Masyarakat hidup sederhana, namun tetap merasakan bahagia. Anak-anak bermain petak umpet, bermain bola di tanah lapang, tidak menggenggam smartphone, tidak menonton televisi dan ada pula yang menggembala domba membantu orang tua meraka. Justru nilai-nilai kehidupan itu banyak aku temukan disana.

Dua hari merasakan kehidupan disana, banyak pelajaran yang aku dapatkan tentang kesederhanaan dan rasa bersyukur dengan apapun yang kita punya. Mereka mengajarkan kita untuk terus membuka mata melihat keadaan sekitar, membuka hati nurani untuk berbuat kebaikan, dan berbagi atas harta yang kita miliki. Sebab Allah pun berfirman kepada kita, “Dan Kami akan menambah (karunia) bagi orang-orang yang berbuat kebaikan.” QS.Al-Baqarah : 58


Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Instagram