Translate

Mei 10, 2018

Famtrip Blogger - Dolan Maring Palawi Baturraden

Para blogger bahagia
Kali ini saya ingin berbagi cerita keseruan famtrip #BloggerGoesToPalawi weekend kemarin yang masih belum terlupakan. Kok rasa-rasanya pengen lagi ya. Gimana gak senang maksimal? Karena kami dilayani dengan sangat apik oleh manajemen PT. Palawi Risorsis untuk mengeksplore apa saja yang bisa dinikmati di area Wana Wisata Baturraden. Oh ya just FYI aja nih, Palawi itu anak usahanya Perhutani yang bergerak di bidang wisata alam, makanya namanya Perhutani Wisata Alam. Tidak hanya pengembangan dan pembangunan potensi wisata alam, Palawi juga memenuhi kebutuhan yang menunjang pengelolaan sektor pariwisata seperti tour & travel, villa penginapan, camping ground, wahana bermain, MICE, outbond area, dan sebagainya. Nah dua unit bisnis yang sudah dikelola dengan cukup baik oleh Palawi diantaranya Wana Wisata Coban Rondo yang terletak di Pujon Malang dan Wana Wisata Baturraden yang menjadi lokasi kami memanjakan diri saling berinteraksi di area hutan lereng selatan Gunung Slamet.

Udara di Baturraden terkenal adem nan sejuk. Suasana inilah yang menyambut kedatanganku ketika melewati jalanan menanjak hendak memasuki area Wana Wisata Baturraden. Pepohonan berbatang besar menjulang tinggi dengan daun yang menutup bagian atas cukup rapat. Hamparan bunga berwarna warni banyak tumbuh di area lahan yang datar. Lokasi pertama yang kami tuju mengarah ke sebelah timur dari pintu masuk yaitu Villa Agathis, tempat menginap kami selama famtrip. Villa ini berdekatan dengan Villa Accacia, wahana flying bike dan juga taman labirin.

Villa Agathis dan Accacia rate per malamnya 3,4 juta
Memasuki ruangan villa, ibu-ibu yang sedang beberes perlengkapan di dapur menyambut kami kemudian menyuguhkan lemon tea hangat. Saya dan Mba Olipe datang duluan sekitar pukul sebelas siang. Terdapat ruang utama yang lapang dengan penataan sofa memanjang pada sisi dinding. Ruangan ini cocok sekali untuk leye-leye santai menikmati suasana sekitaran yang sunyi sejuk. Dinding dengan kaca bening membuat view lanskap Purwokerto terlihat jelas. Pintu dorong mengakses ke teras dan area untuk bakar api unggun.

Villa ini memiliki enam ruang kamar tidur. Masing-masing kamar memiliki kasur berukuran dua orang, tv lcd, cermin, tempat sampah kecil, almari dengan handuk menggantung dan sandal di bawahnya. Pada ujung ruangan, ada kursi dan meja dengan teko pemanas, sendok dan gelas, air mineral, beserta kopi dan teh kemasan. Ornamen ruangan bercorak batik memadu dengan cat berwarna putih memberikan kesan yang terang. Kamar mandi terdapat di masing-masing kamar dengan shower, closet, dan tersedianya air panas. Jadi gak perlu takut dingin kalau menginap di villa ini. Menginap disini kalian bakalan puas dengan fasilitas yang tersedia. Alasan utamanya adalah setiap sudut ruangan tertata rapi juga bersih. Untuk rate menginap semalam di Villa Agathis ini, harga yang dipatok sebesar Rp 3.400.000,- dengan kapasitas 12 orang. Harga tersebut sudah termasuk sarapan dan tiket masuk Wana Wisata loh. Cukup murah bukan?

Fasiltias Villa Agathis
Tidak lama, peserta famtrip lain mulai berdatangan. Mba Dian dan Mas Yugo dari Jogja. Ella, Rois, dan Mas Pradna dari sekitaran Purwokerto. Setelah makan siang, kami menuju ke Telaga Sunyi yang berjarak sekitar 10 menit dengan menaiki mobil. Kami berangkat duluan karena rombongan Mba Idah dkk belum sampai. Mereka menyusul ke telaga langsung. Oya gaes, masuk ke telaga ini pengunjung cukup membayar Rp 13.000,- saja.  

Nyatanya tidak sesunyi dan sehoror kata orang-orang. Ya pada intinya semua tempat adalah bagaimana caranya agar kita bisa menjaga perilaku yang sewajarnya. Di area parkiran saja ramai dengan kendaraan pribadi. Telaga ini sering dikunjungi oleh pegiat selam bebas dan cliff jumping. Dari area parkiran, kita cukup berjalan sekitar seratus meter saja melalui jalanan pinggiran sungai yang dilengkapi pagar pembatas. Lokasinya berada di aliran Kali Pelus. Sungai yang mengalir dari hulu ini memiliki banyak batu-batuan besar di celahnya. Kenapa dinamakan telaga? Saya berasumsi karena telaga ini seperti kedung atau kolam dengan kedalaman bervariasi hingga mencapai lima meter. Airnya berwarna kebiruan, jernih sekali. Dasarnya terlihat terang. Sebagian berisi batu-batuan yang terkena lumut.

Beberapa dari kami berenang di telaga ini. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah suhu airnya yang sangat terasa dingin. Baru nyemplung saja dinginnya langsung menusuk ke badan. Pada bagian pinggirannya, kedalaman di atas satu meter, sementara pada area tengah hingga ke titik jatuhnya air merupakan titik terdalam telaga. Makanya lokasi ini sering dipakai untuk latihan free diving, selain kedalaman yang mendukung, pemakaian baju selam, fin, snorkel, dan kacamata akan lebih asik lagi menjelajah bawah airnya. Baru berapa menit berada di dalam air, saya tidak kuat menahan rasa dingin airnya yang bisa dibilang seperti air es. Saya tidak lama langsung mentas sebab menahan dingin. Jika kalian tidak jago berenang tapi ingin merasakan sensasi airnya seperti apa, sebaiknya mengajak operator untuk mengawasi atau kita dapat menyewa pelampung maupun ban di dekat area parkiran. Ketika kami datang kesana kemarin, aliran debit air yang jatuh tidak deras. Dengan ketinggian kurang lebih tujuh meter. Permukaan air telaganya pun tenang sehingga relatif aman untuk berenang, beruntungnya juga kondisi cuaca sedang cerah. Alhamdulillah semesta mendukung kegiatan kami hingga tidak terasa sudah dua jam lamanya berada disana.

Telaga Sunyi airnya sedingin air es. Hahaha.
Aktivitas keseruan masih berlanjut. Setelah ashar, kami mencoba wahana flying bike yang berada di atas hamparan bunga. Untuk mencoba wahana ini, pengunjung cukup membayar Rp 20.000,-. Wahana dengan jalur sepanjang 55 meter dengan tinggi kurang lebih 5 meter ini apabila dilihat dari bawah terlihat biasa saja. Adrenalin akan terasa ketika sudah berada di atas sepeda. Ya, saya memberanikan diri untuk mencoba giliran pertama. Memakai alat keamanan yang disediakan. Saya melihat ring roda sepeda tersebut menjejak ke sling besi yang dilapisi selang, rasa takut mulai menyerang. Ketika menaiki wahana ini, kita tidak perlu menggowes sepeda. Nanti ada operator yang menarik sepeda dari bawah. Kita seminimal mungkin untuk tidak bergerak bebas agar tetap menjaga kestabilan saat berada di atas sepeda. Dag dig dug saat sepeda mulai melaju. Apa yang dirasa rupanya cukup tegang ketika melihat ke arah bawah. Kot tinggi juga ya. Ditambah lagi kawat besinya sesekali bergoyang. Tapi gak apa, tetap stay cool aja padahal mah melawan rasa takut yang mendera. Berhasil juga sampai ke titik akhir pemberhentian. Wah lega rasanya berhasil menepis rasa takut pas di atas. Tenang gaes, kata operatonya wahana ini aman-aman saja saat digunakan sejak awal dibuka.

Wahana flying bike. Seru cuk.
Keseruan kami belum berakhir. Di seberang hamparan bunga, terdapat Taman Labirin Baturraden. Tentu saja kami mencoba wahana ini. Ceritanya sih untuk menghapal rute labirin untuk games yang akan diadakan besok. Hahaha. Rumput pagar yang dirawat membentuk jalan yang cukup rumit. Jalur ke kanan memutar-mutar hingga ke paling ujung untuk mencapai ke titik tengah labirin. Jika dibandingkan dengan jalur kiri, kita akan lebih mudah dan cepat untuk sampai ke titik tengah. Labirin ini lebih luas ukurannya daripada labirin yang ada di Coban Rondo. Jalurnya pun berbeda, kontur naik turun dengan block paving. Mengitari labirin ini cukup mengasah otak juga, jangan sampai tersesat mah pokoknya. Kalau tersesat, kita bisa naik ke deck pandang untuk melihat jalur yang benar. Jumlah deck-nya ada dua. Letaknya ada di depan sehingga bisa kita gunakan sebelum memasuki labirin dan yang kedua ada di dalam labirin. Seru loh muter-muer mencari jalan keluar di wahana labirin. Untuk mencobanya, kita cukup membayar tiket masuk Rp 10.000,- .

Taman Labirin Baturraden
Malam harinya, kami makan malam bersama di teras villa dengan santapan kuliner yang lezat. Menunya adalah ikan mujair, pecak jantung, oseng dage kuncar, tempe goreng dan sambel terasi. Masakan yang disajikan adalah olahan khas Baturraden. Saya doyan sama oseng dage kuncarnya. Bau harumnya menambah sedapnya makanan. Apalagi sambelnya yang terasa pedas, cocok seklai dimakan saat udara di luaran cukup dingin. Kami makan di area teras dengan pemandangan lampu oranye yang memenuhi dataran rendah di bawah sana. Sangat epic sekali momennya.

Santapan kuliner malam. Ngeliatnya aja udh kenyang. Alhamdulillah.
Sehabis makan, sesi sharing dan ngobrol dengan manajemen Palawi sekaligus menunggu api unggun dinyalakan. Ya, kami diberikan informasi tentang Palawi lebih jauh serta progres pengembangan wisata alam Baturraden. Menu jagung bakar, mendhoan, dage goreng menemani sesi acara tersebut. Api unggun pun dinyalakan. Semua peserta langsung mengerumuni sumber kehangatan itu. Menghabiskan malam minggu dengan momen yang asik bersama kawan-kawan bloger dan manajemen Palawi. Sungguh momen yang mengesankan. 


Acara Famtrip Blogger Goes To Palawi 5 - 6 Mei 2018 diselenggarakan oleh PT. Palawi Risorsis Unit Bisnis Wana Wisata Baturraden.

10 komentar:

  1. Aku ngerasa jamuan Palawi ini total bangett. Pun dengan pelayanannya. Btw, aku agak nyesal ngga mainan air di Telaga Sunyi we. Hahaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, betah yeeee. Besok kesana lagi asik.

      Hapus
  2. Huaaa...aku nggak ikut cebur-cebur di Telaga Sunyi :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huaaaa sayang sekali kak Dev. Sini main ke Pwt lagi lah, nanti nyebur di air es. hahaha serius airnya dingin banget. Overall nyebur di Telaga Sunyi seru banget.

      Hapus
  3. Aku nggak nyebur semua, pingin tapi apa daya. Its okey kapan-kapan balik ke sini lagi ah:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. berarti emg harus balik lagi mba, biar ngerasain yg dingin banget sama yg anget2 enak :)

      Hapus
  4. Sumpaaah, skybike bikin ketagihan! Meskipun diatas mringis-mringis hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha. ikwym mba, tapi seruuuuuu dan ketagihan mau lagi :)

      Hapus
  5. Airnya jernih banget Mas, pasti dingin banget yah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya pak. Enak buar renang,seger bgt airnya. Apalagi musim kemarau kan udh kayak air es.hehehe

      Hapus