Translate

Desember 20, 2017

Agama Warisan? Sudahkan Kita Beriman Kepada Tuhan?

Assalamua'laikum warahmatullohi wabarakatuh.

Kali ini saya ingin menuliskan sedikit opini saya mengenai sebuah tulisan opini yang sempat viral di dunia maya hingga diliput media pada tahun 2016 lalu. Ya, ketimbang tulisan ini hanya tersalin di buku catatan alangkah baiknya saya menulis ulang ke blogpost ini. Padahal mah saya belum dapat konten yang enak dituliskan untuk menambah jumlah postingan.

Oke bicara sesuatu yang viral. Sadar gak sih kalau di Indonesia, sangat mudah sekali sebuah berita atau hal yang kadang tidak terlalu penting namun viral di dunia maya hingga dapat diketahui banyak orang. Entah ini impact penggunaan gadget pada millenials era, jelasnya terkadang ada sesuatu hal yang viral atau persebaran informasi, namun tidak berisi informasi positif (bernilai guna) untuk diketahui atau bahkan terkadang hal biasa yang viral sebaiknya kita hanya cukup tahu saja agar tidak ketinggalan informasi.

Oke, ceritanya begini. Sebelumnya saya akan memulai dari apa yang paling saya syukuri hingga nafas detik terkahir ini adalah tentang takdir di mana saya terlahir di keluarga penganut Muslim, yang menjadikan saya sebagai penganut Islam hingga sekarang yang mengimani bahwa Tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Alhamdulillah Ya Allah atas takdir ini.

Kenapa saya bilang begitu. Sebab begini, dulu saya pernah berpikir menyoal hal yang sangat liberal sekali dalam kehidupan saya tentang adanya agama dalam kehidupan manusia. Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa semua agama mengajarkan hal-hal yang baik, pada intinya sama saja kita mau beragama apa. Saya tidak setuju satu hal tentang ini. Sebab dalam agama yang anut, terdapat perbedaan mendasar dalam mengimani sebuah agama dan konsekuensinya yang berlaku menyeluruh ke segala aspek kehidupan.

Jadi saya dulu pernah mengandaikan (conditional) tentang, "Jika saya dilahirkan pada keluarga non-Muslim semisal Jews atau yang lain, apakah sekarang saya masih menganut agama bawaan tersebut ?".

Lalu saya mendebat pemikiran saya soal pengandaian itu. Apa iya Tuhan sebercanda itu? Ketika saya menggunakan logika, pasti dan akan selalu mendewakan akal pikiran yang saya miliki, akan terus dan selalu menjustifikasi apa yang saya setiap terima dan alami.

Pernahkah kita berpikir tentang seberapa jauh kritik kita terhadap Tuhan? Sementara dengan akal pikiran kita yang serba terbatas, mau setinggi apapun IQ kita, sejauh apa fantasi kita. Tetap otak merupakan indera utama kecerdasan yang kita miliki pun memiliki sebuah keterbatasan. Sebagi contoh, apakah kita dapat mengingat apapun yang sudah kita alamai selama hidup dari waktu ke waktu. Tentang memori sewaktu kita kecil, tentang kenangan mendaki gunung beberapa tahun lalu, atau bahkan kegiatan kita hari ini saja dengan sedetail mungkin. Nah benar kan, betapa lemahnya otak dan akal pikiran kita.

Lalu sadarkah kita tentang batasan otak kita dengan mengkritik ketentuan-ketentuan yang sudah tertuliskan (takdir) yang dalam agama saya merupakan hak preogratif Sang Maha Pencipta di Lawh Mahfudz.

Ingat kembali tentang Qadar sebagai ketentuan mutlak Tuhan tentang kehidupan manusia dan seluruh alam yang telah digariskan, seperti kelahiran, rezeki, jodoh, dan kematian. Lalu mengenai Qodo sebagai ketentuan-ketentuan Tuhan bagi setiap manusia atas pelaksanaan Qadar ketika terjadi. Dua hal ini termasuk iman dalam Islam. Ya, ketika kita sudah mengimaninya sudah selayaknya pula kita pun bersungguh-sungguh meyakini dengan sepenuh hati kita.

"Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasulnya, mereka itu orang yang tulus hati (pecinta kebenaran) dan saksi-saksi di sisi Tuhan mereka. Mereka berhak mendapat pahala dan cahaya. Tetapi orang-orang kafir dan mendustakan ayat-ayat kami, mereka itu penghuni-penghuni neraka." Al-Hadid : 57

"Dan sesungguhnya orang-orang beriman mengikuti kebenaran dari Tuhan mereka." Muhammad : 3

Iman adalah tentang kepercayaan dan keyakinan, bahasa mudahnya dalam akal pikiran saya. Lantas sudahkan kita memiliki kepercayaan dan keyakinan setulus hati terhadap eksistensi kita di muka bumi ini. Siapa sebenarnya jati diri kita? Apa sebenarnya tujuan kita ada di muka bumi ini? Apa iya, kita hidup dimulai dengan lahir, tumbuh kembang, bersekola mengenal dunia, jalan-jalan di akhir pekan, bekerja, menikah, mempunyai keturunan lalu kemudian mati? Dengan proses yang begitu panjang pada umumnya kehidupan seseorang, tidakkah kita berpikir tentang, "Dimana kita sebelum keluar dari rahim ibu kita? dimana keberadaan kita saat tertidur? sadarkah kita? Atau ingatkah kita? Atau tentang kejadian sehari-hari yang dimulai dari sebangun tidur hingga sampai tidur kembali menjelang malam. Ingatkah kita?".

Adakah terlintas di benak hati kita yang terdalam, bahwa semuanya ada yang maha mengatur segalanya. Tentang kuasa dan kebesaran. Raja penguasa alam semesta diantara milliaran manusia di penjuru dunia yang memiliki hampir rupa dan bentuk yang sama.

Dulu ketika kecil, saya pernah memikirkan hakikat kelompok manusia yang dipimpin oleh penguasa tertinggi di dalam golongannya. Tentang sebuah kerajaan-kerajaan yang berkuasa dengan kelompok masyarakatnya hingga di galaksi lain. Saya pernah pula memikirkan tentang reinkarnasi. Jadi saya dapat menyimpulkan, otak yang berfungsi untuk berpikir memang teramat liar sebab mampu memikirkan hal-hal imajinatif semacam itu. Namun kembali lagi kepada pertanyaan saya tentang siapa sebenarnya kita di kehidupan ini? Oke. Mudah sekali menjawabnya. Siapa kita tergantung siapa orang di sekitar kita.

Tetapi bukan itu yang saya maksudkan. Siapa kita versi saya adalah akan saya jawab sebagai seorang mahluk yang disebut hamba yang dimiliki Sang Maha Pencipta Alam Semesta beserta seisi-Nya. Lalu mengapa saya ada bersama manusia-manusia lainnya adalah tentang apa yang hanya bisa kita tahu dari tuntunan kehidupan seseorang yang beragama. Saya percaya Al-Qur'an sebab kalam Allah sangat jelas sekali menyatakan tentang agama dalam QS. Asy-Syura : 13 yang artinya, "Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad saw) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk kepada (agama-Nya)  bagi orang yang kembali (kepada-Nya)."

Hakikatnya manusia hanya diberikan sedikit waktu saja untuk mengabdikan atau menghambakan dirinya untuk Sang Khalik sesuai dengan ajaran dan tuntunan kehidupan sebagai seorang khalifah di atas muka bumi, selain diberikan kesenangan dan permainan yang menyenangkan belaka. Manusia menjalani kehidupan bagaikan sebuah ujian/cobaan sebelum kembali ke kehidupan yang kekal. Lantas dengan waktu yang sedikit saja (umumnya 60 tahun), dunia teramat sebentar seperti persinggahan sementara namun dapat melalaikan, lalu saya malu menanyakan diri saya sendiri, "sejatinya usia ini telah dihabiskan untuk apa?" Astaghfirullah.

Wassalamua'laikum .

Desember 07, 2017

Gumbeng dan Batik Gumelem, Tradisi Warisan Leluhur

Indonesia memang tidak ada habisnya kalau berbicara tentang warisan budaya. Budaya yang terkenal hingga ke mata dunia mungkin baru hanya beberapa. Nyatanya teramat banyak seni budaya leluhur dari tiap daerah yang masih terjaga kelestariannya sampai sekarang. Meski sayang hanya sedikit saja dari generasi penerusnya yang turut menjaga dengan mempelajari tradisi-tradisi tersebut agar tetap eksis disandingkan dengan pergesaran majunya zaman di era globalisasi dengan senjatanya yang disebut teknologi.
 
Motif Batik Gumelem
Kesematan Famtrip Blogger dan Media yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Kabupaten Banjarnegara sebulan yang lalu. Kami berkunjung ke beberapa desa di mana disana terdapat warisan budaya yang utuh dijaga oleh masyarakatnya. 

Kunjungan pertama menuju ke sentra pembuatan batik tradisional. Batik Gumelem dikenalnya. Gumelem sendiri merupakan nama desa yang masuk ke area Kecamatan Susukan, Banjarnegara. Ada dua jenis motif Batik Gumelem, yaitu tradisional dan kontemporer. Yang kontemporer mengikuti perkembangan zaman, seperti contohnya motif gambar kuil jepang. Sedangkan motif tradisional lebih menggambarkan budaya atau kedaerahan tentang Indonesia, seperti ikan, bunga, bambu dan lain-lain. Ciri khas Gatik Gumelem aslinya bermotif udan liris dan rujak senthe. Untuk warnanya cenderung gelap seperti coklat, hitam, kuning dengan karakter bunga-bunga. Dalam perkembangannya muncul pula motif lain seperti semen klewer, dawet uket, parang kembang, sekar bumi, dan kopi banjar. Pada zaman baheula, seni batik disana mendapat pengaruh dari Keratonan Surakarta.
 
Peserta famtrip berpose menggunakan Batik Gumelem
Harga sehelai kain batik tulis Gumelem berkisar antara 150k - 300k. Harga yang cukup murah sekali bukan. Harga tersebut pula masih boleh ditawar. Sungguh disayangkan, pemasaran batik ini masih terbatas penjualan di sekitar Banjarnegara dan marketing word of mouth (promosi dari mulut ke mulut). Kebanyakan pembelinya adalah mereka yang interest seni batik. Sehingga pasarnya masih cukup terbatas. Padahal menurut saya, kualitas Batik Gumelen tidak kalah dengan batik-batik lainnya yang sudah terkenal seperti Batik Pekalongan, Lasem, ataupun lainnya. 

Menjelang siang, kami diajak mampir ke SMP N 2 Susukan. Disana untuk melihat para siswanya praktek membatik yang termasuk dalam pelajaran muatan lokal di beberapa  sekolah di Banjarnegara. Sangat bagus sekali bukan. Budaya membatik yang memang harus dipelajari oleh generasi mudanya. Berharap sekali generasi muda Indonesia dapat mencintai budaya kedaerahan dari hal yang diajarkan seperti ini.
 
Mencanting kain batik setengah jadi
Beberapa siswa sedang praktek mencanting dengan menggunakan melem. Kemudian ada yang mewaranai kain dasarnya. Ada yang menggambar motif di kelas sebelum digambarkan ke kain batik setengah jadinya. Ternyata proses membatik tulis sangat rumit sekali. Bisa-bisa pengerjaannya memakan waktu lebih dari seminggu. Memang sekarang membatik bisa menggunakan teknologi seperti cap (press). Tetapi batik tulis itu rasa seninya berbeda. Intuisi seninya dapet lah bisa dibilang. Berbeda kalo dicap dengan motif yang terlihat biasa saja. Maka itu, membatik sudah sepantasnya harus dijaga dan diletarikan. Saya saja pengen belajar mbatik tulis. Masa iya generasi muda Indonesia gak bisa mbatik, kan payah. Padahal batik sudah diakui UNESCO sebagai warisan dunia dari Indonesia. Maka itu, yuk bangga dan mulai belajar membatik.

Praktek membuat motif yang selanjutnya digambarkan ke kain batik

Gumbeng Alat Musik Penolak Bala

Sore harinya, ada lagi satu tentang budaya Indonesia dari Desa Pagak, Kecamatan Susukan, Banjarnegara. Jujur saja, aku baru tahu pertama kali ketika mengikuti famtrip kemarin. Namanya Gumbeng. Ada yang tahu gak? Jadi Gumbeng adalah alat musik tradisional masyarakat Desa Pagak yang terbuat dari bambu. Alat musik ini hampir sama seperti calung, tetapi ada bagian kulit bambunya yang disayat lalu dikaitkan bagian tertentu. Seperti senar untuk dapat menghasilkan suara ketika dipukul dengan sebilah bambu jua. Sangat unik sekali bukan? Indonesia memang kaya warisan budayanya ya. Makin bangga deh jadi Indonesia. Saya Indonesia. Saya Pancasila.
 
Ini loh gumbeng itu, dipukul untuk menghasilkan suara.
Jenis gumbeng itu ada dua macam yaitu gumbeng dan lindu (sepitan). Bahan baku utamanya adalah bambu wuluh dan bambu petung. Pada zaman dahulu, seni gumbeng ini dijadikan hiburan para petani setelah masa panen. Selain itu dianggap sebagai satu hal yang sakral untuk menghormati sekaligus mengantar Dewi Sri ke kahyangan karena dipercaya telah menjaga dan memelihara tanaman padi petani.
 
Pemain Gumbeng
Kegunaan lain Gumbeng adalah sebagai alat pengusir hama penyakit tanaman maupun penyakit anak-anak kecil (tolak bala). Ada upacara khusus dalam rangka menolak bala dengan kidung jawa. Alat musik ini biasanya ditampilkan khusus hanya alat gumbengnya saja namun perkembangan masa kini warga Desa Pagak mengkombinasikan dengan alat musik lain sebagai pengiring.
 
Diiringi bermacam alat musik dan sinden yang menyanyikan kidung jawa
Di pelataran pendopo, lagu pertama yang ditampilkan tentang Tolak Bala. Arti dari alunan musik tradisional tersebut bukan lain tentang mengusir hama dan penyakit yang ada di dunia ini. Syair mengandung makna permintaan kepada Allah agar tanaman dan penyakit dijauhkan dari masyarakat. Pada lagu yang kedua, kami didengarkan lagu khas para petani yang biasa didengarkan untuk saran hiburan setelah masa panen.

Ketika saya perhatikan, alat musik gumbeng dipukul dengan mengikuti irama kidung yang dinyanyikan. Dengan ketukan yang sama polanya. Sangat menarik sekali. Mendengar musik Gumbeng seketika saya berada di masa entah berantah. Dengan tradisi jawa masa lampau yang masih terjaga. Oh ya alat musik ini dimainkan oleh kebanyakan orang tua (sesepuh) Desa Pagak yang masih menjaga tradisi leluhur mereka agar tidak punah termakan zaman. Semoga warisan ini juga tetap lestari.
Indonesia kaya budaya
 

Ke Banjarnegara, Yuk Mampir ke Pabrik Keramik Klampok


Gampang tapi susah, harus latihan berulang-ulang kek hidup. Butuh proses agar ngebentuk.
Mau melihat proses pembuatan keramik secara langsung di pabriknya? Atau belajar membuat keramik untuk menambah keahlian? Seru banget loh berwisata ke galeri dan pabrik keramik seperti agenda kami saat Famtrip Blogger dan Media yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Kabupaten Banjarnegara beberapa waktu lalu.

Terletak di sebelah barat Banjarnegara sekitar 30 km dari pusat kota. Tepatnya di Kecamatan Klampok Purwanegara, terdapat kawasan UMKM alias sentra keramik yang telah berdiri sejak puluhan tahun silam bahkan hasil produksinya sudah dipasarkan hingga ke mancanegara. Sangat mudah untuk menemukan sentra keramik ini. Berada di Jalan Raya Klampok, sebelah kiri jalan, bangunan tinggi dengan bentuk poci di atasnya berarti anda sudah menemukan Usaha Karya Keramik Klampok
 
Galeri bagian depan
Galeri keramik ini menjual berbagai jenis keramik bermacam bentuk dan ukuran. Guci, hiasan dinding, vas bunga, souvenir, patung berbentuk gajah yang termasuk produk pertama kali pabrikan Klampok, dan kerajinan lainnya. Galeri keramik ini nyatanya tidak hanya menjual produk pabrikan Klampok saja, tetapi dari berbagai daerah di Indonesia.
 
Suka sama keramik ini. Membati coy. Budaya Indonesia banget kan.
Memasuki galeri milik Bu Yanti, kami peserta famtrip #BanjarnegaraAsyik memperhatikan bermacam model keramik yang dipajang. Pada ruangan depan, lebih banyak ditemukan keramik guci dengan ukuran yang variatif dan hiasan ruangan berbagai bentuk. Pada bagian dalam galeri, terdapat rak berisi produk keramik seperti asbak, keranjang kecil, pot, piringan, tatakan satu set poci dan gelasnya. Pada ruang ini, produk keramik berwarna kecoklatan mendominasi. Lanjut ke ruang ketiga, di mana lebih diisi dengan produk vas bunga, cawan, tempat duduk, dan pernak-pernik souvenir berukuran kecil seperti mobil, asbak berbentuk bebek, rumah-rumahan, dan sebagainya.
 
Poci siap kirim
Menariknya, kami juga sempat mengunjungi dapur pembuatan keramik yang letaknya tidak jauh dari galeri tersebut. Di lokasi pabrik, Bu Yanti menjelaskan cara proses pembuatan keramik dari bahan dasar berupa tanah liat hingga menjadi produk jadi yang siap dipasarkan. Saya melihat ada beberapa pengrajin yang sedang bekerja. Ada yang melakukan finishing glasir, membuat tutup poci, mengukir keramik, dan mengangkat keramik yang sudah kering dijemur. Sangat berkesan sekali berada di tempat ini. Melihat langsung proses pembuatan keramik oleh sang ahlinya.
 
Membuat tutup poci
Singkat cerita, awal mula keramik ini merupakan peninggalan pemerintahan kolonial. Maka lazim bila model keramiknya mendapat pengaruh model keramik Belanda. Lantas Usaha Karya Keramik Klampok ini didirkan oleh Bapak Masrundari Sunarno tahun 1969. Beroperasi 25 tahun kemudian, tahun 1994, Bu yanti melanjutkan usaha tersebut sepeninggal almarhum ayahnya. Kini pabrik yang diemban Bu Yanti sebagai generasi kedua memiliki 100 orang pekerja. Setiap bulan, produksinya dapat menghasilkan poci sebanyak 40.000 buah. Raupan  omsetnya pun cukup lumayan karena didistribusikan hingga ke pasar global seperti US, Arab, Afrika dan Asia.

Strategi yang dilakukan Bu Yanti dalam merambah pasar global adalah mempelajari kultur negara yang akan dimasukinya. Sebagai contohnya Jepang,  negara Asia Timur ini lebih menyukai keramik yang minimalis tetapi fungsional. Sedangkan pasar US biasanya lebih prefer ke keramik bernilai seni yang dapat mempercantik interior ruangan. Kemudian cara memasuki pasar US adalah bekerjasama dengan Pier1, sebuah perusahaan handicraft terbesar di Amerika. Untuk sekali pemesanan bisa mencapai 7 unit kontainer.

Keberhasilan usaha keramik ini bukan tanpa usaha yang optimal tentu dengan selalu menjaga nilai-nilai terdahulu. Seperti melestarikan ciri khas utama keramik ini dalam hal bentuk ukiran, ciri utamanya ialah berlubang tampak tegas dengan warna dasar cenderung gelap. Kelebihan lain yang dimiliki adalah kualitas keramiknya yang termasuk  tembikar dengan kualitas keras standar dunia. Sebab sudah terbukti akan produk impornya yang tetap awet atau tidak mudah pecah jika berada di negara bermusim dingin.

Bicara soal kompetitor, dalam 4 tahun terakhir, Vietnam menjadi kompetitor utama dengan keunggulan komparatif pada harga yang relative lebih murah. Hal ini setelah dikunjungi oleh Bu Yanti, faktanya efisiensi biaya pabrikan gerabah di Vietnam sangat ditekan karena mereka masih menggunakan pembakaran tradisonal di mana oven untuk membakar produk keramik dibuat di lereng-lereng gunung yang dikeruk seperti tatakan kayu bakar dan tempat pembakaran keramik. Sementara kalau di pabrikan Klampok sendiri sudah menggunakan sistem pembakaran modern. Pengunaan gas dan mesin oven yang memerlukan perawatan secara berkala, sehingga costingnya lebih besar.

Cara Pembuatan Keramik
 
Bahan utama pembuatan keramik adalah tanah jenis lempung. Tanah ini harus mengandung fesfat, kaolin, dan silika. Material bahan baku didapatkan dari daerah tetangga seperti  Ajibarang, Wonosobo, dan Kebumen. Ada dua cara dalam pengolahan tanah liat yakni diendapkan dan dilumatkan menggunakan mesin. Untuk pengolahan pabrikan Klampok memakai cara diendapkan terlebih dahulu sehingga material yang dipakai sari tanahnya saja. Tentu ini akan menghasilkan kualitas produk yang terbaik pula.
 
Setelah diendapkan, bahan baku ditiriskan menjadi dua jenis yang teksturnya keras dan lembek. Untuk bahan baku keras digunakan untuk membuat keramik seperti patung atau hiasan dinding. Sedangkan yang bertekstur lembek untuk bahan membuat poci. Dalam pembuatan keramik, ada tiga teknik yang dapat digunakan. Diantaranya teknik dengan menggunakan alat pemutar, teknik cetak, dan teknik pilin. Bahan baku tersebut dibuat dengan tiga alternatif teknik pembuatan untuk membuatnya menjadi suatu barang produk.
 
Terakota Poci. Keren ya warna aslinya.
Setelah menjadi terakota (berbentuk), dilakukan penjemuran selama dua hari agar bahan mengeras. Kemudian dilakukan pengukiran sesuai motif tertentu, baru diamplas agar menjadi halus. Langkah selanjutnya adalah finishing glasir (pemberian warna dasar umumnya coklat kemerahan). Namun ada pula glasir dengan memakai kulit telur, pecahan kaca, gedebok pisang, dan sebagainya tergantung kreativitas atas produk yang akan dihasilkan. Disinilah arti seni membuat keramik, terserah pembuatnya melakukan apapun yang penting kreatif. Selesai diglasir, tahapan lain adalah mewarnai dengan cat. Langkah terakhir kemudian pembakaran selama 15 jam dalam suhu mencapai 900-1100 derajat. Jadilah sebuah produk keramik dengan proses yang cukup panjang.
 
Oven pembakaran.
Usaha Karya Keramik Klampok utamanya memproduksi poci mencapai 90% keseluruhan produknya. Selain diekspor, pasar dalam negeri biasanya bekerjasama dengan perusahaan brand minuman teh. Poci tersebut digunakan sebagai alat media penjualan minuman teh ketika melakukan promosi oleh perusahaan. FYI juga nih, poci-poci yang terkenal di Tegal pun produknya buatan pabrikan Klampok loh.

Sentra keramik Klampok ini pula sering didatangi pengrajin dari berbagai daerah untuk belajar langsung menggali kelebihan yang hanya ada di pabrikan Klampok. Pemerintah pusat juga sering mengirimkan pengrajin untuk pemberdayaan dalam mempelajari pembuatan keramik Klampok yang masih menggunakan sistem tradisional dalam proses pembuatannya seperti penggunaan alat pemutar. Selain itu, kunjungan anak-anak PAUD hingga mahasiswa pun dapat melakukan pelatihan pembuatan keramik secara langsung di pabrik. Hal ini bertujuan untuk menumbukan kreativitas dan melatih kewirausahaan mereka. Jadi, kapan kamu mau berkunjung ke sentra keramik Klampok. Penasaran dong? Yuk datang ke jantungnya Jawa Tengah, Banjarnegara!

Desember 06, 2017

Lanskap Apik Dari Bukit Scooter

Bangun pagi berada di daerah dengan suhu udara yang rendah terkadang membuat badan kita terasa mager (malas gerak) dari tempat tidur. Ibarat selimut menjadi kawan terbaik. Terlebih merasakan suhu dingin yang tidak biasa. Hal ini saya alami ketika menginap di D'Qiano bersama konco-konco famtrip Banjarnegara. Pagi buta kami hendak melihat sunrise (rencananya) di sebuah bukit di Desa Karangtengah, Dieng Kulon, Banjarnegara. Sebab akibat mager dan menunggu satu sama lain, kami pun berangkat dari penginapan setelah cuaca sudah terang benderang. Ya its better to late than never.

Peserta famtrip yeay. Halo gaes.
Matahari sudah keluar di ufuk timur. Kami tetap semangat menuju lokasi hiking. Bukit yang kami tuju bernama Bukit Scooter. Sebuah bukit yang menghadap ke lembah dataran Dieng di mana candi Arjuna dan rumah-rumah warga terlihat mini. Hiking untuk sampai ke atas bukit membutuhkan waktu sekitar 10 – 15 menit. Melewati jalanan setapak lalu menanjaki perkebunan milik warga.

Apik lanskapnya
Menaiki bukit ini cukup membuat denyut jantung saya memompa lebih kencang dan mengeluarkan sedikit keringat. Ya karena saya sudah lama tidak berolahraga. Beruntung saja saya membawa air mineral dari bawah. Duduk dan menghirup udara segar. Paru-paru terisi udara bersih. Disambut hangatnya mentari. Suara-suara alam yang enak terdengar. Momentum alam yang begitu epik. Seketika mata dimanjakan dengan keindahan dan pesona Dieng dari ketinggian di kala aktivitas masyarakat mulai bingar.

Sampai di atas bukit, lanskap yang terlihat begitu luas sekali. Gunung di depan saya entah Sumbing atau Sindoro, sepertiga bagian puncaknya terlihat menyombong. Areal perkebunan dengan tanaman sayur-mayur dimana-mana. Lantas di bawah sana, rumah-rumah warga sangat padat berbatasan dengan perbukitan. Di sebelah barat, kepulan asap putih keluar di satu titik panas bumi. Diapit perbukitan jua, namun tertutup lebih banyak, ujung puncaknya saja yang meruncing ke atas. Kalau tidak salah itu adalah Gunung Slamet, gunung tertinggi di Jawa Tengah.

Model hits sebut saja Mba Nuniek (Blogger Kece)
Langit mulai cerah. Seberkas cahaya meliputi ruang di ujung sana. Aku mengamati embun mengumpul di bagian atas rerumputan hijau di tempat itu. Tidak lama kemudian, sang surya menampakkan bayangan silau amat terang. Bukan lagi berwarna oranye tetapi sudah terlihat kuning pucat. Seperti matahari bermuka bayi yang ada dalam film telletubies. Seketika Menari-nari dan diakhiri dengan adegan berpelukan. Eh apa ini? Wes lupakan. Lihat saja pemandangan apik dari Bukit Scooter.


Liat rumputnya, epik ya fenonema alamnya (IMHO)
Di area bukit ini, ada bangunan semi permanen seperti gardu pandang yang sudah usang kayunya. Dua tempat duduk untuk beristirahat. Properti selfie berbentuk hati dan juga semacam gadang dengan atap ijuk. Mungkin untuk tempat meneduh. Kesan yang didapatkan tentu keindahan alamnya. Kami memang tidak mendapatkan sunrise yang sepantasnya akan lebih berkesan lagi momennya. Tapi ini cukup berkesan kok. Sebab tidak ada pesona keindahan alam yang tidak membuat mata menatap lebih lama akan pesonanya. Pokoknya berada di atas Bukit Scooter ini bisa jadi destinasi yang mudah kalian kunjungi ketika berlibur ke Dieng. Treknya masih cukup bersahabat, jika dibandingkan hiking ke Bukit Sikunir apalagi ke Gunung Prau. Salam Pesona Indonesia. Yuk jalan-jalan gaes. 


Taraaaaaa. ada selfie spot berbentuk hati. Jangan main hati disana ya.
Famtrip Blogger dan Media diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Banjarnegara