Oktober 30, 2017

Museum Kereta Api Ambarawa, Destinasi Wajib Kalau Dolan Ke Semarang !

I ♡ AmBarawa
Kami melanjutkan perjalanan ke Stasiun Ambarawa. Melajukan motor menuju jalanan yang aku lihat tadi ketika di spot pandang Wisata Eling Bening. Aku melewati jalanan mulus hingga bertemu perempatan. Kemudian bertanya kepada warga sekitar dan jaraknya sudah tidak jauh lagi. "Hanya sekitar sepuluh menit lagi. Lurus terus, sampai ketemu tugu belok kanan", katanya. 

Di jalan, aku melihat rel melintang di pematang sawah mengarah ke arah barat. Bertemu pertigaan, aku terus mengikuti jalan besar. Sampailah kami di Museum Kereta Api Ambarawa. Memasuki museum ini cukup membayar Rp10.000 saja. Sedangkan untuk menaiki kereta wisata biayanya sebesar Rp50.000 dengan catatan kereta tersebut hanya beroperasi pada akhir pekan dan hari libur nasional dengan batas waktu keberangkatan kereta terakhir pukul dua siang. Sungguh sayang kami melewatkan kereta wisata terakhir.

lorong museum dengan pajangan foto

Lokomotif di area display
Memasuki lorong museum ini, akan ada pajangan foto berisikan informasi mengenai stasiun ini sendiri, tentang jenis-jenis lokomotif, berupa terowongan dan jembatan kereta yang dibangun di Pulau Jawa. Sementara pada sisi kiri, berbagai lokomotif berada di rel kereta berderet bermacam jenis dan bentuknya masing-masing. Ada yang berwana hitam dengan lis berwarna merah. Ada yang bertuliskan kode seri C2821, C5417, D5106 dan koleksi terbaru yakni CC 5029 buatan Belanda yang sudah diamplas dan sepertinya akan dicat ulang agar tetap nampak sesuai dengan aslinya.

Yey, naik lokomotif uap

Lokomotif dengan nomor aset C2821
Ada pula jenis F1002 yang hanya dapat dijumpai di tiga negara lainnya seperti Jerman, Swiss dan Perancis. Lokomotif jenis ini memiliki 6 roda penggerak yang dihubungkan menjadi satu poros tenaga di mana kelebihannya dapat menjelajah wilayah pegunungan dengan radius tikungan minimal 150 meter.

Majunya teknologi masa itu. Lokomotif ini buatan Jerman.
Yang paling menarik kemudian adalah gerbong ijo yang berada di depan lokomotif D5100. Gerbong kereta ini sangat klasik. Bagian dalam gerbong merupakan ruangan kosong yang sepertinya digunakan sebagai alat angkut barang-barang. Lalu di gerbong satunya terdapat undakan kursi kecil dan dua besi dengan pegangannya yang entah apa fungsinya. Gerbong kayu NR ini berguna untuk membantu kereta api yang sedang mengalami gangguan din perjalanan. Bahkan gerbong ini dijalankan ketika hanya terjadi peristiwa luar biasa dengan muatan yang biasanya dibawa seperti dongkrak, kunci, alat potong dan sebagainya.

Klasik banget gerbongnya. Keren banget.

Ini space ruang di salah satu ruangannya

Lokomotif yang menarik gerbong ijo
Aku berjalan ke area stasiun yang dahulu bernama Wilem I. Nama ini diambil dari nama raja pertama Belanda. Diresmikan pada 21 Mei 1873 menghubungkan jalur Kedungjati-Beringin-Tuntang-Ambarawa. Stasiun ini terletak pada ketinggian 474,4 mdpl. Bangunan yang sekarang adalah bengunan kedua yang dibangun tahun 1907, menggantikan bangunan lama yang terbuat dari kayu dengan dinding bambu. Sayangnya pada 1976 jalur ini ditutup. Menyusul dua tahun kemudian dialihfungsikan sebagai museum kereta api.

Pada bagian depannya terdapat pajangan roda bergerigi yang termasuk komponen penting dari lokomotif bergerigi. Benda yang dipajang ini merupakan salah satu dari tiga roda bergerigi yang ada di dunia, selain di India dan Swiss. Aku mengamati roda ini memiliki bagian gerigi pada sisi bagian tengahnya. Gerigi itulah yang bekerja dengan rel gerigi sehingga kereta bisa berjalan dengan aman meski di jalur yang menanjak. Sistem kereta ini sama seperti yang digunakan di Swiss pada jalur sepanjang 9 km dari Kleine menuju Jungfrau, stasiun kereta tertinggi di Eropa yang menembus pegunungan Alpen. Sedangkan di Indonesia jalur kereta dengan sistem gerigi dapat ditemukan di jalur Ambarawa – Bedono yang biasa digunanakan untuk jalur kereta wisata.

Diorama roda gerigi di atas rel yang bergerigi pula di depan Stasiun Willem I
Lalu area loket pembelian tiket yang terdiri dari dua bilik kaca. Tertulis ANNO 1873 WILLEM I pada bagian atasnya. Aku memasuki ruangan itu dari sampingnya. Meja, kursi dan lemari tersusun dengan khasnya oleh benda-benda klasik buatan masa lalu tersebut. Kemudian di ruangan lain, aku melihat benda peninggalan seperti mesin hitung, topi PPKA, stempel plombir, mesin cetak tanggal dan tiket, buku peraturan dan lain-lain  yang digunakan sebagai alat pendukung saat stasiun ini masih beroperasi.

Tata ruangan di loket Stasiun Willem I
Konstruksi stasiun ini menggunakan rangka besi baja sebagai penopang dan tiangnya. Atapnya berupa seng. Pada bangunannya bercorak batubata dengan jendela dan pintu yang dicat hitam pekat. Lorong stasiun berlantai marmer corak persegi ukuran kecil berwarna kekuningan. Disitu terdapat Genta PJL berbentuk tabung yang fungsinya sebagai alat bantu komunikasi. Ada pula sinyal Alkmaar di dalam ruangan yang dibatasi kaca, koleksi loket kayu Stasiun Demak, dan benda-benda peninggalan lainnya.

Lorong di sisi bangunan stasiun. Tua dan terawat.
Di area belakang terdapat gerbong berwarna kuning. Ada informasi peta di dekatnya. Aku berjalan ke depan kembali. Di sisi kanan, bangunan berwarna putih dengan tiga pintu terbuat dari besi yang nampak semacam gudang penyimpanan. Menuju ke arah depan, aku berhenti sebentar di plang tulisan I Love Ambarawa. Mengambil gambar sejenak, juga mengabadikan momenku disana.

Sisi rel sebelah kanan. Tempat naik turunnya penumpang.
Menuju ke depan, ada bangunan dengan bata merah yang sekilas mataku langsung tertuju ke sebelah kanan. Aku mendekati, namun tidak ada apa-apa di dalam ruangannya. Disitu pula, ada meja putar lokomotif yang berbentuk lingkaran. Berguna untuk memindahkan arah lokomotif. Entah masih dapat berfungsi dengan baik atau tidak mesin itu. Relnya terhubung ke arah dipo yang ada di bagian depan. Disana aku melihat ada tiga lokomotif sedang terparkir. Sementara di sebelah kirinya, display lokomotif uap berjejeran rapi.

Meja putar lokomotif di dekat bangunan lama berbata merah. Lagi-lagi keren banget.
Museum ini benar-benar menarik bagiku. Pengetahuan dan informasi sejarah perkeretapian Indonesia yang dimulai sejak zaman Belanda dahulu. Betah sekali membaca literasi yang terpampang pada beberapa benda-benda peninggalan yang tersimpan di museum ini. Tidak apa-apa aku telat menaiki kereta wisata. Lain waktu aku akan kembali lagi ke museum ini. Karena museum ini salah satu museum terbaik tematik “kereta api” yang pernah aku kunjungi. Aku suka museum ini karena penuh cerita dan sejarah. Oh Ambarawa, kelak aku akan kembali lagi.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Instagram