Translate

Februari 02, 2020

Jalanku Masih Panjang

Jalanku masih panjang. Bisikan relung hatiku berkata seperti itu. Ketika menyebrangi JPO KRL Stasiun Tanjung Barat. Aku baru saja mengakhiri zona nyamanku sebagai jongos perusahaan patungan anak BUMN dan swasta. Kerja sama operasi istilahnya. Disingkat KSO. 

Tidak terasa sudah 17 bulan aku bekerja disana sebagai pegawai yang mengurusi adminitrasi terkait perpajakan perusahaan. Melelahkan? Tidak juga. Sesekali iya. Konflik batin? Masih bisa teratasi. Lantas apa? Gaji lumayan. Benefit oke. Pekerjaan tidak terlalu berat. Intinya hal yang plus minus dari pekerjaan. Positifnya lumayan baik. Negatifnya tentu lebih dominan. Setelah ditimbang dan memutuskan.

Keputusan yang cukup cepat bisa dibilang kawan. Faktornya ada banyak sekali. Dari tawaran sahabatku. Dia sohib banget denganku semenjak kuliah. Mencari pembelajaran baru di proyek baru. Mendapat warna baru di awal tahun 2020. Selebihnya mendapatkan tantangan dan harapan baru di Borneo. Ya, proyekku esok di Melak Kalimantan Timur.

Sohibku bilang, "gak usah terlalu ga enakan sama orang lain". Ketika menanyakan tentang perihal resign di akhir tahun 2019 kemarin. Hari Senin Tanggal 23 Desember 2019 akhirnya ku ajukan surat resign ke manajerku. Setelah mendengar kabar itu, sohibku langsung lega. 

Ceritanya masih panjang. Aku masih harus berproses tahap awal di kantor sohibku. Mengikuti alur lamaran kerja yang seharusnya. Meski aku melalui SJOD (sistem jurusan orang dalam) tetapi manajer HRD bersikap adil. Pertama kali, aku wawancara dengannya. Saat itu aku jiper. Ekpektasinya lumayan tinggi untukku. Yang ku ingat dari pertanyaannya diantaranya mengapa mau diajak sohibku padahal kan belum fix jadi karyawan tetap, tahu apa tentang perusahaan itu, mau jadi apa nanti kalau bergabung, apa masih ingat tentang proses akuntansi, apa betah tinggal di proyek seberang pulau dan entah apa lagi yang kami bahas. Sejam lamanya kurang lebig kami melakukan wawancara.

Tahap selanjutnya, aku harus mengikuti MCU,  interview manajer sahabatku/presentasi, dan psikotes. Jadi prosesnya bisa dibilang acak. Sebab aku pun masih bekerja di kantor lamaku.

Ketika MCU, aku izin seharian. Sekaligus presentasi di sore harinya. Nah pas psikotes aku sudah free dari kantor lamaku. Hari Selasa setelah hari kerja terakhirku. Dan hasilnya masih belum tahu, semoga saja berhasil. Kalau semua hasilnya bagus, bisa diangkat jadi karyawan tetap di kantor pusat. Kalau pun tidak, ya kembali jadi karyawan kontrak proyek. Bismillah.

Pukul 10.19 Hari Minggu pertama Bulan Februari. Sudah berlalu saja Januari dengan hektiknya pekerjaan/penyelesaian PR di kantor lama. Februari menjadi awal harapan baru. Tadi aku baru saja meninggalkan rumahku, ibuku, keponakanku, kakakku dan juga Purwokerto. Berangkat kembali ke ibukota. Tapi kini merantau lebih jauh lagi. Menuju calon ibukota baru Indonesia kelak. Meski aku bukan di Penajam maupun Kukar. Melainkan Kutai Barat. Aku akan berangkat awal pertama minggu ini. Kemungkinan Hari Kamis esok menuju Samarinda. Lalu ke Tenggarong. Dan menuju ke Melak.

Proyekku disana adalah pembangunan jalan hauling untuk tambang batubara. Kami membangun infrastruktur dari area tambang menuju ke akses kapal sungai atau bisa jadi smelter. Semoga saja Tuhan masih memberikan kekuatan dan daya upaya untukku dimanapun nanti berada. Bismillah, Jalanku masih panjang kawan. Aku pun berharap masih diberikan kebahagiaan teruntuk ibuku, keluargaku. Semoga proyek ini berproses lancar dan sukses. Aamiin.

Vino beli Roti O. Memori bersama keponakan tersayang, karena dia paling kecil.

Desember 16, 2019

Akhir Pekan, Yuk Jelajah ke Sukabumi (Bagian II)

Kali ini, saya akan melanjutkan cerita singkat short trip ke Sukabumi setelah seharian menghabiskan waktu di area TNGGP (Bagian I). Menjelang maghrib, kami melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Ratu. Keesokan harinya beberapa tempat di sekitar sana akan kami jelajah. Dari Kota menuju ke Pelabuhan Ratu membutuhkan waktu sekitar dua jam. Kami melewati jalur alternatif, melewati luasnya hutan sawit yang ternyata banyak ditemukan di sekitar Kabupaten Sukabumi. Kondisi jalanan mulus untungnya. Sepi sekali. Hanya beberapa rumah. Lalu ketutup hutan sawit lagi. Ketemu lagi rumah yang jarang-jarang.

Alhamdulillah, selama di perjalanan aman. Ya walaupun pikiran negatif ketar-ketir. Bayangan tentang hutan sawit di pulau sebelah yang sering kejadian bajing loncat atau yang dikenal begal. Singkat cerita kami masih mengikuti Gmaps. Sampai hujan kembali mengguyur. Kami berhenti di satu warung makan untuk makan sembari menunggu hujan reda. Tak dinyana, hingga menjelang pukul 9.30 pun hujan masih turun deras. Alhasil, warungnya pun mau tutup. Kami terpaksa menerobos di bawah kegelapan malam. Berteman dengan kesepian. Juga rintik hujan. Sesekali kilat menyala terang. Tentu gelagar suara petir bak menyambut. Kurang lebih sekitar 20 menit lagi untuk sampai di Hotel Mahessa Indah yang sudah kami booking online. Ini pun, kami bertanya ke pedagang sebelumnya, sebab sinyal gawai hilang kawan.

Hotel yang akan kami kunjungi cukup terjangkau dari segi harga. Berada di jalan raya. Alasan kenapa kami memilih hotel ini karena lokasinya di tengah-tengah destinasi yang akan kami kunjungi pada hari kedua seperti lis di bawah ini:

4. Pantai Karang Hawu
Karang Hawu
Tidak jauh dari hotel, ke arah barat. Kami berhenti di pantai ini yang aksesnya mudah ditemui karena dilalui jalan lintas. Di lokasi parkirannya, jejeran warung berjualan makanan dan souvenir. Sekilas dilihat, pantai ini memang biasa saja viewnya. Pantai pasir hitam pada umumnya, beberapa sampah nampak di sekitaran, ombak ganas samudera dari selatan, dan batuan karang.

Sesuai dengan namanya, karang hawu berarti karang berbentuk tungku. Jadi begini kawan, terdapat dua area karang mendatar. Nah diantara dua karang ini, terdapat batu karang yang menjorok ke atas. Berlubang pada bagian bawahnya, sehingga air menerobos masuk. Jika diperhatikan seksama, bentuknya seperti model tungku memang. Nah, dua area karang ini nampak seperti dapur yang lapang. Jadi begitulah arti filosofi nama pantai ini sendiri.

Ombaknya begitu lepas menghantam karang-karang itu. Kalau dikira, tinggi gelombangnya bisa mencapai 3 meter. Air yang menabrak ke batu karang memercik seperti air mancur. Airnya berwarna biru muda. Gulungan ombaknya membuih putih. Garis pantai ini memanjang ke timur. 

Pengunjung yang datang mendekati titik di mana karang hawu berada. Terdapat bendera merah yang diikat pada kayu. Memberi tanda jika lokasi tersebut rawan alias berbahaya. Jadi buat kawan-kawan yang berkunjung kesana, diharap berhati-hati dan tetap menjaga keamanan ya.

5. Kasepuhan Sinarresmi
Kasepuhan Sinarresmi
Perjanana kami selanjutnya menuju lereng Gunung Halimun. Lokasi yang hendak kami tuju adalah Kampung Adat Ciptagelar. Dari pantai, kami harus mengarah ke Cisolok, terus menanjak perbukitan dan hutan-hutan karet. Sampai menemukan plang pertigaan. Jalan tanah berbatu dengan ukuran yang semakin menyempit. Sudah hampir satu jam berjalan, kami tak kunjung sampai. Kemudian kami menemukan padi yang dijemur di pinggiran jalan. Sangat rapi sekali polanya. Digantungkan pada jemuran bambu.
Bahagia banget liat beginian di desa *kembangdesa*
Tak lama, kami menemukan pola pemukiman dengan atap ijuk. Ya, kami berhenti disitu melihat-lihat. Kampung Adat Sinarresmi berlokasi diantara perbukitan, pematang sawah yang luas, jejeran lumbung padi atau yang disebut leuit. Melihat kampung adat ini, rasanya senang sekali. Masih terjaga akan kultur dan tradisi leluhur. Disana kami singgah, berjalan mengelilingi rumah-rumah, lalu melihat ibu-ibu sedang menumbuk padi. Kami permisi untuk mendekat. Ngobrol ngalor-ngidul mengulik tentang lingkungan dan budaya di mana kaki kami sedang berpijak. 

Singkat cerita, padi yang sedang ditumbuk ibu-ibu adalah padi dengan kualitas terbaik yang diambil dari leuit. Dipersiapkan untuk bahan konsumsi Abah Asep (Ketua Adat). Menariknya lagi, kami dipertunjukkan alunan tumbukan alu ke lumpang tradisonal yang menghasilkan suara berirama. Beberapa kali mereka menunjukkan skillnya di hadapan kami. Keren sekali kawan. 
bu-ibu menumbuk padi secara tradisional
Oh ya di kasepuhan ini terdapat galeri seni di sisi kiri, lalu rumah utama yang berbentuk persegi panjang, pemukiman di sisi kanan, dan lumbung yang menyebar. Kalian pasti tahu kan, waktu terbaik berkunjung kesini adalah saat paska panen. Biasanya diadakan acara seren taun yang memiliki nilai untuk bersyukur kepada Tuhan atas hasil panen yang sudah didapatkan dan mengharap agar diberi hasil panen yang lebih baik di tahun berikutnya. Yuk kawan, berkunjung ke kampung adat yang ada di Sukabumi. Sebagai informasi, ada tiga kampung adat disana diantaranya Ciptagelar, Sinarresmi dan Cipta Mulya.

6. Puncak Darma
Lanskap Ciletuh dari Puncak Darma
Pergi ke Geopark Ciletuh, Puncak Darma adalah spot tertinggi yang menyajikan lanskap Ciletuh sebagai pemandangan alam yang bisa dibilang cukup menarik. Persawahan berpetak-petak. Muara sungai berwarna kecoklatan. Pasir pantai melengkung. Kepulan asap hasil pembakaran tanaman padi. Jalan berliku di perbukitan. Villa segitiga atau menyerupai lumbung. Lembah ini sangat luas. Berwarna dominan hijau, corak kuning dan kecoklatan. Beberapa jenis tumbuhan tropis tumbuh jarang. Di atas puncak ini sendiri ditumbuhi tanaman ilalang di sisi jurangnya, terdapat spot selfie, warung yang menjajakan makanan, dan tentunya tempat parkir kendaraan.

7. Air Terjun Cimarinjung
Air Terjun Cimarinjung
Air Terjun ini memiliki rona yang sangat cantik. Seperti berada di taman hutan tropis. Air jatuh dari sisi celah tebing yang tinggi dan betingkat dua. Pohon rimbun di sisi aliran sungai. Batuan besar berwarna coklat seperti bekas endapan lumpur. Keluarga lumut di celah batuan dan karang yang menjulang. Airnya jatuh menjadi tiga aliran. Hewan sejenis kingdom animalia sedang bermain air dan menempel di batuan. Akar pohon yang mengulur jatuh diantara batang. Serius aku betah lama-lama mendengar suara aliran air yang jatuh. Diantara tebing dan pepohan hijau yang menyejukkan mata. Indah sekali.

Benar kawan! Semakin sering aku pergi dan singgah ke pelosok negeri ini. Nyatanya aku semakin terpana. Kaki dan tanganku semakin tergoda. Untuk berjalan lebih jauh lagi. Menyaksikan keindahan lain yang Tuhan ciptakan di belahan lain Bumi Pertiwi ini. Yuk kawan, berkunjung ke Sukabumi. 

Oktober 09, 2019

Akhir Pekan, Yuk Jelajah ke Sukabumi (Bagian I)

Situ Gunung saat diguyur hujan gerimis, syahdu
Halo kawan-kawan semua. Kali ini saya ingin berbagi cerita mengapa saya pergi berlibur ke Sukabumi? Alasannya tidak lain, dekat dengan Jakarta yang tidak menyita waktu banyak. Pun Sukabumi mempunyai banyak destinasi yang patut dikunjungi. Sebenarnya saya tertarik dengan Kampung Tradisional Ciptagelar sejak lama, selain ke Geopark Ciletuh dan Situ Gunung.

Inilah jadwal yang saya buat sebelum berangkat. Jadi kami sudah menyewa motor di kota dan penginapan selama dua hari disana. Oh ya, saya pergi bersama teman kantor saya, Mades.

Sabtu, 13 April
Kegiatan
04.30 - 05.00
OTW ke St. Tanjung Barat
05.32 - 06.30
OTW ke St. Bogor by KRL
07.50 - 10.00
OTW ke St. Sukabumi
10.30 - 11.30
Keliling Kota (Kulineran)
11.30 - 12.30
OTW Ke Situgunung
12.30 - 17.00
Jembatan Gantung, Curug Sawer, Danau Situgunung
17.00 - 19.30
OTW Ke Penginapan Mahessa Indah
Minggu, 15 April
Kegiatan
05.00 - 06.49
Bangun, siap2 jalan ke Ciptagelar
07.00 - 09.00
Kampung Adat Ciptagelar
09.00 - 10.30
OTW Ke Geyser Cisolok
10.30 - 11.30
Geyser Cisolok
11.30 - 13.00
OTW Curug Cimarinjung
13.00 - 14.00
Curug Cimarinjung
14.00 - 15.45
OTW Curung Awang
15.45 - 16.45
Curug Awang
16.45 - 17. 30
OTW Puncak Darma
17.00 - 18.00
Sunset Puncak Darma
18.30 - 21.00
OTW Vermisse Guest House
05.15 - 07.18
Pulang Ke St. Bogor

Kami berangkat dari mess kantor selepas subuh. Sekitar jam setengah enam pagi. Dari St. Tanjung Barat dilanjut naik KRL ke St. Bogor. Sampai di Bogor sudah hampir pukul delapan. Ada kereta ekonomi sedang bersiap-siap di salah satu peron.

Saya menanyakan ke petugas. Tak dinyana, Stasiun Paledang itu ada di seberang stasiun pemberhentian KRL. Jadi dua stasiun ini beda lokasi. Deg-degan dong. Terburu-buru kami langsung lari keluar stasiun, naik JPO dan turun lagi menuju kesana. Di atas JPO, saya melihat kereta sudah melintasi perlintasan sebidang dari Stasiun Bogor. Saya memacu lari lebih cepat lagi.

Ngos-ngosan betul. Untung masih beruntung, sistem tiketnya mengalami gangguan sehingga antrean di pintu masuk masih disesaki penumpang. Setelah lima menit, kami sudah berada di atas kereta yang juga langsung berangkat terlambat pukul 8 pagi.

Pemandangan di sekitaran cukup menarik. Rumah-rumah di atas perbukitan. Aliran sungai dan  gunung-gunung. Bentang alam persawahan yang tampak dari jendela kereta. Jarak selama dua jam, tibalah kami di Stasiun Sukabumi. Perjalanan yang cukup singkat sekali bukan. Ehm tunggu kawan. Beginilah cerita destinasi yang ada di Sukabumi kami mulai.

1. Jembatan Gantung Situ Gunung
Potret jembatan terpajang di Asia Tenggara 
Jarak tempuh dari stasiun sejauh 15 kilometer menuju ke utara. Dengan mengendarai motor yang sudah kami sewa dan berbekal aplikasi penunjuk arah. Nah jadi gini kawan, gak enaknya pakai Gmaps itu kadang alternatif jalan yang dipilih gak selamanya benar juga. Sama seperti yang kami alami, penunjuk arahnya malah melewati jalan pedesaan berkontur naik turun. Sebagian jalanan rusak, justru memperlama waktu tempuh. Sudah hampir satu jam, kami belum juga sampai. Mades masih fokus menarik gas motor. Tersisa sekian kilometer, hujan menyambut kedatangan kami. Hujan membasahi bumi sangat deras. Kami berhenti di bengkel seberang Kantor Desa Gede Pangrango. Menunggu hujan reda.

Jembatan Gantung Situ Gunung merupakan jembatan gantung terpanjang di Asia Tenggara. Berada di dalam kawasan TN Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Sukabumi, Jawa Barat. Jembatan ini membentang sepanjang 243 meter, dengan lebar 1,8 meter, sedang ketinggiannya mencapai 161 meter. Sebagai informasi pula, jembatan ini dibangun hanya dalam waktu empat bulan saja loh. Dilakukan penduduk lokal dan tim ahli dari Bandung. Tanpa menggunakan alat berat konstruksi alias dibuat secara manual.

Sampainya kami disana, kabut tebal melingkupi ruang atas kawasan tersebut. Memasuki Taman Nasional, pengunjung harus membayar tiket sebesar Rp18.500 saat akhir pekan. Kemudian untuk melewati jembatan gantung, kita harus membeli tiket lagi seharga Rp50.000. Sebenarnya pengunjung bisa melalui jalur darat untuk menuju ke Curu Sawer tanpa melewati jembatan gantung.

Dengan harga tersebut, kita mendapat jajanan tradisional seperti pisang, singkong rebus, dan minuman hangat, yang bisa dinikmati di area teater. Sembari menonton pertunjukkan seni tradisional yang dipentaskan. Saat kami kesana, orang memakai topeng menari-nari diiringi alat musik nuansa Sunda. Lalu pengunjung ada pula yang ikut menari di atas panggung.

Untuk melewati jembatan gantung, kita akan diberikan safety harness. Tiket masuk akan dicek terlebih dahulu. Menginjakkan kaki di atasnya, otomatis goyangan jembatan lumayan terasa. Bertapak kayu pada dasarnya, lalu pagar pembatas terbuat dari kawat hampir setinggi 1,5 meter pada sisi kanan kirinya, dengan kawat baja yang mengait ke sling baja sebagai batang penggantung.

Sangat tinggi sekali jika melihat ke bawah. Dasarnya pun tidak terlihat. Sebab dedaunan menutup rapat. Ya betul, pohon-pohon hijau tropis sangat lebat tumbuh subur. Sisa kabut di antara perbukitan masih nampak seputih awan. Sangat alami sekali pemandangannya. Serba hijau, ah alam memang selalu mempesona.

2. Curug Sawer
Pesona Curug Sawer yang menjadi sorotan pengunjung TNGGP
Tidak jauh dari lokasi jembatan, kami menyusuri jalan tanah setapak. Sebagian ada yang berbatu. Melewati area perkemahan/glamping. Menyebrangi jembatan bambu. Turun terus sampai ke bawah. Memutari area warung. Berjalan terus sampai ke ujung. Pepohonan masih banyak ditemui di sekitaran. Jarak menuju curug dari pintu masuk sejauh 1,7 kilometer, namun terpangkas 500 meter karena melewati jembatan. Kurang lebih membutuhkan waktu hampir 15 menit dari jembatan.

Sampailah kami di aliran sungai di mana Curug Sawer berada. Memiliki ketinggian 35 meter dengan elevasi 1025 mdpl. Aliran airnya kecil pada hulunya, jatuh deras membuyar ke bawah. Genangan air di bawahnya berwarna coklat sebab sehabis hujan. Batu-batu besar mengumpul di sebelah kiri. Ya, ada jembatan kecil di dekat curug ini. Sebagian pengunjung menikmati curug ini dari titik tersebut.

3. Situ Gunung
Situ Gunung dikelilingi pepohonan yang tumbuh subur di TNGGP
Untuk sampai ke danau ini, kita bisa menuju ke lokasi parkiran yang berjarak 600 meter dari pintu gerbang. Dari tempat parkir, kita bisa berjalan kaki melewati jalan beton sejauh 500 meter. Jalanan menurun. Danaunya ada di bawah sana.

Sampai di bawah, awan pekat dibumbui kabut yang tampak di atas pepohonan membuat suasana menjadi syahdu sekali. Hanya tersisa sedikit pengunjung yang ada disana. Kami berhenti di pelataran danau. Berdamai dengan ekosistemnya.

Ada perahu bambu, perahu bebek, jembatan apung menuju ke daratan di tengah danau. Saya berjalan melewati jembatan apung melihat sekitaran. Sekumpulan pohon cemara menyapa dengan daunnya. Rintik hujan menyambut saya juga juga saudaranya disana. Tetesannya membentuk pola yang dramatis saat mereka bertemu di antara permukaan air. Jelasnya, kabut pun tidak kalah menunjukkan eksistensinya kepada kami. Entah darimana, mereka keluar di antara pohon-pohon menguap ke udara. Ah Tuhan, damai sekali.

Lalu hujan perlahan mengguyur deras. Saya dan Mades semakin larut berada disana. Kalian tahu kawan, ada seorang bapak di atas bambu apungnya menebar jala. Oh ya kawan, jadi danau ini sendiri cukup luas. Di kelilingi perbukitan dengan pohon-pohon entah apa saja.

tunggu dulu ya kawan, bersambung ke cerita selanjutnya disini.....Akhir Pekan, Yuk Jelajah Sukabumi (Bagian II)

September 17, 2019

Apa Yg Dicari

Terlahir aku bernafas
Tumbuh aku berjalan
Berkembang aku berlari
Seperti bulan dan matahari

Mencari-cari arti
Di bayang kelabu jiwaku
Hentakkan gelora nestapa
Kemana dunia kan membawa

Semua fana dan distorsi
Menyerang membabi buta
Gelap relung batinku
Rabun mata hatiku
Sakit sudah ragaku

Tentang apa yang dicari
Makna kisah yang panjang
Bergelut dengan waktu
Menyesal kan sia-sia

Apa yang dicari
Sakit menggerogoti
Hampir seluruh tubuhku
Rapuh seakan mati


Ditulis 9 September 2019. Di atas pembaringan menuju dini hari saat mata, otak, hati dan tangan belum mau beristirahat dari gemerlapnya dunia ini. 

Cerita Malam Minggu Kemarin

Dava, Kevin, Nindy, & Saya

Kali ini, aku ingin bercerita sedikit. Momen malam minggu kemarin. Ya. Sederhana saja kenapa aku ingin menuliskannya. Jadi begini awal ceritanya sobat.

Sabtu 14 September 2019 adalah hari yang sudah ku siapkan jauh-jauh hari untuk bertemu dengan sahabatku semasa kuliah. Sudah lama aku tidak berjumpa mereka. Kami meet-up di Kokas saat makan siang hingga menjelang sore hari. Aku memang sudah punya lis acara setiap akhir pekan. Maka, untuk sekadar bertemu sahabat ataupun keluarga di Jakarta harus diagenda dari jauh-jauh hari. 

Menjelang maghrib, pulang dari Kokas, saya naik ojol menuju Halte Kuningan Barat. Melanjut naik Transjakarta, lalu turun di Jembatan Dua. Dari halte, saya berjalan menuju ke masjid di depan Taman Kalijodo untuk sholat sebentar. Saya melihat ada bus tingkat rute ke Monas di seberang. Ide mendadak muncul tiba-tiba. 

Sampai di rumah kakakku. Mereka semua sedang bersantai di ruangan bawah. Lalu aku salim, karena sudah hampir sebulan lebih tidak mampir kesini, dan ponakanku pun ikutan salim. Perutku pun lapar. Akhirnya aku mengajak ponakanku Dava untuk jalan keluar. Rencana awal kita mau ke Monas naik bis tingkat. Keluar dari rumah, ada Kevin (teman Dava) di depan rumah. Kakakku menawarkan Kevin untuk ikut ke Monas. Dia langsung masuk ke rumahnya dan mengganti bajunya yang sebelumnya berantakan. Ia baru saja pulang setelah menginap di rumah teman sekolahnya di Cengkareng.

Kami berjalan ke halte di depan Taman Kalijodo. Sudah tidak ada bus di halte. Kami menunggu-nunggu bus yang tak kunjung datang. Sampai pun adzan isya berkumandang. Kami sholat lebih dahulu. Selesainya kembali ke halte. Bus tingkat pun tidak nampak sama sekali. Mungkin sudah bukan jam operasionalnya. 

Saya menawarkan dua anak itu untuk ke Mall Season City saja. Mereka pun menurut. Kami pergi naik G****ar. Hanya sekitar 10 menit saja karena memang dekat jaraknya. Sampai disana, saya mengajak keponakan tertua, Nindy (Kakaknya Dava) untuk menyusul. Dia pulang bekerja pun langsung menyusul. 

Saya bersama dua bocil ini berkeliling mall. Ke lantai atas melihat-lihat ada kuliner apa saja disana. Lalu dua bocil ini mengajak main time-zone. Tapi saya mengajak mereka makan karena saya merasa lapar. 

Setelah bertemu Nindy, kami pun makan di So***ia. Dava dan Kevin menikmati momen malam minggu itu. Ini pun kali pertama saya menghabiskan malam minggu bersama mereka di luar. 

Saat memesan makanan, Dava memilih makanan yang pernah ia makan dulu bareng Nindy. Sedangkan Kevin ikut saja apa pilihan Dava. Mereka memang karib. Pernah dulu, saya ingat sekali saat Kevin selalu membuntut kemana saja Dava main. Mungkin sejak itu pula lah mereka akrab. Dimana ada Dava, disitu ada Kevin. Dava pernah mengeluh karena Kevin selalu ada di sampingnya. 

Saya informasikan fisik dua bocah ini. Dava berbadan gempal, sedang Kevin badannya kurus. Dava berkulit gelap, Kevin berkulit terang. Seperti kopi dan susu ketika mereka duduk bersampingan. Mereka, teman juga tetangga karib. 

Mereka ibarat kakak beradik lah. Pas naik eskalator, Kevin memprotes Dava untuk tidak melihat ke bawah nanti bisa jatoh (sisi luar). Dava tak mau kalah memprotes tingkah laku Kevin. Jadi kakinya dinaikkan ke atas kursi. Dava memprotes, "kakinya gak sopan. emangnya di warteg". Lalu saat saya membayar pesanan di meja kasir. Tahu-tahu mereka membuntuti saya dari belakang. Ada-ada saja dua bocah ini. Memenuhi area kasir saja pikirku. Apalagi Kevin celamitan memegang mesin EDC, mungkin dia penasaran.

Ketika makanan datang, Kevin bilang, "nasinya kok dikit". 
Dava langsung menimpali,"itu mah banyak, karena dicetak aja". 

Iya jadi nasinya berbentuk gitu kan ya. Lalu kami pun berdoa masing-masing. Kevin membaca doa paling kencang. Lalu ketika makan, mereka menyantap makanan dengan segera. Saya pun memperhatikan dua bocil yang ada di hadapan saya.

"Hari ini menyenangkan!", seru Kevin sambil tersenyum. 
Kami semua bertanya heran, "emang kenapa?". 
"Iya, soalnya malam ini makan gratis!", jawabnya. 

Sesederhana itu alasanku menuliskan kisah malam minggu kemarin. Tak lain karena ucapan Kevin yang sedikit indah terdengar.

Singkat cerita, orang tua Kevin itu sudah berpisah. Dia tinggal bareng kakek-neneknya yang juga sekarang sudah berpisah. Sesekali ibunya pulang ke rumah untuk melihatnya. Katanya sih ngekos kerja entah dimana. Sekarang, ayah baru (pacar ibunya) berlaku baik ke Kevin. Suka mengasih uang jajan. Hidup Kevin di masa kecilnya mungkin agak keras, tanpa adanya dukungan kasih sayang kedua orang tua. 

Hal yang lumrah memang. Sebab aku pun punya ponakan yang mengalami kisah yang sama. Teriris hati si empati melihat kenyataan anak-anak broken-home. Sebab saya sangat benci sekali perceraian, ujungnya yang jadi korban adalah anak-anak yang masa depannya masih panjang. Terlepas apa masalah orang tua setelah menikah mengikat janji untuk bersama sampai selamanya, nyatanya, rapuhnya pernikahan siapa yang menyangka. 

Ini pula alasan saya masih berserah dan juga masih mencari orang yang benar-benar tepat untuk mengisi hari-hari saya sampai akhir nanti. Bukan seperti membeli kacang, tidak main-main, apalagi serampangan. Asal cocok, nyambung, nyaman lalu menikah. Tidak hanya itu. Tapi ada hal lain yang harus disamakan, visi, misi, tujuan, dan cita-cita kehidupan yang sama-sama ingin diraih. Saling mendukung, saling memahami, saling menjaga, saling mengalah, saling mengisi satu sama lain. Tidak ada yang benar-benar sempurna memang. Tapi setidaknya kriteria itu harus tetap ada. Sama seperti filosofi Jawa; bobot, bibit, bebet. 

Selesai makan, kami mampir sebentar di P***a**t untuk kakak-dan iparku di rumah, Lalu saya memesan G**b lagi. Bertemu dengan driver berkaki palsu. Ia bercerita kakinya diamputasi karena ditabrak lari tahun 90-an saat tinggal di Sumatera. Sekarang si bapak tinggal di Serpong. Namun ia jarang pulang. Tidur di sekitaran Taman Grogol. Ngegrab sampai larut malam. Begitu terus sampai malam lagi, katanya.

Di sepanjang jalan, kami banyak mengobrol. 
"sudah punya anak berapa mas?", tanyanya. 
"hm belum pak, ini keponakan saya yang di belakang". 
Si bapak terheran, "loh sudah umur berapa mas". 
"25 pak".
"segera lah mas. kan sudah pas waktunya. sudah ada calon? jangan lama-lama mas. nunggu apa lagi?", katanya.
"iya pak segera, insyaa allah".
"tahun ini mas?", masih belum puas dengan jawaban.
"belom pak, doakan saja".

Saya pun terdiam. Sudah hampir sampai juga. Teralihkan dengan pembicaraan lain. Di akhir, si bapak menawarkan pengisian uang elektronik. "Saya baru aja transfer dari mobile banking, terus tidak pegang uang tunai". Si bapak tetap menawarkan, bayarnya ditransfer saja. Saya pun mengiyakan. Menyelesaikan transaksi dan menunjukkan bukti transfer. Ia memakai kacamata plusnya untuk melihat bukti transaksi di gawai saya. 

Sampailah kami di jalan dekat gang tempat tinggal kakakku. Kami turun, lalu berjalan menyusuri gang. Sampai depan rumah. Kevin melongos langsung masuk ke rumahnya. Kami pun masuk ke rumah Dava. Usai pula cerita tentang malam minggu kemarin. Saya hanya ingin mengenang momen lewat tulisan ini. Sebab otak saya tak lagi mampu mengingat memori jangka panjang. Sekian dan terima kasih. 

Semoga banyak pelajaran yang bisa diambil. Kisah rahasia tidak lama lagi akan terbuka satu per satu.