Translate

Agustus 15, 2019

Menuju ke Harapan

Goncangan kapal ini berlayar
Menabrak ombak lautan lepas
Menuju kemana ke pulau-pulau
Mengantar kami para penumpang

Sudah empat jam di atas laut
Kepala pusing perut pun mual
Tercium bau tak sedap
Tak karuan bau perjalanan


Pergi berlibur ke Pulau Harapan
Melintas samudera birunya lautan
Toska warnanya indah dipandang
Singgah sebentar di Pulau Panggang


Reot kayu kapal motor
Bunyi berderit seperti irama
Menyaut suara mesin kapal
Tak mau kalah menyambut Harapan


Langit cerah matahari bersinar
Di lambung kapal aku tergeletak
Di atas pelampung oranye
Mual pusing kembali menyerang
Semoga segera sampai


Ditulis di atas KMP Harapan ketika berlayar dari Dermaga Muara Angke menuju ke Dermaga Pulau Harapan, tanggal 28 Juli 2019, sekitar pukul sebelas siang ketika kapal terombang-ambing di atas lautan. Jadi inspirasi menulis di atas kendaraan menjadi suatu energi positif yang sedang saya coba dan asah. Menarik memang ketika kita berada di keramaian suasana transportasi umum lalu kata-kata sajak ini muncul begitu saja di benak pikiran. Mari bermain kata-kata. 

Beruntunglah manusia mempunyai privilese akal pikiran, perbuatan dan kata-kata - rizkichuk

Juli 21, 2019

Ini Daftar Destinasi Wisata Di Rangkasbitung


Sayang sekali kalau tidak diceritakan. Ini cerita lama (Desember 2018 lalu sih, semoga masih relevan ya). Sungguh memang susah sekali untuk sesegera mengulas cerita perjalanan sekembalinya pulang, kan harusnya fresh from the oven ya. 

Okelah, kali ini ku sempatkan untuk memulai ceritaku saat jelajah wisata di Banten. Kalian tahu kenapa aku berkunjung kesana? Ya. Tidak lain adalah untuk menggenapi kunjungan ibukota provinsi yang ada di Pulau Jawa. Banten adalah kota terakhir. Sebelumnya ke Semarang, Bandung, Surabaya, Jogjakarta, dan tentu Jakarta. Alasan lain adalah jarak. Lumayan dekat dengan Jakarta, sehingga bisa dijangkau saat akhir pekan.

***
Perjalanan dimulai dari Stasiun Tanah Abang pukul 9 pagi. Saya bersama Agus (kawan ekspedisi) naik KRL menuju ke Stasiun Rangkasbitung. Waktu tempuh dengan KRL 2 jam lamanya. Penumpang kereta ramai. Awalnya kami dapat kursi. Nah mulai masuk Stasiun Serpong, semakin banyak penumpang. Akhirnya mengalah untuk orang yang lebih membutuhkan. Ya, saling berbagi itu baik kan.

Sampailah kami di Stasiun Rangkasbitung pukul sebelas. Kemudian keluar stasiun dan berjalan kaki menuju ke pusat kota. Tanpa itinerary, hanya membaca referensi dari Mbah Gugel dan ditemani Kang Maps. Dari peta yang kami baca, jarak menuju Alun-alun hanya sekitar 1,4km saja. Sangat dekat bukan? Dan mengapa kami menuju ke arah sana? Kamu akan menemukan jawabannya di paragraf kedua setelah ini.

Udara Rangkas cukup menyengat. Perut pun sudah keroncongan. Sudah beberapa kali kami melewati warung makan. Tapi tidak berhenti mampir. Kaki masih terus jalan. Hingga pertigaan depan Bank BRI, ada warung padang bertuliskan Serba Rp 10.000 di depan kaca pajangnya. Bahasa marketing sekali bukan? Ya barang tentu kami langsung masuk dan makan disana. Beruntungnya pula, ibu penjualnya baik hati. Kami minta tolong untuk numpang ngecas gawai sembari makan siang dirapel makan pagi. Terima kasih ya bu. Semoga laris manis rezekinya.

Kami lanjut menyusuri trotoar sekitaran kota. Kurang layak ruang pejalan kakinya. Mungkin akunya saja yang terlalu menginginkan trotoar itu musti lebar dan nyaman digunakan kali ya. Kenyataannya negara ini sudah dimanjakan dengan transportasi hasil revolusi industri. Mau bagaimana lagi? Padahal jalan kaki itu seru loh. Apalagi kalau trotoarnya nyaman, seperti di Jalan Sudirman sekarang. Oke lanjut.

Bangunan tua masih tersisa beberapa disana. Jadi Rangkas dulunya sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda di Kabupaten Lebak. Kisah menarik disini adalah tentang seorang kompeni yang berpihak kepada pribumi atas nilai-nilai kemanusiaan saat VOC menguasai Banten. Bernama Eduard Douwes Dekker atau lebih dikenal dengan Multatuli. Pasti kalian pernah tahu nama ini kan? Pendiri Indische Partij, yang dikenal Tiga Serangkai itu loh. Nah, untuk mengenang kisahnya saat menjadi Asisten Residen di Lebak. Pemda Lebak pun membuka Museum Multatuli di seberang Alun-Alun Rangkasbitung. Inilah alasah kenapa saya tertarik berkunjung kesana.

Berikut ulasan trip singkat saya selama di Rangkasbitung:

1. Masjid Agung Al-A'raaf
   

Sehabis makan, kami menuju ke masjid untuk sholat. Bangunan Al-A'raaf lumayan megah. Ruang utama shafnya sangat lapang. Terdapat di lantai dua. Bangunan ini memiliki eksterior dinding keramik berukuran besar. Sedang interiornya cukup sederhana. Bercat biru muda polos. Hanya hiasan kaligrafi pada bagian mihrabnya. Masjid ini memiliki atap limas pada bagian tengahnya. Memasuki pintu utama yang dapat diakses melalui tangga dari sisi jalan bagian barat alun-alun. Ada satu menara masjid beratap runcing bertuliskan الله. Tentu masjid ini menjadi tempat ibadah yang tidak bisa kamu lewatkan kalau berkunjung kesana.

2. Alun-alun


Keluar dari masjid, kami menyebrang ke alun-alun. Sama seperti alun-alun di banyak kota-kota di Jawa. Bedanya, tidak ada pohon beringin di area tengahnya. Pohon berdaun rindang hanya tumbuh di pinggirannya saja. Terdapat tulisan Alun-Alun Rangkasbitung mengarah ke Jalan Multatuli. Di dekat situ, terdapat warung kaki lima yang bisa kita coba. Menjual aneka makanan dan minuman. 

Suasana sekitaran alun-alun cukup sepi. Kondisi jalan pun cukup lengang. Tidak banyak kendaraan lalu lalang. Terasa plong. Masih ada andong lewat juga loh disini.

3. Bekas Rumah Multatuli


Berbalik arah ke pertigaan Jalan Kejaksaan. Lalu berbelok ke Jalan R.T. Hardiwinangun. Rumah pertama tepat sebelah kiri. Kami sudah di depan Multatuli Huis. Rumah bercat putih dengan selasar kecil. Sayang sekali rumah ini dipagar dan terkunci gembok sehingga kami tidak bisa masuk ke area dalam. Rumahnya pun kosong. Rerumputan tumbuh liar di halaman. Batang pohon menjulur ke bawah, entah pohon rindang apa yang tumbuh di sisi kanan luar rumah. 

Sayang sekali. Akan lebih baik jika rumah peninggalan ini dijadikan museum atau diperuntukkan komersial. Kan kalau terawat, historisnya terjaga, membuktikan kalau kita benar-benar tidak melupakan sejarah bangsanya. Seperti apa kata Bung Karno.  

4. Makam Pahlawan Sirna Rana


Memang saya harus berterima kasih kepada kaki. Yang terus kuat melanglang buana. Yang tetap melangkah walaupun lelah. Yang terus berjalan entah kemana. 

Kami terus melangkah melewati Dinpar. Sebelahnya persis, tangki air usang menjulang di area makam. Kami pun mampir ke makam itu. Menaiki anak tangga dari sisi atas karena letaknya di tanah berbukit. Kami masuk dari area pemakaman umum. Dari situ hanya melihat-lihat pusara yang berjejer rapi.

Makam Pahlawan Rangkas cukup sempit. Semuanya disemen seragam bercat warna hijau dengan helm tentara di setiap makamnya. Terima kasih dan doa untuk para pahlawan kita yang gugur disana.

5. Museum Multatuli


Berlanjut ke Jalan Watanpra, lalu berbelok ke Jalan R.M. Nata Atmaja. Bangunan pertama sebelah kanan ialah bekas kantor dan kediaman Wedana Lebak yang dibangun 1920. 

Setelah direnovasi sesuai bentukan aslinya, kini difungsikan sebagai Museum Pemerintah Kabupaten Lebak. Museum Multatuli diresmikan pada Mei 2017 lalu. Mengangkat nama Multituli sebagai penulis Max Havelaar yang dituliskan oleh Eduard Douwes Dekker saat menjabat sebagai Asisten Residen Lebak pada Januari hingga Maret 1856. Ia hanya menjabat selama 82 hari saja.  Namun, ia menerbitkan karya novel mendunia yang diterbitkan pertama kali 1860 di Eropa. Ia menuliskan penderitaan pribumi akan sistem tanam paksa (kolonialisme).

Multatuli memang peranakan kompeni, tetapi ia lebih pro kepada pribumi sebab nilai-nilai kemanusiaan. Ia menginginkan Hindia untuk Hindia. Sampai-sampai ia menolak sistem tanam paksa dengan menggulirkan politik etis untuk kesejahteraan pribumi. 

Museum ini tidak hanya berisi tentang kisah Douwes Dekker dan bukunya. Tetapi banyak ulasan sejarah kolonisasi, sejarah tentang Lebak, Rangkasbitung dan Banten. Memasuki ruang utama, kita akan melihat foto WPAP Mutlatuli dengan tulisan "Tugas Manusia Adalah Menjadi Manusia". Lalu masuk ke lorong diorama kopi dan rempah-rempah.  Terdapat alat giling kopi tradisonal. Terdapat pula hibah dari Museum Multatuli yang ada di Amsterdam, yakni litografi dan ubin bekas kediaman Multatuli, novel Max Havelaar berbahasa Perancis terbitan 1868, serta peta Rangkasbitung zaman dulu. 

Sangat menarik sekali dapat berkunjung ke museum ini. Kita bisa tahu jejak sejarah apa yang tertambat di Banten. Sedang di halaman luar, terdapat patung Multatuli sedang duduk di kursi memegang dan membaca buku. Apakah ia sedang membaca bukunya sendiri?

6. Perpustakaan Saidjah Adinda


Bersebelahan dengan museum, kami bergeser ke perpustakaan. Belum beruntung, jam kunjungan sudah tutup saat kami masuk kesana. Bangunan perpustakaan ini berbentuk lumbung padi (leuit). Kami sempat masuk ke dalam setelah izin ke petugas pelayanan untuk melihat sejenak. Koleksi bukunya cukup banyak. Ruangannya bersih dan rapi. Dengan meja baca yang cukup banyak. Ada ruang belajar juga. Kabar baiknya, perpustakaan ini memiliki akses untuk difabel (jalur kursi roda). Patut diacungi jempol kan. 

Demi mewujudkan gerakan literasi menuju Indonesia emas memang harus membuat perpustakaan menjadi tempat yang bisa diakses siapapun dengan nyaman, aman dan betah untuk lama-lama disana.

6. D'Vara Cafe


Perjalanan kami tutup dengan makan malam di kafe ini. Kami memesan kentang goreng, pisang coklat, lemon tea dan jus mangga. Cukup ramai pengunjungnya kala senja itu. Menu makanannya cukup beragam. Ada live-music pula di lantai dua. 

Letak kafe ini di dekat bekas kediaman Multatuli. Ruang interiornya cukup berwarna. Pernak-pernik di dinding. Lukisan. Lampu gantung. Enaknya ada sofanya juga, jadi empuk kan kalau nongkrong lama-lama. Hehehe. Lumayan rekomen lah kafenya.

Berkunjung seharian di Rangkasbitung pun usai. Kami kembali ke stasiun untuk melanjutkan perjalanan ke Banten Lama. Kami menaiki kereta ekonomi menuju ke Serang pukul 8 malam. Harga tiketnya Rp4.000 saja. Tiketnya hanya bisa dibeli di stasiun langsung. 

Sekian ulasan destinasi yang ada di Rangkas. Semoga bisa balik lagi kesana, karena kaki tangan rizkichuk belum sampai ke Baduy. 

Oh ya baca lanjutan perjalanan Banten disini:

- yg lain menyusul.

Juni 24, 2019

Mendadak ke Indofest

11 Maret 2019

Hari ini ada kecelakaan kereta listrik di Bogor. Anjlok dari perlintasan. Membuat dua gerbong paling depan keluar jalur. Tiang listrik turut roboh. Evakuasi gerbong baru dilakukan malam ini. Nan jauh di Addis Ababa, pesawat Boeing 737 Max jatuh setelah lepas landas menuju Nairobi Ethiopia. Semua awak kabin dan penumpang hampir tiga puluhan negara tewas. Kurang lebih 130-an orang berada di pesawat yang menyisakan puing di lahan tanah yang berserakan.

Tentang kecelakaan, semalam terlintas ketika aku pulang menuju mess kantorku. Aku turun di Tanjung Barat dengan ojek online. Ketika memutar balik melewati jalur rel, alarm kereta sudah berbunyi. Sepertinya kereta terakhir menuju Bogor karena sudah pukul 12 malam. Aku melongok kanan kiri. Lampu sorot kereta nampak di jalur tikungan. Belum dekat memang. Namun imajiku resah kalau terjadi yang tidak baik. Tak dinyana, rupanya pikiran negatif itu terjadi di pagi ini. Berita kecelakaan KRL menjadi headline media online.

Kamu tau. Aku sedang menderita. Bukan sakit. Tapi penyakit yang susah untuk diobati. Rasa malas. Aku sedang malas dua hari belakangan. Alhasil aku hanya leye-leye di kamar. Keluar mess hanya mengisi perut. Tidur siang. Makan siang. Bermain game hingga sore.

Mendadak aku melihat postingan Indofest di instagram. Fiersa Besari manggung di acara outdoor malam hari. Akhirnya aku mandi pergi ke JCC bersama seorang teman. Kami pergi naik Transjakarta menjelang senja.

Ramai sekali pengunjung yang datang. Disana aku menonton Fiersa menyanyikan beberapa lagu karyanya yang lagi digandrungi banyak anak muda. Aku hanya tau satu lagunya yang melow. Ya, judulnya Waktu Yang Salah. Disana pula, aku berpapasan dengan travel influencer Schode di area stand produk ethnic craft.

****

Manusia yang tidak tahu masa depannya ini sudah berumur 25 tahun lebih sepuluh hari. Ya, aku baru saja mencapai titik seperempat. Di persinggahan ini aku merasa semakin tidak paham tentang jalan apa ke depan.

Seperempat sudah. Aku belum siap akan banyak hal. Siklus selanjutnya yang masih rahasia. Tambatan mimpi yang pernah ku derai. Apa bisa dicapai sedemikian kisah.

Malam kegelapan. Aku terbaring di atas kasur dengan hembusan kipas angin yang berdesir. Sedikit semilir dingin mengenai.

Sudah Seperempat Abad


Gila. Aku merasa ini benar-benar gila. Rasanya begitu cepat sekali sudah berada di titik seperempat ini. Kencang sekali. Ya, menjalaninya memang terasa. Pas sampai, semua sirna. Lelah sudah lupa. Bahagia jua semu. Sedih pernah meronta.

Antara sadar atau halu. Aku melihat sekelilingku. Nyatanya tidak banyak yang berubah. Ya aku masih merasa sama. Beda ketika aku melihat keluar. Mereka seolah sudah jauh pergi lebih dulu dibanding aku. Padahal setiap insan melalui proses yang tentu berbeda.

Apa yang pasti. Ingin rasanya aku mengulang. Apa iya bisa. Membuka kembali lembaran hitam dan putih sebelum tiba di jalan perempatan ini.

Dalam gerbong KRL menuju St Angke, kereta ini turut mengantarkanku menuju entah kemana. Aku berimaji kembali ke belakang. Padahal kereta melaju ke depan. Dia punya tujuan. Sedang aku entah mau kemana. Masih gelap dan belum siap. Entah belum menerima atau masih terbayang akan ketidakpastian ruang dan waktu.

Masa depan memang membuatku takut. Orang pecundang selalu takut akan ketidakpastian. Mirisnya aku mencundangi diriku sendiri. Padahal banyak kemungkinan yang belum mungkin atau bisa jadi baru akan mungkin terjadi. Apa aku lupa ada penguasa yang amat sangat besar. 

Aneh sekali manusia satu ini. Dia sama sekali tidak tahu tujuan masa depannya. Gila. Ini benar-benar parah.

9 Maret 2019 (ditulis dalam keriuhan malam)

Desember 17, 2018

Pecak Bandeng Khas Banten, Rasanya Nikmat Menggigit Lidah

Pecak Bandeng dan Udang Bakar
Berkunjung ke Kota Serang Banten, ada kuliner khas yang rekomen untuk dicicipi disana karena rasa kelezatannya. Pecak Bandeng namanya. Kunjungan ketika mengeksplorasi wisata Banten Lama, saya sempatkan mencoba kudapan Rumah Makan Pecak Bandeng yang berada di Jalan Raya Pontang Km 10 Sawah Luhur.

Mampir ke saung makan ini, tidak lain setelah mendapat informasi dari Aghi yang baru saja kami temui beberapa puluh menit yang lalu di halaman Museum Banten. Teman baru kami ini, akhirnya menemani perjalanan kami di Banten Lama hingga menjelang sore hari.

Aghi rupanya suka jalan sama seperti kami. Bedanya dia sudah melanglang ke destinasi luar negeri. Sedang Aku dan Agus masih terlalu cinta sama Indonesia. Klasik terdengar. Ya, itu alasanku saat ditantang Aghi untuk ke luar negeri. Alasan besarnya adalah keterbatasan waktu dan dana. Di mobil, kami banyak berbagi cerita perjalanan. Sampai sepakat, Aghi mau mengantarkan kami ke beberapa titik wisata yang bisa dikunjungi.

Perjalanan ke Banten bisa dibilang tanpa perencanaan yang matang. Bahkan semalam, kami hampir menggelandang sebab tidak mendapatkan motor sewaan sehingga merubah itinerary yang sudah saya buat sebelumnya. Kenapa berkunjung Banten adalah selain jaraknya yang dekat dengan Jakarta, saya mempunyai misi untuk menuntaskan enam kunjungan ke ibukota provinsi yang ada di Tanah Jawa. Jakarta, Jogja, Surabaya, Bandung, Semarang dan terakhir Banten tercapai juga. Ya walaupun dulu ketika tinggal di Sumatera, saya sering melintasi kota ini dengan kendaraan bus lintas provinsi lintas pulau. Faktanya, misi eksplorasi ini turut memenuhi rasa penasaran saya akan jejak rekam sejarah dan momen besar bangsa ini lima abad silam.

Setelah berkeliling cukup lama di Istana Kaibon, kami hendak menuju ke destinasi berikutnya yaitu Masjid Agung. Jalanan mulai tersendat ketika melewati jembatan bercat warna-warni. Bermacam jenis kendaraan mengarah ke masjid. Hingga akhirnya, Aghi memutarbalik laju mobilnya. Berbelok ke kiri menuju ke utara lalu sedikit ke timur. Melewati areal tanah rawa yang kering dan lapang. Banyak tambak ikan berjejeran di sisi jalanan yang kami lalui. Kondisi jalanan cukup lengang. Sangat berbeda jauh dengan kondisi jalanan ketika 10 menit yang lalu. Pun tidak jauh jaraknya. Hanya enam sekian kilometer saja.

Saung pengunjung berada di sebelah utara
Plang bercat biru dengan gambar ikan terbang ke atas permukaan menjadi tanda rumah makan yang kami tuju. Sisi kanan adalah rumah sekaligus dapur pemilik warung makan, sementara lokasi saung untuk pengunjung terdapat di sebrang kirinya. Saung gubuk dengan bilik tempat makan bernuansa lesehan tertata cukup lapang. Tepat membelakangi tambak dengan genangan air berwarna kuning kecoklatan. Tumbuh sebaris tanaman bakau di tenganya. Jauh di depan sana, ada beberapa gubuk kecil. Kontras berdiri diantara luasnya dataran yang dipenuhi rerumputan kering. Seketika menjadi titik fokus indera penglihatanku.

Rumah-rumah kecil diantara dataran yang mengering
Setibanya disana, saya, Agus dan Aghi langsung memesan Pecak Bandeng, udang bakar, kang kumis (kangkung), dan es tawar di kertas menu yang disediakan. Saya menyaksikan di meja pengunjung yang lebih dulu datang, sajian ikan di tengah-tengah mereka. Tentu menambah rasa penasaran saya dengan kuliner khas yang satu ini.

Suasana rumah makan semakin ramai. Orang datang silih berganti. Bukan hanya karena waktunya makan siang. Namun ternyata tempat makan ini sudah begitu terkenal. Aghi sebagai guide kami menjelaskan kalau rumah makan ini memang pionir Pecak Bandeng khas Banten. Orang jauh (pengunjung) sering datang untuk langsung menikmati Pecak langsung di tempat ini. Menawarkan suasana yang berbeda meski bukan di pinggir pantai, melainkan di area lahan rawa yang sudah mengering.

Barisan pohon bakau di belakang saung
Tidak lama, makanan kami datang. Sebakul nasi. Tiga porsi ikan bandeng tersaji di atas piring tembikar beralaskan daun pisang dengan sambal pecak di atasnya. Sepiring sayur lalapan, seperti kol, mentimun, kemangi, dan entah daun apa namanya untuk yang satunya. Tiga mangkuk sayur asem dan tumis kangkung. Setusuk udang bakar dengan sambal ijo. Sangat menggoda sekali. Tapi hal pertama yang saya lakukan adalah memotret makanan. Hehehe. Sindrom generasi milenial seringnya mendahulukan jepretan kenangan, baik untuk tujuan yang penting maupun yang tidak bernilai sama sekali. Ya cukup lima menit saja kok.

Aghi dan Agus menikmati dalam diam, saking nikmatnya apa laper nih.
Barulah kami menyantap makanan yang tersaji. Sesaat kemudian hening. Hanya tangan, mulut, lidah, gigi dan tenggorokan yang bekerja. Mencerna rezeki makanan yang ada di hadapan kami. Saya memperhatikan sambalnya terlebih dahulu. Pecak yang saya amati adalah kombinasi cabai, bawang merah, terasi dan jeruk nipis. Bumbu dapur itu digiling dengan tekstur kasar. Sedikit berair sehingga membasahi ikan.

Saya mulai mencicipi ikannya. Durinya cukup banyak terasa. Saya berhati-hati makan daging ikannya sebab tulang durinya kecil dan halus. Lain dengan ikan bandeng presto (duri lunak), santapan ini berupa ikan bandeng segar, dimana proses masaknya dibakar lalu dilumuri sambal pecak. Rasanya menggigit di lidah. Pedasnya membuat nagih dan nikmat.

Sebagai penikmat menu ikan dan rasa pedas, tentu saya doyan menghabiskan kuliner Pecak Bandeng. Agus dan Aghi juga lahap menikmatinya sampai menyisakan piring yang kosong. Saya tidak ketinggalan. Menyusul mereka. Memakan udang, kangkung, ikan. Lalu mencicipi sayur asem. Hanya tersisa lalapan saja yang belum dimakan. Saya sangat menikmati ikan bandeng bahkan sampai ke bagian kepala dan ekor. Alhamdulillah, kenyang. Terasa nikmat sekali.

Sebagai informasi, harga makanan yang kami pesan pun begitu terjangkau. Sesuai dengan kantong teman pejalan. Makan bertiga dengan porsi sedang merogoh kocek sebesar 119k saja. Per orang hanya 40k kalau dirata-rata. Sangat rekomen sekali bukan. 

Sekian ulasan saya berbagi tentang kuliner khas Pecak Bandeng. Tentu kalian harus merasakannya sendiri ya. Kalau berkunjung ke Banten, bisa banget untuk mampir ke warung makan yang terletak di Sawah Luhur. Rasakan sensasi kenikmatan Pecak Bandeng, satu kuliner jawara khas Banten.