Translate

Oktober 16, 2021

Kenangan Berlibur ke Danau Toba

April 2021 lalu, saya berkesempatan mengunjungi Danau Toba setelah sekian lama mengimpikan destinasi satu ini ke dalam wishlist saya. Saya berangkat dari YIA menuju Kuala Namu. Singgah di Kota Medan lalu memulai perjalanan dari sana. Dari Medan, saya berangkat menggunakan kendaraan KPT (Kevin Pratama Trans) bersama teman saya menuju ke Parapat dengan tarif Rp45.000. Sampainya di Parapat, kami menginap di Hotel Sedayu yang saya pesan melalui online.
Lanskap Kaldera Toba dari Tele

KMP Ihan Batak

Esok harinya, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Samosir melalui Pelabuhan Ajibata. Kami menaiki KMP Ihan Batak untuk menyebrang ke Pelabuhan Ambarita. Tarif untuk orang dewasa adalah Rp10.000 , sedangkan kendaraan motor sebesar Rp15.000.

Penyebrangan kala itu cukup ramai dipenuhi wisatawan lokal. Geladak kapal dipenuhi kendaraan roda empat dan roda dua yang hendak ke Samosir. Kapal yang saya naiki dikelola oleh PT. ASDP Indonesia Ferry. Kapalnya tergolong bagus dan tampak baru. Dilengkapi fasilitas ruang utama, deck luar, toilet dan kantin yang membuat saya merasa nyaman berada disana Penyebrangan ke Samosir ditempuh selama satu jam lamanya.

Tiba di Pelabuhan Ambarita
Sampai di Samosir, saya mulai terpukau dengan lanskap alamnya. Jalanan di pulau itu sangat halus dan lebar. Dengan kontur berkelok. Di sebelah kanan pemandangan danau, sedangkan pada sisinya perbukitan Samosir. Tujuan pertama, kami mampir ke Masjid Al Hasanah di Pangururan untuk beribadah sholat Jumat. Sebelum berangkat. saya mencari informasi dan lokasi masjid melalui G-Maps yang hanya ada satu-satunya di Pulau Samosir.

 Masjid Al-Hasanah

Selesai ibadah, kami berangkat ke Menara Pandang Tele. Perjalanan ke Tele, topografi yang dilalui adalah perbukitan dengan tanaman rerumputan dan sebagian pohon besar. Jalan yang dibangun berkelok-kelok mengikuti punggungan bukit. Tampak Pusuk Buhit meninggi nan cantik. Saya terkagum dengan lanskap yang terpampang disana.

Tak lama kami sampai di Spot Tele. Dari sini, kami memandang Pulau Samosir dari arah barat yang menghadap ke Bukit Sibea-bea. Pada sisi kanan, bukit yang megah meninggi dan tampak datar pada bagian atasnya. Pada satu bagian di bawahnya, terdapat sebuah air mengalir jatuh tepat diantara apitan bukit. Pemandangannya sangat indah sekali.

Destinasi selanjutnya menuju ke Bukit Sibea-bea. Lokasi ini viral di media sosial karena lanskapnya yang apik. Pengembangan wisata religi sedang dibangun yakni Patung Yesus sebagai atraksi yang melengkapi pesona Danau Toba dari Kecamatan Harian. Akses jalan yang berkelok-kelok di atas bukit menjadi spot yang menarik pula untuk menangkap momen. Lagi-lagi saya terkagum dengan Wonderful-nya Indonesia di Tanah Toba.

Pengunjung sedang berfoto di depan Patung Yesus
Air Tejun Efrata
Tidak jauh dari Sibea-bea, kami pergi ke Air Terjun Efrata yang kami lihat dari atas Puncak Tele. Air terjun ini menyuguhkan pesona dengan debit air berwarna kecoklatan yang cukup deras. Pada bagian dasar sungainya tidak terlalu dalam. Di sekeliling areanya, pepohonan hijau meranggas tumbuh diantara bukit. Awan putih dengan paduan langit biru menambah keeksotisan air terjun ini. 

Sayangnya akses menuju lokasi ini, jalanan warga yang kami lewati rusak berbatu. Banyak pula, batuan besar berserakan di tengah area ladang persawahan tersebut. Aktivitas penduduk lokal sedang bertani. Saya sangat kagum dan ingin lama-lama berada disana. Di bawah ujung jalan sana, jutaan kubik air mengisi pandangan mata saya.

Destinasi Desa Tomok khas dengan rumah adat bolon dan pertunjukkan Patung Sigale-gale. Sebelum mencapai lokasi ini, kami melewati pasar oleh-oleh khas Pulau Samosir. Beragam kriya dan kuliner bisa kita temukan di tempat ini. Sore itu, hanya sedikit wisatawan saja yang ada disana. Kami menikmati pertunjukkan sigale-gale. Musik gondang sembilan menjadi pengiring tarian tor-tor yang dibawakan pengunjung. Kami turut memakai kain ulos mencipta momen yang berkesan.

Desa Wisata Tomok pasca Covid-19

Seharian mengelilingi Pulau Samosir memberikan pengalaman indah dalam hidup saya. Bahkan saya ingin sekali untuk kembali lagi ke Danau Toba. Mengunjungi destinasi lainnya yang belum sempat saya singgahi. Toba tak hanya sebongkah Pesona Indonesia di Pulau Sumatera, namun lebih dari sekadar itu. Toba berpotensi maju menjadi destinasi yang berkelas jika dikemas dengan baik dan tepat. Pada akhirnya Toba akan mewarisi alam budayanya bagi wisatawan dunia.

Patung Yesus Kecil Bukit Sibea-bea
Jalanan berkelok Bukit Sibe-bea

Kaldera Toba : Destinasi Super Prioritas Untuk Menjadi Destinasi Global

Danau Toba tak sekadar menyajikan pemandangan alam yang biasa. Lanskap Kaldera Toba tidak diragukan lagi keindahannya. Dari sisi manapun wisatawan berpijak, pengunjung bisa mendapatkan sudut pandang yang berbeda-beda. Budaya yang ditawarkan pun sangat menarik. Kearifan lokal dan budaya Batak melekat berdampingan dengan kehidupan masyarakatnya. Masyarakat yang tersebar di tujuh kabupaten sekitaran Danau Toba sejak dulu melestarikan tradisi leluhur mereka sehingga Heritage of Toba dapat eksis di masa kini hingga untuk generasi selanjutnya.

Pemandangan Danau Toba dari Bukit Sibea-bea

Pesona Danau Toba sebagai warisan dunia semakin nyata dengan label “UNESCO Global Geopark” pada tanggal 2 Juli 2020. Sertifikasi tersebut menjadi langkah awal yang positif untuk menyusun strategi pengembangan destinasi yang akan diterapkan. Dengan adanya pengakuan ini, Danau Toba diharapkan akan semakin berkembang. Menyolek potensinya dengan peningkatan sumber daya manusia yang berdaya saing. Berinovasi dan berkreativitas sebagai destinasi super prioritas. Mempersiapkan destinasi yang ada di Danau Toba sebagai pilihan tujuan wisata yang memikat. Lantas kemudian bersiap untuk menjadi destinasi global yang berkualitas dan berkelanjutan.

Konsep pariwisata berkualitas dan berkelanjutan merupakan hal penting yang harus diterapkan. Konsep ini mengacu keberpihakan akan lingkungan, sosial budaya, dan ekonomi agar berjalan secara beriringan dan seimbang. Hal ini merupakan wujud gagasan Sustainable Development Goals (SDGs) yang telah disepakati negara-negara dunia. Bertujuan untuk menjaga eksistensi pariwisata masa kini, masa depan dan untuk generasi mendatang.

Setelah ditetapkan menjadi salah satu destinasi super prioritas oleh pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Berbagai pengembangan dilakukan sampai dibentuk suatu Badan Otoritas Pengembangan Danau Toba (BOPDT) untuk mengelola destinasi yang diharapkan menjadi penggerak ekonomi lokal. Aksesibilitas, amenitas, kualitas sumber daya lokal, industri kreatif, dan atraksi wisata digeber dalam beberapa tahun terakhir. Keseriusan pemerintah menggarap Danau Toba dilakukan sebagai upaya untuk mempersiapkan Danau Toba sebagai destinasi wisata yang berkualitas dan berkelanjutan.

Strategi pengembangan Danau Toba oleh pemerintah sudah cukup baik meskipun belum memberi keuntungan yang optimal. Upaya tersebut diantaranya dimulai dengan penguatan konektivitas dan infrastruktur dengan dibukanya Bandara Internasional Silangit. Pembangunan dermaga dan penyediaan kapal penyebrangan KMP Ihan Batak. Pengembangan wisata nomad yang menyasar milenial dengan wisata glamping dan desa wisata. Strategi tersebut dilakukan agar tetap menggenjot geliat pariwisata di kancah nasional.

Upaya pemerintah sempat mengalami tantangan dengan munculnya wabah Coronavirus. Wabah ini berdampak pada anjloknya kuantitas wisatawan lokal maupun mancanegara. Yang mana mempengaruhi pertumbuhan ekonomi pada lini bisnis pariwisata. Pemerintah dengan sigap membangkitkan kembali gairah sektor ini. Kiat yang dilakukan seperti Beli Kreatif Danau Toba yang mengkampanyekan Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia untuk menyelamatkan para pelaku ekonomi kreatif dalam menghadapi pandemi. Selain itu, penerapan protokol CHSE yakni kebersihan (cleanliness), kesehatan (health), kemanan (safety), dan kelestarian lingkungan (environment sustainability) pada suatu destinasi wisata merupakan hal yang wajib diterapkan sehingga pelaku wisata dan wisatawan dapat beradaptasi di era pandemi. Hal ini bertujuan untuk menciptakan rasa aman, nyaman, dan pulang dengan membawa kenangan yang berkesan.

Kampanye berwisata dengan tagar #DiIndonesiaAja pun turut digaungkan untuk membangkitkan gairah sektor pariwisata Indonesia pasca pandemi. Potensi wisatawan domestik memberi semangat baru terhadap pelaku wisata dan ekonomi kreatif.  Meskipun turun sebanyak 30% dari tahun 2019, total wisatawan lokal pada tahun 2020 sejumlah 198.246.000 adalah peluang yang sangat menjanjikan. Strategi ini diharapkan akan memberikan hasil yang positif. Namun yang perlu dihadirkan adalah strategi ciamik apa yang harus dipromosikan sehingga mampu menarik pasar wisatawan domestik yang sebelumnya suka bepergain ke luar negeri menjadi beralih untuk menjejalah destinasi dalam negeri. Terlebih Indonesia memiliki segudang destinasi apik yang tersebar di seluruh penjuru negeri.

Pengembangan Kawasan Danau Toba yang Berkualitas dan Berkelanjutan

  • Kaldera Toba Trail

Point of interest Kaldera Toba terdapat pada suguhan alam dan budayanya. Pada kesempatan berkunjung ke Danau Toba pada Bulan April lalu, saya melewatkan kesempatan melihat lanskap Tao Toba dari sisi barat secara keseluruhan. Sebelumnya saya melihat ulasan di Google Maps yang menunjukkan foto masing-masing destinasi yang ada disana.

Pusuk Buhit, pemandangan menuju ke Tele

Menurut saya, jalur pendakian dari sisi barat menawarkan wisatawan dengan pemandangan yang luar biasa jika dieskplorasi. Pendakian ini ditujukan kepada pegiat wisata alam khususnya wisatawan milenial. Pengembangan jalur pendakian dapat dibuat dari titik awal Paropo, Pulau Silalahi, berlanjut ke Bukit Pemandangan Pulau Tulas, kemudian ke Pusuk Buhit, mengarah ke Sibea-bea, Bukit Holbung, Batu Maroppa, berakhir di Bukit Sipatungan. Jalur pendakian dikombinasikan dengan melewati punggungan bukit, jalan pedesaan, dan ladang pertanian warga. Dibutuhkan pula, pembangunan shelter untuk tempat beribadah dan tempat istirahat di setiap spot tertentu. 

Jika dirunut dari Google Maps, jarak antara Paropo menuju ke Sipatungan membutuhkan waktu selama 20 jam perjalanan dengan jarak tempuh 91 km. Sedangkan jika diambil dari titik Bukit Pulau Tulas akan membutuhkan waktu 11 jam perjalanan dengan jarak tempuh 46 km. Jarak ini merupakan estimasi sementara karena jalurnya masih menggunakan acuan jalan raya.

Hal yang akan didapatkan wisatawan selama melewati jalur pendakian diantaranya akan menemukan keragaman pesona wisata Danau Toba baik dari segi alam, budaya, sosial, kuliner, dan tentunya pengalaman yang sangat berkesan. Apalagi kontur perbukitan di area ini masih tergolong bersahabat untuk didaki wisatawan dengan rata-rata ketinggian bukit mencapai 1.000 – 2.000 mdpl.

Dengan dibangunnya jalur pendakian tersebut akan mendorong peran aktif masyakarat lokal agar bekerja sama, menumbuhkan kreativitas dan inovasi wisata dengan memanfaatkan potensi yang ada dengan baik sehingga mampu menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.

  • Ruang Kreatif

Sektor pariwisata tumbuh berkualitas dan berkelanjutan jika didukung oleh sumber daya manusia yang unggul dan kompetitif. Sedangkan sumber daya manusia dapat menjadi unggul jika berproses dan terus dididik dengan baik. Oleh karena itu, diperlukan tersedianya ruang kreatif untuk penduduk lokal di Kawasan Danau Toba sebagai tempat masyarakat dan wisatawan saling belajar, bertukar pikiran, mengembangkan ide, inovasi dan kreativitas.

Dengan munculnya fasilitas publik yang mendukung dan adanya fasilitator penggerak maka akan berdampak baik untuk menghasilkan pelaku wisata dan artisanal yang handal. Ruang kreatif ini nantinya dapat dijadikan semacam lokasi workshop, pertunjukkan, diskusi, event, kuliner, dan belajar bahasa asing. Apabila setiap kecamatan di sekitaran Danau Toba memiliki ruang kreatif masing-masing, maka akan mendukung kemajuan sektor pariwisata Danau Toba semakin tumbuh berkualitas dan berkelanjutan.

  • Pengembangan Edukasi, Penelitian, & MICE

Danau Toba mempunyai sejarah panjang yang luar biasa. Memiliki narasi yang berkaitan dengan proses terbentuknya yaitu dari ilmu sains dan legenda masyarakat yang melekat. Potensi sains berkaitan dengan pengembangan edukasi dan penelitian, di mana letusan supervolcano yang meletus 74.000 tahun silam menjadikan Toba sebagai danau vulkanik terbesar di dunia. Adapun keragaman geologi, mahluk hidup dan budaya menjadi sesuatu yang relevan untuk mengembangkan wisata edukasi dan penelitian, baik bagi pelajar, mahasiswa, maupun para ilmuwan dari dalam dan luar negeri.

Pengunjung sedang berfoto dengan Sigale-gale

Wisata MICE di Indonesia memiliki peluang yang besar untuk dikembangkan. Termasuk destinasi Danau Toba yang mempunyai paduan kultur dan alam yang menakjubkan. Dengan menyajikan latar panggung yang alami. Wisata MICE Danau Toba yang dapat dikelola diantaranya festival dan kompetisi musik, seni, paduan suara dalam tingkat internasional. Mengingat banyaknya musisi Indonesia yang berasal dari Tanah Toba. Selain itu, pertunjukkan kisah legenda asal muasal Tao Toba yang epik dan pertujukkan lain yang dapat mengangkat budaya lokal setempat. Kemudian pengembangan sport tourism yang menjual pemandangan sebagai daya tarik seperti olahraga paralayang, balap sepeda, marathon, dan pendakian ultralight.

  • Wisata Gastronomi

Wisata gastronomi tidak hanya berkaitan dengan tata boga, namun seni menyiapkan hidangan yang lezat, mengulik sejarah dan budaya makanan, kandungan nutrisi, dan tata saji. Wisata gastronomi dapat dikembangkan sejalan pada dunia kuliner yang sedang digemari wisatawan Indonesia. Berburu kuliner bukan sekadar mecicipi makan, namun juga mendapatkan pengalaman menarik lain di balik kelezatan sebuah hidangan dengan wisata gastronomi.

Toba pun mempunyai beragam kuliner yang menarik untuk dikemas menjadi wisata gastronomi. Diantaranya pengembangan wisata kopi dari kebun sampai menjadi produk minuman kopi. Kemudian sajian kuliner tradisional seperti mie gomak, ikan mas arsik, andaliman, kacang sihobuk, itak gurgur, lappet, ombus-ombus, dan lain sebagainya.

  • Pengembangan Wisata Halal

Peringkat Wisata Halal Indonesia berada pada peringkat keempat pada tahun 2021 berdasarkan skoring Global Muslim Travel Index (GMTI) dari total 140 negara. Peringkat ini turun tiga peringkat di mana pada tahun 2019, Indonesia meraih peringkat pertama. Indonesia dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia memberikan poin plus untuk mengembangkan destinasi wisata halal. Di mana penduduk muslim dapat menjadi penggerak wisata yang terampil dalam mengembangkan wisata halal.

Kriteria destinasi halal diantaranya aksesibilitas, komunikasi pemasaran, lingkungan, dan pelayanan. Dalam indeks GMTI tersebut, Indonesia memiliki keunggulan pada lingkungan dan pelayanan yang layak menyuguhkan wisata halal. Sedangkan untuk askesibiltas dan sarana komunikasi masih perlu ditingkatkan secara maksimal. Wisata halal setidaknya mencakup keamanan, kenyamanan dan terpenuhinya syarat sebagaimana wisatawan muslim saat pergi melancong. Tersedianya makanan halal, fasilitas ibadah, atraksi dan aktivitas yang halal, rekreasi yang memberi ruang privasi, penyediaan toilet dengan ketersediaan air bersih yang memadai, dan minimnya islamofobia merupakan kunci utama pengembangan wisata ini.

Pasar wisata halal adalah pasar yang menjanjikan. Di mana jumlah wisatawan muslim diperkirakan akan kembali normal pada tahun 2023. Sangat mungkin jika Danau Toba ikut mengambil kesempatan mengembangkan wisata halal. Meskipun mayoritas masyarakat di Danau Toba adalah non muslim, hal ini perlu dipertimbangkan berkaitan dengan potensi kunjungan wisatawan dari negara muslim seperti Malaysia, Arab Saudi, UEA dan Timur Tengah lainnya.

Dengan adanya pariwisata halal, restoran halal akan mendapatkan peluang dua kali lebih besar untuk menggaet wisatawan muslim dan non muslim. Terlebih, kunjungan wisatawan asing terbanyak yang datang berkunjung ke Indonesia dan khususnya Provinsi Sumatera Utara berasal dari negeri jiran, Malaysia. Dengan pengembangan wisata halal di Danau Toba maka akan menambah standar kelayakan destinasi Danau Toba untuk maju ke ranah global.

Februari 02, 2020

Jalanku Masih Panjang

Jalanku masih panjang. Bisikan relung hatiku berkata seperti itu. Ketika menyebrangi JPO KRL Stasiun Tanjung Barat. Aku baru saja mengakhiri zona nyamanku sebagai jongos perusahaan patungan anak BUMN dan swasta. Kerja sama operasi istilahnya. Disingkat KSO. 

Tidak terasa sudah 17 bulan aku bekerja disana sebagai pegawai yang mengurusi adminitrasi terkait perpajakan perusahaan. Melelahkan? Tidak juga. Sesekali iya. Konflik batin? Masih bisa teratasi. Lantas apa? Gaji lumayan. Benefit oke. Pekerjaan tidak terlalu berat. Intinya hal yang plus minus dari pekerjaan. Positifnya lumayan baik. Negatifnya tentu lebih dominan. Setelah ditimbang dan memutuskan.

Keputusan yang cukup cepat bisa dibilang kawan. Faktornya ada banyak sekali. Dari tawaran sahabatku. Dia sohib banget denganku semenjak kuliah. Mencari pembelajaran baru di proyek baru. Mendapat warna baru di awal tahun 2020. Selebihnya mendapatkan tantangan dan harapan baru di Borneo. Ya, proyekku esok di Melak Kalimantan Timur.

Sohibku bilang, "gak usah terlalu ga enakan sama orang lain". Ketika menanyakan tentang perihal resign di akhir tahun 2019 kemarin. Hari Senin Tanggal 23 Desember 2019 akhirnya ku ajukan surat resign ke manajerku. Setelah mendengar kabar itu, sohibku langsung lega. 

Ceritanya masih panjang. Aku masih harus berproses tahap awal di kantor sohibku. Mengikuti alur lamaran kerja yang seharusnya. Meski aku melalui SJOD (sistem jurusan orang dalam) tetapi manajer HRD bersikap adil. Pertama kali, aku wawancara dengannya. Saat itu aku jiper. Ekpektasinya lumayan tinggi untukku. Yang ku ingat dari pertanyaannya diantaranya mengapa mau diajak sohibku padahal kan belum fix jadi karyawan tetap, tahu apa tentang perusahaan itu, mau jadi apa nanti kalau bergabung, apa masih ingat tentang proses akuntansi, apa betah tinggal di proyek seberang pulau dan entah apa lagi yang kami bahas. Sejam lamanya kurang lebig kami melakukan wawancara.

Tahap selanjutnya, aku harus mengikuti MCU,  interview manajer sahabatku/presentasi, dan psikotes. Jadi prosesnya bisa dibilang acak. Sebab aku pun masih bekerja di kantor lamaku.

Ketika MCU, aku izin seharian. Sekaligus presentasi di sore harinya. Nah pas psikotes aku sudah free dari kantor lamaku. Hari Selasa setelah hari kerja terakhirku. Dan hasilnya masih belum tahu, semoga saja berhasil. Kalau semua hasilnya bagus, bisa diangkat jadi karyawan tetap di kantor pusat. Kalau pun tidak, ya kembali jadi karyawan kontrak proyek. Bismillah.

Pukul 10.19 Hari Minggu pertama Bulan Februari. Sudah berlalu saja Januari dengan hektiknya pekerjaan/penyelesaian PR di kantor lama. Februari menjadi awal harapan baru. Tadi aku baru saja meninggalkan rumahku, ibuku, keponakanku, kakakku dan juga Purwokerto. Berangkat kembali ke ibukota. Tapi kini merantau lebih jauh lagi. Menuju calon ibukota baru Indonesia kelak. Meski aku bukan di Penajam maupun Kukar. Melainkan Kutai Barat. Aku akan berangkat awal pertama minggu ini. Kemungkinan Hari Kamis esok menuju Samarinda. Lalu ke Tenggarong. Dan menuju ke Melak.

Proyekku disana adalah pembangunan jalan hauling untuk tambang batubara. Kami membangun infrastruktur dari area tambang menuju ke akses kapal sungai atau bisa jadi smelter. Semoga saja Tuhan masih memberikan kekuatan dan daya upaya untukku dimanapun nanti berada. Bismillah, Jalanku masih panjang kawan. Aku pun berharap masih diberikan kebahagiaan teruntuk ibuku, keluargaku. Semoga proyek ini berproses lancar dan sukses. Aamiin.

Vino beli Roti O. Memori bersama keponakan tersayang, karena dia paling kecil.

Desember 16, 2019

Akhir Pekan, Yuk Jelajah ke Sukabumi (Bagian II)

Kali ini, saya akan melanjutkan cerita singkat short trip ke Sukabumi setelah seharian menghabiskan waktu di area TNGGP (Bagian I). Menjelang maghrib, kami melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Ratu. Keesokan harinya beberapa tempat di sekitar sana akan kami jelajah. Dari Kota menuju ke Pelabuhan Ratu membutuhkan waktu sekitar dua jam. Kami melewati jalur alternatif, melewati luasnya hutan sawit yang ternyata banyak ditemukan di sekitar Kabupaten Sukabumi. Kondisi jalanan mulus untungnya. Sepi sekali. Hanya beberapa rumah. Lalu ketutup hutan sawit lagi. Ketemu lagi rumah yang jarang-jarang.

Alhamdulillah, selama di perjalanan aman. Ya walaupun pikiran negatif ketar-ketir. Bayangan tentang hutan sawit di pulau sebelah yang sering kejadian bajing loncat atau yang dikenal begal. Singkat cerita kami masih mengikuti Gmaps. Sampai hujan kembali mengguyur. Kami berhenti di satu warung makan untuk makan sembari menunggu hujan reda. Tak dinyana, hingga menjelang pukul 9.30 pun hujan masih turun deras. Alhasil, warungnya pun mau tutup. Kami terpaksa menerobos di bawah kegelapan malam. Berteman dengan kesepian. Juga rintik hujan. Sesekali kilat menyala terang. Tentu gelagar suara petir bak menyambut. Kurang lebih sekitar 20 menit lagi untuk sampai di Hotel Mahessa Indah yang sudah kami booking online. Ini pun, kami bertanya ke pedagang sebelumnya, sebab sinyal gawai hilang kawan.

Hotel yang akan kami kunjungi cukup terjangkau dari segi harga. Berada di jalan raya. Alasan kenapa kami memilih hotel ini karena lokasinya di tengah-tengah destinasi yang akan kami kunjungi pada hari kedua seperti lis di bawah ini:

4. Pantai Karang Hawu
Karang Hawu
Tidak jauh dari hotel, ke arah barat. Kami berhenti di pantai ini yang aksesnya mudah ditemui karena dilalui jalan lintas. Di lokasi parkirannya, jejeran warung berjualan makanan dan souvenir. Sekilas dilihat, pantai ini memang biasa saja viewnya. Pantai pasir hitam pada umumnya, beberapa sampah nampak di sekitaran, ombak ganas samudera dari selatan, dan batuan karang.

Sesuai dengan namanya, karang hawu berarti karang berbentuk tungku. Jadi begini kawan, terdapat dua area karang mendatar. Nah diantara dua karang ini, terdapat batu karang yang menjorok ke atas. Berlubang pada bagian bawahnya, sehingga air menerobos masuk. Jika diperhatikan seksama, bentuknya seperti model tungku memang. Nah, dua area karang ini nampak seperti dapur yang lapang. Jadi begitulah arti filosofi nama pantai ini sendiri.

Ombaknya begitu lepas menghantam karang-karang itu. Kalau dikira, tinggi gelombangnya bisa mencapai 3 meter. Air yang menabrak ke batu karang memercik seperti air mancur. Airnya berwarna biru muda. Gulungan ombaknya membuih putih. Garis pantai ini memanjang ke timur. 

Pengunjung yang datang mendekati titik di mana karang hawu berada. Terdapat bendera merah yang diikat pada kayu. Memberi tanda jika lokasi tersebut rawan alias berbahaya. Jadi buat kawan-kawan yang berkunjung kesana, diharap berhati-hati dan tetap menjaga keamanan ya.

5. Kasepuhan Sinarresmi
Kasepuhan Sinarresmi
Perjanana kami selanjutnya menuju lereng Gunung Halimun. Lokasi yang hendak kami tuju adalah Kampung Adat Ciptagelar. Dari pantai, kami harus mengarah ke Cisolok, terus menanjak perbukitan dan hutan-hutan karet. Sampai menemukan plang pertigaan. Jalan tanah berbatu dengan ukuran yang semakin menyempit. Sudah hampir satu jam berjalan, kami tak kunjung sampai. Kemudian kami menemukan padi yang dijemur di pinggiran jalan. Sangat rapi sekali polanya. Digantungkan pada jemuran bambu.
Bahagia banget liat beginian di desa *kembangdesa*
Tak lama, kami menemukan pola pemukiman dengan atap ijuk. Ya, kami berhenti disitu melihat-lihat. Kampung Adat Sinarresmi berlokasi diantara perbukitan, pematang sawah yang luas, jejeran lumbung padi atau yang disebut leuit. Melihat kampung adat ini, rasanya senang sekali. Masih terjaga akan kultur dan tradisi leluhur. Disana kami singgah, berjalan mengelilingi rumah-rumah, lalu melihat ibu-ibu sedang menumbuk padi. Kami permisi untuk mendekat. Ngobrol ngalor-ngidul mengulik tentang lingkungan dan budaya di mana kaki kami sedang berpijak. 

Singkat cerita, padi yang sedang ditumbuk ibu-ibu adalah padi dengan kualitas terbaik yang diambil dari leuit. Dipersiapkan untuk bahan konsumsi Abah Asep (Ketua Adat). Menariknya lagi, kami dipertunjukkan alunan tumbukan alu ke lumpang tradisonal yang menghasilkan suara berirama. Beberapa kali mereka menunjukkan skillnya di hadapan kami. Keren sekali kawan. 
bu-ibu menumbuk padi secara tradisional
Oh ya di kasepuhan ini terdapat galeri seni di sisi kiri, lalu rumah utama yang berbentuk persegi panjang, pemukiman di sisi kanan, dan lumbung yang menyebar. Kalian pasti tahu kan, waktu terbaik berkunjung kesini adalah saat paska panen. Biasanya diadakan acara seren taun yang memiliki nilai untuk bersyukur kepada Tuhan atas hasil panen yang sudah didapatkan dan mengharap agar diberi hasil panen yang lebih baik di tahun berikutnya. Yuk kawan, berkunjung ke kampung adat yang ada di Sukabumi. Sebagai informasi, ada tiga kampung adat disana diantaranya Ciptagelar, Sinarresmi dan Cipta Mulya.

6. Puncak Darma
Lanskap Ciletuh dari Puncak Darma
Pergi ke Geopark Ciletuh, Puncak Darma adalah spot tertinggi yang menyajikan lanskap Ciletuh sebagai pemandangan alam yang bisa dibilang cukup menarik. Persawahan berpetak-petak. Muara sungai berwarna kecoklatan. Pasir pantai melengkung. Kepulan asap hasil pembakaran tanaman padi. Jalan berliku di perbukitan. Villa segitiga atau menyerupai lumbung. Lembah ini sangat luas. Berwarna dominan hijau, corak kuning dan kecoklatan. Beberapa jenis tumbuhan tropis tumbuh jarang. Di atas puncak ini sendiri ditumbuhi tanaman ilalang di sisi jurangnya, terdapat spot selfie, warung yang menjajakan makanan, dan tentunya tempat parkir kendaraan.

7. Air Terjun Cimarinjung
Air Terjun Cimarinjung
Air Terjun ini memiliki rona yang sangat cantik. Seperti berada di taman hutan tropis. Air jatuh dari sisi celah tebing yang tinggi dan betingkat dua. Pohon rimbun di sisi aliran sungai. Batuan besar berwarna coklat seperti bekas endapan lumpur. Keluarga lumut di celah batuan dan karang yang menjulang. Airnya jatuh menjadi tiga aliran. Hewan sejenis kingdom animalia sedang bermain air dan menempel di batuan. Akar pohon yang mengulur jatuh diantara batang. Serius aku betah lama-lama mendengar suara aliran air yang jatuh. Diantara tebing dan pepohan hijau yang menyejukkan mata. Indah sekali.

Benar kawan! Semakin sering aku pergi dan singgah ke pelosok negeri ini. Nyatanya aku semakin terpana. Kaki dan tanganku semakin tergoda. Untuk berjalan lebih jauh lagi. Menyaksikan keindahan lain yang Tuhan ciptakan di belahan lain Bumi Pertiwi ini. Yuk kawan, berkunjung ke Sukabumi. 

Oktober 09, 2019

Akhir Pekan, Yuk Jelajah ke Sukabumi (Bagian I)

Situ Gunung saat diguyur hujan gerimis, syahdu
Halo kawan-kawan semua. Kali ini saya ingin berbagi cerita mengapa saya pergi berlibur ke Sukabumi? Alasannya tidak lain, dekat dengan Jakarta yang tidak menyita waktu banyak. Pun Sukabumi mempunyai banyak destinasi yang patut dikunjungi. Sebenarnya saya tertarik dengan Kampung Tradisional Ciptagelar sejak lama, selain ke Geopark Ciletuh dan Situ Gunung.

Inilah jadwal yang saya buat sebelum berangkat. Jadi kami sudah menyewa motor di kota dan penginapan selama dua hari disana. Oh ya, saya pergi bersama teman kantor saya, Mades.

Sabtu, 13 April
Kegiatan
04.30 - 05.00
OTW ke St. Tanjung Barat
05.32 - 06.30
OTW ke St. Bogor by KRL
07.50 - 10.00
OTW ke St. Sukabumi
10.30 - 11.30
Keliling Kota (Kulineran)
11.30 - 12.30
OTW Ke Situgunung
12.30 - 17.00
Jembatan Gantung, Curug Sawer, Danau Situgunung
17.00 - 19.30
OTW Ke Penginapan Mahessa Indah
Minggu, 15 April
Kegiatan
05.00 - 06.49
Bangun, siap2 jalan ke Ciptagelar
07.00 - 09.00
Kampung Adat Ciptagelar
09.00 - 10.30
OTW Ke Geyser Cisolok
10.30 - 11.30
Geyser Cisolok
11.30 - 13.00
OTW Curug Cimarinjung
13.00 - 14.00
Curug Cimarinjung
14.00 - 15.45
OTW Curung Awang
15.45 - 16.45
Curug Awang
16.45 - 17. 30
OTW Puncak Darma
17.00 - 18.00
Sunset Puncak Darma
18.30 - 21.00
OTW Vermisse Guest House
05.15 - 07.18
Pulang Ke St. Bogor

Kami berangkat dari mess kantor selepas subuh. Sekitar jam setengah enam pagi. Dari St. Tanjung Barat dilanjut naik KRL ke St. Bogor. Sampai di Bogor sudah hampir pukul delapan. Ada kereta ekonomi sedang bersiap-siap di salah satu peron.

Saya menanyakan ke petugas. Tak dinyana, Stasiun Paledang itu ada di seberang stasiun pemberhentian KRL. Jadi dua stasiun ini beda lokasi. Deg-degan dong. Terburu-buru kami langsung lari keluar stasiun, naik JPO dan turun lagi menuju kesana. Di atas JPO, saya melihat kereta sudah melintasi perlintasan sebidang dari Stasiun Bogor. Saya memacu lari lebih cepat lagi.

Ngos-ngosan betul. Untung masih beruntung, sistem tiketnya mengalami gangguan sehingga antrean di pintu masuk masih disesaki penumpang. Setelah lima menit, kami sudah berada di atas kereta yang juga langsung berangkat terlambat pukul 8 pagi.

Pemandangan di sekitaran cukup menarik. Rumah-rumah di atas perbukitan. Aliran sungai dan  gunung-gunung. Bentang alam persawahan yang tampak dari jendela kereta. Jarak selama dua jam, tibalah kami di Stasiun Sukabumi. Perjalanan yang cukup singkat sekali bukan. Ehm tunggu kawan. Beginilah cerita destinasi yang ada di Sukabumi kami mulai.

1. Jembatan Gantung Situ Gunung
Potret jembatan terpajang di Asia Tenggara 
Jarak tempuh dari stasiun sejauh 15 kilometer menuju ke utara. Dengan mengendarai motor yang sudah kami sewa dan berbekal aplikasi penunjuk arah. Nah jadi gini kawan, gak enaknya pakai Gmaps itu kadang alternatif jalan yang dipilih gak selamanya benar juga. Sama seperti yang kami alami, penunjuk arahnya malah melewati jalan pedesaan berkontur naik turun. Sebagian jalanan rusak, justru memperlama waktu tempuh. Sudah hampir satu jam, kami belum juga sampai. Mades masih fokus menarik gas motor. Tersisa sekian kilometer, hujan menyambut kedatangan kami. Hujan membasahi bumi sangat deras. Kami berhenti di bengkel seberang Kantor Desa Gede Pangrango. Menunggu hujan reda.

Jembatan Gantung Situ Gunung merupakan jembatan gantung terpanjang di Asia Tenggara. Berada di dalam kawasan TN Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Sukabumi, Jawa Barat. Jembatan ini membentang sepanjang 243 meter, dengan lebar 1,8 meter, sedang ketinggiannya mencapai 161 meter. Sebagai informasi pula, jembatan ini dibangun hanya dalam waktu empat bulan saja loh. Dilakukan penduduk lokal dan tim ahli dari Bandung. Tanpa menggunakan alat berat konstruksi alias dibuat secara manual.

Sampainya kami disana, kabut tebal melingkupi ruang atas kawasan tersebut. Memasuki Taman Nasional, pengunjung harus membayar tiket sebesar Rp18.500 saat akhir pekan. Kemudian untuk melewati jembatan gantung, kita harus membeli tiket lagi seharga Rp50.000. Sebenarnya pengunjung bisa melalui jalur darat untuk menuju ke Curu Sawer tanpa melewati jembatan gantung.

Dengan harga tersebut, kita mendapat jajanan tradisional seperti pisang, singkong rebus, dan minuman hangat, yang bisa dinikmati di area teater. Sembari menonton pertunjukkan seni tradisional yang dipentaskan. Saat kami kesana, orang memakai topeng menari-nari diiringi alat musik nuansa Sunda. Lalu pengunjung ada pula yang ikut menari di atas panggung.

Untuk melewati jembatan gantung, kita akan diberikan safety harness. Tiket masuk akan dicek terlebih dahulu. Menginjakkan kaki di atasnya, otomatis goyangan jembatan lumayan terasa. Bertapak kayu pada dasarnya, lalu pagar pembatas terbuat dari kawat hampir setinggi 1,5 meter pada sisi kanan kirinya, dengan kawat baja yang mengait ke sling baja sebagai batang penggantung.

Sangat tinggi sekali jika melihat ke bawah. Dasarnya pun tidak terlihat. Sebab dedaunan menutup rapat. Ya betul, pohon-pohon hijau tropis sangat lebat tumbuh subur. Sisa kabut di antara perbukitan masih nampak seputih awan. Sangat alami sekali pemandangannya. Serba hijau, ah alam memang selalu mempesona.

2. Curug Sawer
Pesona Curug Sawer yang menjadi sorotan pengunjung TNGGP
Tidak jauh dari lokasi jembatan, kami menyusuri jalan tanah setapak. Sebagian ada yang berbatu. Melewati area perkemahan/glamping. Menyebrangi jembatan bambu. Turun terus sampai ke bawah. Memutari area warung. Berjalan terus sampai ke ujung. Pepohonan masih banyak ditemui di sekitaran. Jarak menuju curug dari pintu masuk sejauh 1,7 kilometer, namun terpangkas 500 meter karena melewati jembatan. Kurang lebih membutuhkan waktu hampir 15 menit dari jembatan.

Sampailah kami di aliran sungai di mana Curug Sawer berada. Memiliki ketinggian 35 meter dengan elevasi 1025 mdpl. Aliran airnya kecil pada hulunya, jatuh deras membuyar ke bawah. Genangan air di bawahnya berwarna coklat sebab sehabis hujan. Batu-batu besar mengumpul di sebelah kiri. Ya, ada jembatan kecil di dekat curug ini. Sebagian pengunjung menikmati curug ini dari titik tersebut.

3. Situ Gunung
Situ Gunung dikelilingi pepohonan yang tumbuh subur di TNGGP
Untuk sampai ke danau ini, kita bisa menuju ke lokasi parkiran yang berjarak 600 meter dari pintu gerbang. Dari tempat parkir, kita bisa berjalan kaki melewati jalan beton sejauh 500 meter. Jalanan menurun. Danaunya ada di bawah sana.

Sampai di bawah, awan pekat dibumbui kabut yang tampak di atas pepohonan membuat suasana menjadi syahdu sekali. Hanya tersisa sedikit pengunjung yang ada disana. Kami berhenti di pelataran danau. Berdamai dengan ekosistemnya.

Ada perahu bambu, perahu bebek, jembatan apung menuju ke daratan di tengah danau. Saya berjalan melewati jembatan apung melihat sekitaran. Sekumpulan pohon cemara menyapa dengan daunnya. Rintik hujan menyambut saya juga juga saudaranya disana. Tetesannya membentuk pola yang dramatis saat mereka bertemu di antara permukaan air. Jelasnya, kabut pun tidak kalah menunjukkan eksistensinya kepada kami. Entah darimana, mereka keluar di antara pohon-pohon menguap ke udara. Ah Tuhan, damai sekali.

Lalu hujan perlahan mengguyur deras. Saya dan Mades semakin larut berada disana. Kalian tahu kawan, ada seorang bapak di atas bambu apungnya menebar jala. Oh ya kawan, jadi danau ini sendiri cukup luas. Di kelilingi perbukitan dengan pohon-pohon entah apa saja.

tunggu dulu ya kawan, bersambung ke cerita selanjutnya disini.....Akhir Pekan, Yuk Jelajah Sukabumi (Bagian II)

September 17, 2019

Apa Yg Dicari

Terlahir aku bernafas
Tumbuh aku berjalan
Berkembang aku berlari
Seperti bulan dan matahari

Mencari-cari arti
Di bayang kelabu jiwaku
Hentakkan gelora nestapa
Kemana dunia kan membawa

Semua fana dan distorsi
Menyerang membabi buta
Gelap relung batinku
Rabun mata hatiku
Sakit sudah ragaku

Tentang apa yang dicari
Makna kisah yang panjang
Bergelut dengan waktu
Menyesal kan sia-sia

Apa yang dicari
Sakit menggerogoti
Hampir seluruh tubuhku
Rapuh seakan mati


Ditulis 9 September 2019. Di atas pembaringan menuju dini hari saat mata, otak, hati dan tangan belum mau beristirahat dari gemerlapnya dunia ini.