Translate

Juni 11, 2018

Pengalaman Menjadi Relawan Rona Nusantara


Dokumentasi Rumah Zakat 
Sebuah cerita harus dituliskan, sebuah cerita ada yang layak untuk dibagikan, dan bila perlu sebuah cerita penting untuk didengarkan. Sebagai bukti manusia pernah berproses dan mencetak memori. Cerita ini memang sudah setahun lalu tertimbun usang di dalam memori perangkat lunak abad 21, lantas sudah setahun ceritanya berlalu, sayang sayang kalau hanya menjadi kenangan pribadi beserta orang-orang yang terlibat di dalamnya. Inilah ceritaku ketika pernah menjadi volunteer Rumah Zakat di bulan Ramadhan 1438 H. Rindu rasanya kala itu.

Kereta Serayu berangkat pukul 21.00 dari Stasiun Pasar Senen menuju Purwakarta. Dalam perjalanan selama satu setengah jam, akhirnya aku tiba di Stasiun Purwakarta lalu melanjutkan naik ojek menuju meeting point di Taman Makam Pahlawan yang jaraknya tidak jauh dari stasiun.

Bapak ojek yang mengantarakanku sempat bingung ketika aku meminta diturunkan di depan makam. Mungkin beliau heran dengan apa yang akan aku lakukan disana. Akhirnya aku berhenti di depan warung tidak jauh dari makam. Tidak lama kemudian bertemu dengan Mas Taufik, Kak Vita dan Kak Suci yang sudah lebih dahulu berkumpul di perempatan dekat situ. Akhirnya kami berkumpul menunggu rombongan dari Bandung yang sudah hampir tiba. Selagi menunggu, kami ngobrol ngalor-ngidul tentang kegiatan sosial yang pernah dilakukan masing-masing. Ternyata mereka mempunyai pengalaman hebat. Ada yang sering mengikuti kegiatan sosial sejenis, ada yang habis pulang dari Papua, dan obrolan entah sampai kemana saja.

Tidak lama, truk TNI yang mengangkut rombongan utama lewat. Kami pun meneriaki mereka. Lalu ikut bergabung untuk menuju desa yang akan kami tuju. Di truk itu, aku berkenalan dengan Bang Ari, panitia dari Rumah Zakat. Kami berbincang mengenai organisasi ini yang sudah established mempunyai cabang hampir di penjuru Indonesia, tentang kegiatan rutin dan banyak hal lainnya.

Selepas jalan raya, kami sampai di tempat entah daerah apa namanya. Jelasnya, kami berada di pemukiman penduduk dengan tower SUTET berdiri. Setelah briefing sejenak, kami berjalan kaki selama 10 menit, lalu melanjutkan dengan menaiki mobil double cabin dengan bolak-balik dua kali penjemputan. Di atas mobil itu, kami tergoncang ke kanan dan kiri dalam keadaan gelap. Mobil melewati jalanan tanah yang becek, licin, dan berkelok. Di pinggiran jalan, hanya pohon-pohon yang membatasi. Sekitar 15 menit, kami sampai di titik terakhir akses yang dapat dijangkau kendaraan. Lalu masih berjalan lagi, terdengar arahan dari panitia.

Melewati jalanan gundukan sawah, seperti diantara tanah yang lapang. Tidak jauh, ada aliran sungai dengan jembatan kayu dan bambu yang berukuran hampir satu meter lebarnya. Kemudian melalui areal persawahan. Berjalan jauh ke depan. Aku merasa semangat untuk segera sampai. Kontur jalan sedikit menanjak, lalu melewati jembatan kayu yang kecil. Semakin menanjak, tibalah kami di rumah Abah Karim.

Kami disambut oleh keluarga beliau dengan sajian kue dan bajigur. Sejenis minuman hangat dengan citarasa manis gula aren berwarna kecoklatan. Tidak terasa, berjalan sekitar satu jam dalam keteduhan malam membuat rasa gerah. Ku lirik jamku, sudah pukul satu lewat.

Di depan rumah abah, aku sama sekali tidak melihat tanda-tanda pemukiman disana dikarenakan tidak adanya lampu-lampu yang menerangi. Sorotan senter dan flash kamera hanya membuat sedikit pencahayaan. Ternyata rumah-rumah warga jaraknya ke arah belakang dan jarang-jarang.

Peserta laki-laki berjumlah enam orang. Mereka adalah Mas Taufik, Mas Chandra, Mas Zain, Ashari, Fajar dan Rizki. Kami beristirahat di satu rumah panggung sederhana yang terbuat dari bambu. Tanpa penerangan listrik. Tidak ada kamar mandi. Tidak ada televisi apalagi kipas angin. Rumah itu terdiri dari ruangan yang tersambung satu sama lain. Sangat sederhana.

Aku langsung memakai sleeping bag yang ku bawa. Udara disana tidaklah dingin. Justru aku merasakan panas berada di dalam kantong tidur  itu. Hanya saja untuk menghindari nyamuk-nyamuk ciptaan Tuhan. Tepat di bawah kami tidur adalah kandang ayam yang sesekali suaranya terdengar jelas entah itu dengkuran atau apapun.

Pukul setengah empat kami sahur bersama lalu sholat subuh berjamaah. Fajar tiba, aku melanjutkan rebahan di teras luar. Matahari pun mulai merona di ufuk timur. Aku bangun, menuju ke sawah lalu memotret momen itu. Pagi yang sepi. Tidak ada suara bising kendaraan. Tidak ada suara ibu-ibu yang berkumpul ketika tukang sayur lewat. Yang ada hanya kicauan burung, udara segar, dan rasa ketenangan. Beginilah kehidupan orang-orang desa, hidup dalam kesederhanaan namun mereka merasakan hidup yang tentram dan damai.

Kegiatan Rona Nusantara

Aktivitas hari pertama yang kami lakukan terbagi dalam dua kelompok. Tim ikhwan menjemput dan membawa material bangunan untuk mendirikan MCK dari titik terakhir akses kendaraan. Sementara tim akhwat membungkus bingkisan sekolah, parsel lebaran warga dan hadiah untuk kegiatan anak-anak.

Tim ikhwan semakin akrab satu sama lain. Kayu, pipa paralon, dinding dan atap asbes adalah sebagian material yang akan kami angkut. Satu bawaan dipikul oleh dua orang. Pertama membawa kayu. Baru lima menit berjalan, balok kayu itu menusuk pundak-pundak kami. Bergantian aku menumpuhkan kayu ke pundak satunya untuk melepaskan rasa pegal. Kapan lagi aku bisa berbuat seperti ini. Menjadi kuli angkut yang menggunakan kekuatan fisik untuk mengangkat dan memikul material. Sungguh perkejaan yang sangat sulit. Satu pelajaran yang aku dapatkan untuk terus mensyukuri apa yang aku miliki sekarang, yaitu tentang pekerjaan.

Ada satu hal yang membuat kami terheran, beberapa orang warga termasuk Abah yang ikut membantu kami. Mereka dengan gampangnya membawa material-material itu seorang diri. Pada angkutan yang kedua, aku membawa tumpukan pipa paralon yang lebih ringan kuantitasnya. Ketika membawa ini aku merasa lebih nyaman kerena bentuknya yang bulat sehingga tidak membuat rasa sakit di pundak. Selepas itu, kami beristirahat sejenak. Merasakan lelah setelah berjalan membawa sebagian material-material itu. Sungguh lemah sekali diri ini sebagai mahluk ciptaan Tuhan. Alhamdulillah Tuhan memudahkan urusan kami hari itu, meskipun dalam kondisi berpuasa.

Menjelang tengah hari, tim akhwat memulai aktivitas mendongeng dan mewarnai kepada anak-anak di dalam masjid. Sementara itu, kami menunggu material lainnya seperti pasir dan semen yang belum sampai sehingga mengulur waktu pembangunan MCK. Duduk santai di sisi masjid sambil mendengarkan cerita dongeng yang dibawakan. Kisahnya berisikan tentang keserakahan seorang anak ketika melahap makanan. Pesan yang disampaikan kepada anak-anak antara lain untuk menjaga kesehatan dengan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, tidak makan secara berlebihan, dan senantiasa selalu bersyukur atas nikmat Allah swt.

Menjelang sore, kami menjemput bahan-bahan makanan yang dibeli panitia dari pusat kota. Sayur mayur, daging ayam, tepung, minyak, kurma, buah-buahan dan sebagainya. Selagi ibu-ibu memasak, kami membantu menyiapkan makanan yang sudah siap disajikan ke dalam kotak nasi untuk santapan kami berbuka bersama warga. Bahan-bahan mentah tadi berubah menjadi ayam semur, tumis buncis dan wortel, sambal dan es buah.

Kumandang azan maghrib terdengar. Kami berada di tengah-tengah keramaian warga yang mengelilingi. Hadir pula perangkat desa datang menghadiri acara itu. Selepas meminum es buah yang menyegarkan tenggorokan dan memakan kurma, kami bergegas sholat maghrib berjama’ah. Kemudian makan besar bersama-sama.

Sehabis sholat isya dan tarawih, barulah kami masuk ke acara bioskop desa. Sebelumnya terdapat sambutan dari pihak perangkat desa, warga, dan juga panitia. Film yang diputar malam itu adalah Sopo Jarwo, kartun asli anak bangsa yang bercerita tentang kehidupan Adit sebagai pemeran utama. Kartun ini mempunyai unsur cerita yang menarik. Anak-anak sangat serius menatap lcd monitor. Dalam kegiatan ini, diselingi pula pembagian hadiah untuk anak-anak yang berani menjawab pertanyaan dari panitia.

Minggu Pagi di Karapyak

Pendirian MCK yang dimulai kemarin sore sudah menampakkan pondasinya. Pagi itu, kami ikut membantu sedikit hingga menambah progress berdirinya tiang-tiang kayu yang akan menopang bangunan itu. Dikomando oleh seorang bapak tua, dari rambutnya yang memutih, beliau tampak berpengalaman dalam bidang bangunan. Bapak-bapak lainnya ikut membantu bekerja sama mendirikan fasilitas yang akan menambah kualitas kehidupan mereka kelak.

Peserta Relawan Rona Nusantara berkumpul di dekat tanah yang agak lapang. Tidak lama lagi kami akan meninggalkan desa ini. Acara pembagian parsel lebaran dan bantuan Al-Qur’an untuk ibu-ibu pengajian sudah diberikan. Kami mengabadikan momen bersama. Keterbatasan waktu membuat kami tidak mengikuti proses pembangunan MCK sampai selesai. Tidak lama, kami berkemas barang bawaan dan berpamitan kepada para warga. Berterimakasih atas ramah-tamah telah menjamu kami dengan penuh suka cita.

Kehidupan Sederhana di Kampung Karapyak

Mereka pasti senang ketika hujan tiba, karena pasokan air akan melimpah. Begitu juga mereka pasti senang ketika matahari cerah, karena panel surya akan bisa menyala di saat malam hari.

Kami bercerita kepada seorang warga sekitar. Pemukiman di Kampung Karapyak dimulai 1998. Mereka hijrah dari Cianjur, lalu menggarap pertanian yang ada di lokasi sekarang. Banyak pabrik-pabrik di sekitar. Ada industri bahan baku tekstil, kapas dan mineral tambang. Ternyata pula, lahan pertanian yang ada milik perusahaan, aset ternak juga milik perusahaan, dimana mereka sebagai penggarap menganut sistem bagi hasil.

Letak kampung ini seperti di tanah antah-berantah. Dalam kacamataku, masyarakatnya seperti hidup terisolir, jauh dari akses dan fasilitas yang memadai. Aku merasa iba mereka jauh dari pusat ekonomi, dari akses kesehatan yang layak, dan dari fasilitas yang menunjang kehidupan yang semestinya. Aku bersimpati dengan anak-anak yang harus menuju sekolah berjalan kaki sejauh entah berapa kilometer. Berangkat selepas subuh untuk mendapatkan akses pendidikan. Melewati jalanan sepi milik perusahaan, yang tanahnya di saat musim hujan akan sangat becek sekali. Perjuangan mereka insya allah akan berhasil.

Disana aku tidak mandi, hanya membasuh muka dengan air sumur yang menurutku juga keruh. Aku menimba air menggunakan ember untuk berwudhu. Sekali menggunakan kakus/wc terbuka untuk buang air. Aku bersama teman-teman pergi ke sungai, berharap mendapatkan air yang jernih lagi bersih. Nyatanya air sungai sedang kering. Tampak keruh berwarna kecoklatan mengalir tenang. Rupanya kontur tanah disana memang berwana merah sehingga memproyeksikan warna air terlihat keruh.

Aku sempat berjalan mengitari sekitaran lingkungan mereka. Ada lahan sawah yang cukup lapang untuk mereka bertani. Ada tanaman singkong dan banyak semak belukar. Ada pula lahan dengan kandang domba dan kerbau. Di dekat lahan itu, ada area lapang yang kosong. Luas berantakan seperti bekas dikeruk alat berat. Benar, ada alat berat berada di kejauahan.

Disana ikatan masyarakatnya masih guyub. Hidup rukun, saling gotong-royong, dan mengutamakan kebersamaan. Masyarakat hidup sederhana, namun tetap merasakan bahagia. Anak-anak bermain petak umpet, bermain bola di tanah lapang, tidak menggenggam smartphone, tidak menonton televisi dan ada pula yang menggembala domba membantu orang tua meraka. Justru nilai-nilai kehidupan itu banyak aku temukan disana.

Dua hari merasakan kehidupan disana, banyak pelajaran yang aku dapatkan tentang kesederhanaan dan rasa bersyukur dengan apapun yang kita punya. Mereka mengajarkan kita untuk terus membuka mata melihat keadaan sekitar, membuka hati nurani untuk berbuat kebaikan, dan berbagi atas harta yang kita miliki. Sebab Allah pun berfirman kepada kita, “Dan Kami akan menambah (karunia) bagi orang-orang yang berbuat kebaikan.” QS.Al-Baqarah : 58


Mei 29, 2018

Berlayar 14 Jam Naik KMP Sembilang


KMP Sembilang
Berlayar di atas KMP Sembilang menjadi rekor dengan waktu terlama yang pernah saya rasakan selama menggunakan jasa ASDP. Perjalanan ini menyimpan cerita menarik yang saya dapatkan selama berada di atas kapal. Perjalanan yang sekaligus membuat saya semakin cinta dengan Indonesia. Karena saya jadi tahu lebih jauh tentang lautan Indonesia dari wilayah perairan Kepulauan Riau. Betapa kayanya potensi kemaritiman itu. Saya berada di area 2/3 Nusantara. Wilayah yang sangat luas dan kaya.
Sore yang cerah, saya bersama teman-teman Ekspedisi Nusantara Jaya Pemuda sudah berada di Pelabuhan Telaga Punggur. Para penumpang memenuhi area dermaga tepat di depan titik masuk ke kapal. Sekitar pukul empat lewat, penumpang mulai masuk ke dalam kapal. Aktivitas yang tampak saat itu tidak hanya hilir mudik penumpang pejalan kaki tetapi juga penumpang dengan kendaraan pribadi dan beberapa truk pengangkut logistik. 

Pelabuhan ini menggambarkan betapa bergunanya fasilitas dan infrastruktur laut untuk kepentingan masyarakat kecil. Mobilitas untuk melintasi antar pulau. Untuk menyambung jarak dan mengejar ketertinggalan pembangunan. Upaya memeratakan sektor ekonomi sehingga dapat memicu kemajuan daerah. Saya menganggap moda transportasi laut tidak kalah prioritasnya dibandingkan moda yang lain, terlebih cita-cita Presiden Jokowi hendak menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Maka sudah waktunya kita kembali berjaya di lautan dengan membangun kekuatan dan memperbaiki kekurangan yang ada di sektor kemaritiman.

Saat berlabuh di Pelabuhan Telaga Punggur 
Saat memasuki lambung kapal, kami langsung naik ke lantai dua kapal. Ruang penumpang yang saling tersambung. Ada kelas VIP, kelas ekonomi, ruang dengan fasilitas tempat tidur, fasilitas toilet dan musholla. Kemudian menuju ke lantai tiga, area terbuka yang cukup lapang (geladak atas). Berbatasan dengan sisi belakang ruang operasi kemudi. Pada titik ini, sedikit areanya tertutupi atap seng. Dibatasi jejeran tong berisi tanaman. Terdapat cerobong asap di sisi sudut kanan dan kiri. Tiang bendera di sisi tengahnya. Lantai besi bercat kehijauan. Pada sisi luar pagar besi, beberapa tabung yang menurut saya berisi pelampung. Disitu terdapat tulisan KMP Sembilang bercat hitam.

Kapal Ferry yang kami naiki berjenis kapal RORO (Roll On Roll Off). Kapalnya berwarna putih dengan sedikit corak biru dan oranye. Kapal perintis ini berukuran sedang. Dimensi panjangnya 45,5 meter, lebar 12 meter dan tinggi 3,2 meter. Memiliki berat kotor 560 GT dengan tiga geladak yaitu dasar, antara dan atas. Kecepatan kapal ini mencapai 12 knot.

Tidak lama, tanda sinyal keberangkatan berbunyi. Pintu rampa kapal sudah tertutup rapat. Kapal mulai berlayar meninggalkan dermaga. Kapal berlayar cukup pelan. Semakin lama semakin menjauhi Pulau Batam. Saya melihat galangan kapal dengan alat bongkar muat pada sisi kanan. Gundukan tanah berwarna kemerahan bekas dikeruk. 

Kapal melintasi perairan Kepri. Banyak pulau-pulau kecil dengan vegetasi yang merapat di atasnya. Tumbuhan tropis berwarna hijau. Hal yang tidak bosan untuk disaksikan. Kami sangat menikmati pelayaran di geladak atas. Saling bercengkerama satu sama lain. Bersama kawan-kawan baru dari berbagai penjuru daerah. 

Keseruan bareng kawan-kawan ENJ Pemuda Rute Kepri
Gelombang lautan cukup bersabahat. Laju kapal terasa tenang. Pemandangan senja lantas menjadi tontonan. Saat matahari hendak kembali ke ufuk barat. Garis cakrawala sedikit merona dengan awan tipis abu-abu di atasnya. Sangat indah sekali suasana kala itu. Kami semua menyaksikan fenomena alam itu dengan berdiri merapat ke pinggiran pembatas geladak saking terpesonanya dengan aura jingga di tengah lautan.

Hari mulai gelap, kami beribadah sholat maghrib berjamaah. Selepas itu, kami melakukan rapat untuk membahas kegiatan yang akan kami lakukan di lokasi tujuan ekspedisi masing-masing. Deru angin malam mulai terasa sepoi-sepoi. Malam pun semakin larut, sekitar pukul sebelas, kapal bergoyang terasa kuat sekali saat menghempas ombak. Ditambah kencangnya angin yang menerpa tanpa adanya pembatas ruang di geladak atas. Rupanya kami sudah memasuki Selat Cempa. Beberapa kawan terkena mabuk laut. Ada yang pusing, mual, lalu muntah. Angin malam memang kurang sehat untuk badan, apalagi kami berada di lautan lepas. Akhirnya saya turun menuju ruang penumpang untuk menetralisir tubuh dari terpaan angin malam. Beristirahat di kursi penumpang yang menurut saya agak kurang nyaman untuk pelayaran berjam-jam. Kursi plastiknya terasa kaku di badan saat digunakan untuk tidur.

Esok paginya, selepas subuh kami semua berkumpul kembali di lantai atas. Menikmati udara pagi yang dingin. Mentari timur menyembul di balik pulau kecil yang menggunduk seperti bukit. Gumpalan awan tipis memenuhi bagian atasnya. Rona jingganya saja yang menyapa. 

Indahnya pemandangan sore (kiri atas) dan pagi di atas KMP Sembilang
Banyak jua penumpang lain yang melihat pemandangan dari atas geladak utama. Kami berbincang dengan mereka. Menanyakan tentang pulau terpencil yang akan kami tuju di Singkep. Seorang bapak menunjuk ke arah Pulau Lingga di mana Gunung Daik berada. Beliau pun menceritakan banyak hal kepada kami. 

Kapal melewati banyak pulau-pulau kecil. Beberapa tambak ikan mengapung di lautan lepas. Sebentar lagi kapal akan berlabuh. Tepat pada pukul tujuh lebih, kami tiba di Pelabuhan Jagoh. Berada di kapal berjam-jam berakhir sudah. Selamat datang di Dabo Singkep.

Tiba di Pelabuhan Jagoh, Dabo, Singkep
Perjalanan Balik Dari Jagoh ke Punggur

Sekembalinya saya dan kawan-kawan dari Singkep. Kami kembali menaiki KMP Sembilang menuju Batam. Keberangkatan dari Pelabuhan Jagoh tepat pada malam hari setelah waktu isya. Kami langsung menuju ke kursi penumpang untuk menaruh barang-barang. Kemudian mencari lapak untuk tidur. Sebagian kawan ada yang menggelar tikar di dekat kursi. Banyak pula penumpang lain yang memenuhi ruangan dengan menggelar alas agar dapat tidur selonjoran. Tidur di lantai memang lebih nyaman dibanding tidur di kursi penumpang. Maklum kami hanya penikmat ruang kelas ekonomi.

Perjalanan pulang menuju ke Batam
Kesempatan pulang ini tidak saya sia-siakan. Esok paginya, saya dan Ical meminta izin ke kapten kapal untuk dapat memasuki anjungan. Disana kami melihat kru kapal menjalankan operasional pelayaran. Ruangan anjungan berisi kemudi, alat navigasi dan alat pendukung utama yang sangat penting fungsinya untuk membawa penumpang merasakan keamanan dan kenyamanan di atas kepal hingga tiba ke tujuan. Kemudian kami diceritakan tentang KMP Sembilang, bagaimana agar menghindari gelombang ombak yang kencang, dan bagaimana pengalaman bekerja di sektor maritim.

Sharing dengan Kapten dan Kru Kapal
Saya pun merasa antusias berada di dalam anjungan ini. Melihat mereka bekerja mengoperasikan kapal. Mengarungi lautan lepas mengantarkan penumpang. Menyebrangi selat. Mengantarkan barang logistik. Menumbuhkan potensi ekonomi daerah. Menjadi sarana utama transportasi rakyat kecil berpindah antar pulau. Sangat berjasa sekali bagi banyak orang.

Anjungan kapal
Saya melihat Indonesia lebih jauh. Disini saya mulai paham bahwa Indonesia memang benar negara kepulauan dengan begitu luasnya area maritimnya. Biasanya saya hanya melihat jalan-jalan raya. Bangunan beton menjulang. Hampir tidak pernah berinteraksi dengan lautan, seolah membelakangi. Sekarang yang ada di depan mata, hanya hamparan lautan membiru begitu luas. Berapa nilai kekayaan lautan ini.

Saya kemudian teringat memori tempo dulu, betapa senangnya melewati Selat Sunda ketika hendak mudik ke Pulau Jawa. Dua jam saja waktu yang dibutuhkan untuk menyebrang daro Bakaheuni ke Merak. We Serve Indonesia adalah tulisan yang biasa tertulis di lambung dinding luar kapal yang lalu lalang.  ASDP IndonesiaFerry sejak lama melayani penyebrangan lalu lintas sungai danau dan perairan di penjuru Indonesia. Sesuai dengan motto We Bridge The Nation, Bangga Menyatukan Nusantara, menembus batas lautan untuk sampai ke seberang. Semoga ASDP tetap menjadi garda terdepan yang melayani rakyat Indonesia khususnya mereka yang berada di pulau-pulau terpencil.

Sekitar pukul 08.13 WIB, kapal merapat ke dermaga Telaga Punggur. Entah mengapa perjalanan pulang selalu lebih cepat ketimbang saat berangkat. Entah memang seperti itu atau hanya sugesti. Tetapi benar, kapal hanya berlayar 12 jam saja. Berbeda dua jam dibandingkan saat berangkat. 

Tujuan adalah akhir perjalanan belasan jam dengan momen yang sungguh berkesan. Asyiknya naik Ferry saya jadi tahu lebih jauh wilayah Nusantara dari sisi kelautannya. Selain itu, banyak hal seru yang bisa dilakukan seperti mengitari ruangan kapal, berinteraksi dengan orang-orang. Melihat matahari terbit dan terbenam. Beberapa teman berkaraoke di ruangan penumpang. Menyantap mie instan dan teh hangat di saat lapar. Melihat pemandangan dari geladak atas dan sebagainya. Memori ini menjadi kenangan yang akan saya kenang dalam catatan juga ingatan. Sampai jumpa lagi naik Kapal Ferry di rute asyik lainnya.

Momen asyik di atas kapal
Lintasan Penyebrangan:
Telaga Punggur – Dabo (Hari Selasa dan Jum’at pukul 17.00 WIB)
Dabo – Telaga Punggur (Hari Senin dan Kamis pukul 20.00 WIB)
Waktu Tempuh Perjalanan 14 jam dengan jarak 118 km

Biaya penumpang pejalan kaki:
Dewasa Rp69.500
Anak-anak Rp58.500 

Sekedar informasi bagi kalian yang akan mudik atau liburan antar pulau, hendak menuju ke pulau-pulau di penjuru Nusantara, bisa banget menggunakan jasa penyebrangan Kapal Ferry ASDP di sekian lintasan kapalnya. Kalian dapat mengecek rute dan harga tiket, bahkan memesan tiketnya secara online di link berikut www.indonesiaferry.co.id  .
Yuk naik Kapal Ferry!

Berikut video pelayaran selama di atas kapal.


Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Lomba Blog #AsyiknyaNaikFerry dalam rangka ulang tahun PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) ke-45.

Mei 23, 2018

Rekomendasi Villa di Baturraden


Kalau kalian ingin berlibur ke Purwokerto, maka Baturraden merupakan destinasi wajib yang dapat kalian jelajahi karena disana ada banyak wisata alam menarik dan cantik. Tentunya membuat waktu liburan kalian semakin menyenangkan. Jarak Baturraden dari pusat Purwokerto sendiri hanya sekitar 30 menitan saja, tetapi suasana dan lingkungan yang berada di lereng pegunungan memberikan kesan yang berbeda untuk dicoba.

Banyaknya penginapan dan villa yang terdapat di lokasi wisata ini, ada satu rekomendasi yang dapat kalian jadikan bahan referensi untuk tempat menginap. Villa yang dikelola oleh Palawi dengan beragam fasilitasnya akan membuat kalian nyaman dan betah untuk leye-leye manja selama berlibur disana. Anak perusahaan Perhutani ini memang fokus dalam mengembangkan wisata alam yang berada di area hutan. Jadi sudah bisa dibayangkan, bagaimana sejuknya, damainya, dan segarnya tinggal di area hutan di mana kalian dapat menenangkan diri sejenak dari kesibukan pekerjaan sehari-hari.

Palawi sendiri mempunyai tiga jenis Villa sebagai berikut:

1. Villa Ebony



Villa bertingkat dua ini memiliki jumlah kamar sebanyak 14 ruangan. Terdapat 4 ruangan superior dengan tipe single bed, 8 kamar deluxe dengan tipe single maupun twin bed, dan 2 kamar eksekutif dengan kasur double. Villa ini memiliki balkon yang menghadap ke selatan. View Purwokerto akan menjadi pemandangan yang jelas terlihat dari lantai dua villa ini. Untuk harga per malam menginap di villa ini budget yang diperlukan sebesar 9,4 juta rupiah. Villa ini cocok untuk kalian yang memiliki anggota keluarga besar, acara outing bersama teman-teman kantor kalian, atau acara reunian bersama teman yang sudah berkeluarga.

2. Villa Accacia



     Villa ini memiliki total empat kamar tidur berjenis deluxe. Tipe kasurnya adalah double dan twin bed. Kalau villa ini kelebihannya pada ruang utamanya yang sangat lapang. Harga per malam untuk menginap disini dibutuhkan 3,4 juta rupiah.

       3. Villa Agathis

Villa Agathis
Berdekatan dengan Villa Accacia, dengan jumlah kamar sebanyak 6 ruangan bertipe superior single bed. Ruang utama villa ini menghadap ke jendela kaca dengan pintu dorong di mana viewnya adalah lanskap Purwokerto. Budget yang diperlukan untuk menginap di villa ini sama dengan Villa Accacia yaitu 3,4 juta per malam.



Fasilitas ketiga villa ini diantaranya terdapat dapur, kulkas, air panas dan dingin, pemanas air, LCD TV, full bathroom amenities, shower, make up mirror, teko kopi dan teh, sarapan gratis dan kalian mendapatkan tiket gratis masuk ke Wana Wisata (Kebun Raya Baturraden). Untuk mendapatkan paket lengkap termasuk untuk makan siang atau makan malam, kalian juga bisa mencoba beragam makanan tradisional yang disediakan.




Wisata apa yang bisa kalian kunjungi disana
  1. Pancuran Telu
  2. Pancuran Pitu
  3. Taman Labirin
  4. Telaga Sunyi
  5. Curug Telu
  6. Curug Bayan dan Curug Gede
  7. Curug Penganten
  8. Curug Jenggala
  9. Lokawisata Baturraden, dsb.

Wana Wisata Resort Baturraden
Jalan Bumi Perkemahan Wana Wisata Baturraden
Kemutug Lor, Baturraden, Banyumas, Jawa Tengah

Contact Person:
Office: (0281) 681 616
Sista: 0813 9144 2211
Fajar: 0852 2788 8030
Adi: 0812 2594 863

BERLALU

Hampir setahun sudah.
Semuanya masih terbayang akan kesibukan kala itu.
Setahun sudah aku meninggalkan juga ditinggalkan.
Nyatanya belum juga terhapus di memoriku.
Tentang ketidaknyamanan, kerinduan, kesedihan, masa bertahan dan akhirnya memilih jalan pulang.

Kini aku sudah berada di titik luar yang lain.
Masih saja terbayang.
Padahal ingin ku kubur semua cerita masa itu.
Jalan ini masih ingin ku lalui lebih jauh.
Meski entah kapan akan bertemu.

Pilihan memang kadang tidak semudah semau kita.
Inginnya lurus, kadang berbelok.
Kadang terjatuh menabrak kerikil.
Sama seperti jalan menuju Semeru.
Naik turun semangatnya.
Letih untuk terus melangkah hingga sampai ke Ranu Kumbolo.

Bahkan berhenti di titik yang belum jua sampai.
Terlalu lama.
Diam, sesekali bayangan masa lalu kembali terbayang.
Rasa bersalah.
Menyesal karena salah.
Membela, manusia gudangnya salah.

Perjalanan lain ini nyatanya belum selesai.
Jalan yang dulu kau yakin sampai.
Tujuan, cita-cita, harapan dan impian.
Masih jauh dari kenyataan.
Aku masih di seperempat jalan.
Atau masih di luar titik balik.
Entah kapan akan sampai.
Semoga saja, waktu yang terbaik.

Mei 19, 2018

Full Speed Ahead Coffee - Tempat Nongkrong Asik Purwokerto

Kitchen bar table. Masih anyar banget kan.

Maraknya tempat ngopi alias kafe-kafe baru yang menjamur di beberapa kota Indonesia, membuat banyak pilihan untuk sekedar nongkrong, ketemu doi (klien) maupun ngerjain tugas. Warkop sekarang menjadi tempat yang asik untuk beragam tujuan. Nah, Untuk kalian para penggemar kopi, FSA (Full Speed Ahead) Coffee bisa menjadi salah satu tempat nongkrong untuk kalian kunjungi di Purwokerto. Kafe ini baru saja dibuka awal Mei lalu.
 
Ini interiornya gaes, what do you think?
Memasuki ruangan kafe ini, lampu pijar oranye sekilas sebagai penerang ruangan yang ada disana. Kita bisa memilih ruangan bebas asap rokok ataupun kalau kalian merokok, tenang gaes ada ruangan smoking room. Ya dua ruangan ini dibatasi pintu dan kaca. Ruangan di kafe ini terbilang cukup cozy. Furnitur kayu mendominasi meja bar, meja dan kursi tamu, dan beberapa ornamen sebagai hiasan seperti tempat lampu dan rak buku (pajangan).

Kafe ini menyediakan bermacam kopi dari penjuru Nusantara. Dari Gayo, Lampung, Sampit, Bali entah apalagi. Kalian pun bisa mencoba menu-menu yang tersedia. Harganya ada yang di bawah 10k, banyak juga yang di atas 10k. Kalau kalian tidak suka kopi, ada juga minuman non kopi yang ditawarkan. 

Mau? Lihat foto bawah.
Ada mojito, es coklat, squash, dan lain sebagainya. Untuk menu makanannya ada burger, roti bakar, pisang bakar, aneka gorengan, dan lain-lain.

Burgernya gede gaes, bisa buat dua orang.

Roti bakar keju milo. Gausah nanya rasa, pasti enak.
 
Boled goreng aka Cassava Fries
Suasana kafe yang terbilang berada di jalanan yang tidak cukup ramai memberikan kesan tempat ini sepi dari keributan lalu lalang kendaraan. Untuk kalian penikmat kafe dengan wifi dan colokan, tenang, disana juga bisa kalian dapatkan. Fasilitas lain seperti toiltet, musholla, dan area parkir yang cukup lapang sehingga membuat kita makin nyaman ketika berkunjung kesana. 

Mudah saja untuk menemukan tempat ini, lokasinya yang dekat Alun-Alun Purwokerto (pusat kota). Yuk cobain tempat nongkrong asik teranyar di Purwokerto.

Full Speed Ahead Coffe
Jl. Kranji No.37 Purwokerto Timur